ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 125


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai makan malam, Ziko dan yang lainnya berkumpul di ruang tengah.


"Kalian enggak pulang? Biasanya bucin banget sampek lupa temen," sindir Ziko pada Glen dan Sarvel.


"Cewek kita lagi sibuk, nanti pukul 8 baru pulang," jawab Sarvel yang diangguki oleh Glen karena Flo dan Berlyn memang ada urusan yang sama.


"Yaa bangsat, kasih tahu di mana koperku? Aku sungguh ingin kembali ke negaraku," ucap Zen dengan perut yang penuh dan kenyang.


"Memangnya di mana kopermu?" tanya Glen sembari makan kuaci.


"Entah, di mana si bangsat ini menyembunyikannya," jawab Zen yang sudah terlalu kesal dan tertekan dengan Ziko.


"Tunggu, bukankah waktu itu kita semua sembahyang?" Zen mulai tertarik dan menatap datar Sarvel disaat yang lain mengangguk.


"Kita semua dapat pasangan itu artinya doa kita terkabul bukan?" Glen mengangguk kecuali Gen- Z.


"Bahkan Alvino yang kukira akan menjomblo selamanya karena sikap emosinya yang meledak- ledak ternyata malah dapat pasangan yang unyu- unyu, di mana Tuhan memasangkan dia sama Shila yang super duper 3G, lalu apa yang salah dengan mereka berdua?" Ziko dan Zen langsung menatap Sarvel datar.


"Iya juga ya, bahkan yang mengajak kita dan yang memimpin doa Ziko, kenapa ia malah tetap jomblo? Ini yang salah doanya apa takdir dewa, heran gue," seru Glen membuat Ziko berdecak.


"Lagian aku juga tak ingin dulu punya pasangan. Punya temen satu aja udah cukup tertekan apalagi punya pasangan, aku tidak ingin merontokkan rambutku di usia muda apalagi membuatnya banyak uban," Zen yang mendengar pengakuan palsu Ziko melebarkan kedua matanya.


"Apa kau bilang? Tertekan karena punya teman sepertiku? Wahh aku sungguh akan membunuhmu saat ini juga," seru Zen yang langsung ke belakang mengambil sesuatu.


Sarvel dan Glen yang melihat wajah Ziko pucat pasi kini sudah tak bisa menahan tawanya.


"Sini kau," teriak Zen yang mana ia tengah memegang pisau buah.


"Yaa, kenapa kau marah? Apa kau temanku? Tempo hari kau menolak kuanggap sebagai temanku, dan kini kau marah saat aku menyebutkan temanku yang lain, kau kira temanku hanya kau saja?" Zen menelan salivanya lalu melemparkan pisau buahnya ke atas meja.

__ADS_1


Ziko langsung menghembuskan napas panjang membuat Sarvel dan Glen tertawa.


"Malam semua," sapa Alvino yang terlihat menenteng banyak kantong plastik.


"Wihh yang bulol keluar gua juga nih," ejek Sarvel sembari melihat apa yang Alvino bawa.


"Gimana, udah berangkat Shila?" Alvino mengangguk dengan senyum yang amat sangat manis.


Hingga mereka baru menyadari sesuatu pada diri Alvino.


Jaket hitam dengan tulisan timbul yang menyala.


"Harta Tahta Shila," baca Ziko membuat Alvino tersenyum malu- malu.


"Wahh apa kau sungguh jatuh cinta?" tanya Glen mengejek Alvino.


Detik kemudian ia berguling- guling di sofa sembari menghentak- hentakkan kakinya.


"Yaaa bisa diam enggak?" teriak Zen yang mana hal itu langsung membuat Alvino diam dan duduk dengan tegak.


Semua langsung bertepuk tangan dan mengacungkan jempol pada Zen.


"Kurasa jiwa kalian tertukar," gumam Ziko yang berada di antara Alvino dan Zen.


"Maaf, membuat kalian iri, aku lupa jika kalian berdua jomblo," ejeknya pada Gen- Z yang mana hal itu membuat Sarvel dan Glen tertawa.


"Eh tunggu, aku punya ide bagaimana agar kalian tidak kesepian dan terus jomblo," seru Sarvel yang langsung bergegas membuka laptopnya.


Ziko dan Zen menatap Sarvel dengan rasa yang penasaran juga sedikit malu.

__ADS_1


"Nah ketemu, kalian berdua kemarilah," panggil Sarvel pada Ziko dan Zen.


Keduanya lalu menghampiri Sarvel untuk melihat apa yang ia lakukan untuknya.


"Kalian berdua bisa cari pacar lewat ini, di sini banyak banget cewek- cewek cantik dari berbagai negara, kalian berdua bisa pilih atau seleksi mereka mana yang cocok atau yang wajahnya hampir menyerupai Lea," jelas Sarvel membuat Zen berdecak.


"Kau kira kita ini tidak laku?" tanyanya dengan sensitif dan sedikit sewot.


"Siapa yang mengatakan jika kalian tidak laku, aku hanya membantu kalian agar ada teman hidup yang bisa segera menemani kalian, takutnya kalau kalian kelamaan bersama, akan timbul benih- benih kecil dari hati," gurau Glen yang diangguki oleh Sarvel.


"Yaa, coba pencet ini," pinta Ziko yang mana sejak tadi ia sudah memilih membuat Zen tak percya melihat hal itu.


"Bahkan ia dengan mudah memilih perempuan layaknya memilih daftar menu," dumel Zen sembari duduk di samping Sarvel.


"Kalian bisa memilih lebih dari satu lalu seleksi mereka mana yang masuk idaman kalian," jelas Sarvel membuat Alvino dan Glen tertawa.


"Bagaimana bisa ia mengajari pemula ini untuk bersikap buaya," gumam Alvino heran.


"Jadi buaya sih enggak papa masalahnya ada wanita yang mau enggak," sahut Glen yang mana hal itu membuat Alvino tertawa.


Sarvel langsung beranjak dari sofa setelah laptopnya menjadi barang paling berharga bagi mereka berdua.


"Udah ayo pulang," ajak Sarvel sembari menyambar jaketnya.


"Lalu mereka berdua?" tanya Glen.


"Udah tenang, biarkan mereka menyeleksi wