ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 117


__ADS_3


"El," gumam Lea yang terkejut bukan main saat melihat keberadaan El dan baby Enzo di bangku taman.


Lea sedikit gugup juga panik saat ini.


Namun sebisa mungkin ia bersikap tenang dan normal saja.


"Tenang Lea tenang, semakin kamu gugup dia akan semakin tahu dan curiga," gumamnya lirih sembari mengatur napasnya.


Lea lalu menghampiri El dengan segala kegugupan dan ketakutan dalam dirinya saat ini.


"El," panggilnya yang pura- pura terkejut membuat El menoleh.


"Kalian sudah bangun? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya yang langsung menghampiri baby Enzo yang tampak sibuk dengan rotinya.


"Kami sedang jalan- jalan, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di sini?" tanya balik El sembari mengangkat baby Enzo dengan cepat sebelum Lea mengambilnya.


"Aku sedang menemui temanku," bohong Lea dengan tenang membuat El manggut- manggut.


"Seorang teman? Pria atau wanita?" tanyanya yang mulai mengintrogasi.


"Wanitalah," jawab Lea santai.


El lalu membopong baby Enzo sembari menatap cafe tempat Lea bertemu dengan temannya tersebut.


"Sepertinya temanmu begitu asyik sekali hingga kau lupa waktu dan melupakan kami berdua? Kau juga sering berteleponan dengannya secara sembunyi- sembunyi dariku, apa kalian sungguh berteman?" tanya El yang kini sedikit mulai emosi dan kesal kala Lea berbohong padanya.


Di mana El sudah tahu jika Lea sedang menemui Tera akhir- akhir ini seperti yang dikatakan pengawal wanita yang El minta untuk mendampingi Lea kemanapun ia pergi.


"Kamu kenapa sih? Kamu marah karena aku tidak pamitan tadi? Aku tidak tega membangunkanmu karena itu aku langsung pergi," beritahu Lea pada El.


"Tidak, aku tidak marah. Hanya saja sedikit penasaran dengan teman wanitamu, kamu pergi pagi- pagi buta untuk menemuinya, apa tidak bisa menungguku bangun lebih dulu agar aku bisa mengantar dan menemanimu?" Lea menghela napas pelan.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Waktunya baby Enzo makan siang," ajak Lea yang tak mau memperpanjang perdebatan ini.


"Kenapa kamu enggak bilang terus terang jika menemui Tera," Lea langsung diam dan menatap El lekat.


"Karena aku tahu, kamu tidak akan mengizinkannya," jawab Lea yang mana hal itu memang El benarkan, ia tidak suka dengan Tera, sekalipun ia sudah berubah menjadi lebih baik.


Rasanya El tidak bisa melupakan bagaimana dulu ia menyakiti wanitanya hingga membuatnya dalam bahaya.


Karena itu El selalu memberikan peringatan keras pada Lea untuk tidak menemuinya, namun sepertinya istrinya ini begitu keras kepala dan begitu mudah melupakan semua kejahatan Tera.


"Bukankah aku sudah memperingatimu beberapa kali untuk tidak menemuinya? Kenapa masih menemuinya?" tanya El dengan pelan tanpa nada tinggi.


Lea masih diam, entah kenapa kini ia merasa bersalah pada El.


"Apa kamu tahu seberapa cemas dan khawatirnya aku sejak tadi? Aku sangat takut kamu kenapa- napa saat bersamanya, kamu bahkan juga tidak memberitahuku jika akan pergi, jangan bilang jika akhir- akhir ini dia yang selalu menelponmu?" Lea diam membuat El membuang napasnya.


Lea menunduk merasa bersalah saat ini.


"Aku tidak marah denganmu, aku hanya ingin kamu berkata jujur, meski aku membenci dan bersikap keras pada Tera, jika kamu yang meminta untuk menemuinya, aku masih bisa memakluminya. Aku bisa pergi bersamamu, mungkin itu akan membuatku merasa tenang," ucapnya memberitahu Lea jika dala berumah tangga ia hanya ingin kejujuran di antara satu sama lain.


Lea menatap sepatunya dengan rasa yang amat sangat bersalah pada El saat ini.


"Iya maaf aku salah," ucapnya pelan membuat El menatap tak tega istrinya, namun El hanya ingin mengajarkan pada istrinya jika kejujuran sangatlah penting dalam sebuah hubungan terlebih rumah tangga seperti ini.


"Untuk lain waktu, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Meski ia sepupumu, aku tidak akan memberikan kelonggaran padamu untuk bertemu dengannya, setidaknya kamu harus meminta izin padaku lebih dulu untuk bertemu dengannya jika kamu masih ingin bertemu dengannya," serunya pelan lalu melenggang pergi begitu saja menuju mobilnya.


Tak lama pengawal wanita yang tadi mengantar Lea langsung menghampirinya.


"Mari nona, saya antar pulang," Lea tersenyum tipis dan mengangguk tanpa marah atau kesal pada pengawal tersebut.


El yang melihat Lea dari dalam mobilnya kini merasa cemas dan takut sendiri.


"Kira- kira papa terlalu keras enggak ya son sama mamamu? Jadi enggak tega lihatnya," gumamnya sembari menatap lekat Lea yang berjalan menuju mobilnya.


El membuang napas panjang dan menyalakan mobilnya untuk mengikuti mobil Lea dari belakang.


•••


Malam harinya, Lea benar- benar ingin menangis saat ini.


Bagaimana tidak, setelah perdebatan di taman tadi, El entah pergi kemana hingga sampai malam ini tak kunjung pulang juga.


Padahal Lea sudah masak sejak pulang dari taman tadi untuk makan siang, siapa yang tahu jika El tidak pulang sampai malam ini.

__ADS_1


Dan tadi sore, Lea masak lagi untuk makan malam nanti, tapi El tak kunjung pulang sampai saat ini.


"Dia kemana sih? Masak iya dia di rumah mama ngambek," gumam Lea yang mana sejak tadi ia sudah mandi dandan rapi dan wangi bahkan mengenakan dress yang kemarin dibelikan oleh Tesa demi untuk menyambut El.


Namun El sampai sekarang belum juga pulang.


Ceklek


Lea menoleh saat pintu kamar terbuka.



Terlihat El membopong baby Enzo yang terlihat sudah terlelap di gendongannya.


Setelah membaringkan putranya, El hendak bergegas mandi namun malah salah fokus dengan Lea yang duduk di atas ranjang dengan wajah yang terlihat sangat cantik juga gaun yang menggoda keimanan dirinya.


"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang?" tanya Lea pelan.


"Dari kantor terus mampir ke markas bentar," jawabnya dengan pelan tanpa ekspresi marah atau kesal.


Lea langsung turun dari ranjang saat melihat El melepas kemejanya menuju kamar mandi.


"Akan kusiapkan air hangat untukmu," serunya yang bergegas cepat masuk kamar mandi sebelum kedahuluan El.


El memejamkan matanya sekilas saat mencium aroma tubuh Lea ketika melewatinya.


"Astaga, bagaimana aku bisa marah jika mencium aroma tubuhnya aja bisa meluluhkan segala emosiku," gumamnya yang hampir jatuh pingsan hanya karena mencium aroma tubuh Lea.


"Airnya sudah siap," seru Lea tiba- tiba membuat El terkejut dan tersadar dari lamunannya.


El hanya mengangguk dan bergegas untuk mandi.


Lea lalu mengambilkan makan untuk El dan ia bawa ke kamar.


Percayalah, Lea melakukan semua ini selain karena ini kewajibannya, ia juga sedang berusaha untuk meminta maaf pada El.


Dan sepertinya El sedikit sulit untuk ia taklukkan.


Padahal tanpa Lea ketahui jika El sejak tadi berusaha menahan diri untuk tidak luluh karena pesonanya.


Lea mengangkat kepalanya saat El keluar dari kamar mandi.


El sedikit terkejut juga ingin tersenyum saat ini kala melihat Lea membawakan makanannya ke kamar.


El hanya mengangguk dengan ekspresi yang datar.


Namun sesampainya di walk in closet, ia melompat kegirangan dan berlarian ke sana- kemari saking girangnya.


"Tenang El tenang, kau hanya berusaha dirayu olehnya, tolong tahan egomu lebih keras agar ia menunjukkan sedikit usahanya untuk merayumu," gumamnya sembari menggigit baju yang hendak ia pakai.


El lalu keluar dari walk in closet untuk segera makan malam.


"Aku akan menyuapimu," seru Lea saat El duduk di sampingnya.


"Tidak, aku akan makan sendiri," tolak El dengan sangat- sangat terpaksa, di mana ia sebenarnya ingin sekali disuapi Lea.


El lalu makan dengan ditemani Lea di sampingnya.


Selesai makan Lea langsung membawanya ke dapur.


"Bodoh dasar bodoh, kenapa tadi kau menolak saat Lea mau menyuapimu," sesalnya yang mana ia benar- benar merasa sangat menyesal menolak tawaran emas tadi.


"Coba aja tadi disuapi olehnya, jangankan satu piring satu loyang aku habiskan, mana dia cantik banget tadi arghhhhh," sesalnya sembari menggigit gemas bantal sofanya.


El langsung bersikap cool dan datar saat pintu terbuka dan menampilkan Lea.


El langsung beranjak dari sofa untuk segera baring di ranjangnya.


Lea yang melihat hal itu ingin rasanya menangis saat ini.


Ia lalu dengan langkah yang lemas ikut naik ke atas ranjang sedangkan El sudah gila menggigiti gulingnya sejak tadi.


"Apa kau masih marah denganku?" El membuka mulutnya tak percaya kala merasakan tangan Lea memeluk dirinya dari belakang.


El hanya diam di mana ia bukan marah namun sedang menahan rasa salting brutalnya yang tak bisa ia hentikan saat ini.


Hingga El diam kala mendengar suara isak tangis.

__ADS_1


Apa Lea menangis?


Perlahan El berbalik untuk melihat istrinya dan benar saja Lea dengan wajah yang menggemaskannya terisak sembari memegangi kaos El.


"Hei kenapa nangis?" tanya El yang langsung memeluk Lea dan menciumi puncak kepalanya.


Tangis Lea semakin pecah namun terdengar lucu bagi El saat ini.


Di mana ia ingin tertawa namun juga tak tega kala melihat istrinya menangis.


"Maafin aku karena berbohong dan tidak jujur denganmu," jawabnya dengan tersedu- sedu membuat El berusaha kuat menahan bibirnya agar tidak tersenyum.


El mencium begitu lama puncak Lea hingga Lea menguraikan pelukannya dan mendongak menatap wajah tampan nan seksi El.


"Kamu masih marah enggak? Mau maafin aku enggak?" tanyanya dengan lucu membuat El tak lagi bisa menahan tawanya.


El tertawa membuat isak tangis Lea terhenti.


El berhenti tertawa dan mulai serius.


"Iya aku maafin," ucapnya sebelum Lea berubah menjadi singa.


"Sungguh?" El mengangguk mantap.


"Bohong," elak Lea yang tak percaya membuat El tertawa.


"Iya sayang sungguh," jawab El dengan gemas sembari mencium lama kedua mata Lea yang sembab serta hidungnya yang sudah memerah.


"Ininya belum," rengek Lea dengan manjanya membuat El memalingkan mukanya untuk menahan senyumnya kala Lea menunjuk bibirnya yang sejak tadi El hindari demi menahan diri.


El sedikit kaget kala Lea tiba- tiba mencium bibirnya.


"Bagaimana jika kita bulan madu sebagai gantinya hari ini?" tawari Lea yang mana hal itu membuat El berbinar.


"Sungguh? Kamu mau bulan madu? Kapan?" tanya El dengan sangat antusias di mana tangannya sudah menyelusup ke dalam baju istrinya bagian belakang.


"Terserah kapan kamu senggang," jawabnya membuat El begitu girang kala jawaban dan aksinya melepas pengait bra sangat memuaskan.


"Bagaimana dengan Switzerland?" Lea mengangguk membuat El begitu girang.


"Tapi sama baby Enzo juga ya?" sontak sneyuman itu langsung pudar.


"Kok sama baby Enzo, baby Enzo biar sama mama, namanya honeymoon itu berdua sayang bukan bertiga," protesnya yang tak ingin ada penganggu saat ia ingin fokus bekerja keras mencetak generasi El Zibrano nantinya.


"Kasian kalau mama yang ngurus, emang kenapa sih kalau bertiga, biar seru tahu daripada berdua," El dibuat ta percaya dengan jawaban istrinya ini.


"Aku yakin kamu pasti akan lebih mengutamakan dan memprioritaskan baby Enzo nantinya di sana," dumelnya sembari mengusap- usap lembut punggung polos istrinya.


Lea yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis.


"Enggak dong, kalian berdua prioritasku yang paling utama, aku akan bersikap adil untuk kalian," jawab Lea sembari merapikan rambut El.


El langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lea tanda ia sedang manja dan butuh energi.


"Kenapa kamu bisa sesayang itu dengan putraku yang jelas- jelas bukan darah dagingmu?" tanyanya dengan penasaran.


"Karena ia putramu itu artinya ia putraku juga,"jawabnya sembari mengelus lembut tengkuk belakang El.


El mengecupi leher jenjang Lea dan mengecup singkat bibir tipis nan manis itu.


"Sepertinya energiku hampir habis, aku butuh energi malam ini," bisiknya sembari mengusap lembut perut rata Lea.


Lea yang paham maksud El langsung mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Kalau begitu aku akan mengisi energimu," jawab Lea yang langsung memangut bibir seksi El.


El tersenyum kala istrinya begitu paham dan peka dengan maksud ucapannya.


"Akhhhh," desah Lea kala El meremas benda kenyalnya dengan sedikit kuat.


"Waktunya minum susu," soraknya dengan girang membuat Lea memukul lengan kekar El dan begitu malu saat ini.


"Bagaimana jika pengawal mendengar ucapanmu," tekan Lea sembari mencubit gemas perut El.


"Biarin, biar mereka iri denganku," jawabnya yang langsung cakap dan sigap dalam melucuti dress Lea.


Lea tak bisa menahan senyum juga rasa malunya saat ini karena ucapan frontal El.

__ADS_1


Dan pergumulan panas itu berlangsung sangat lama mengingat tuan El Zibrano begitu bersikeras dalam mencetak benihnya.


__ADS_2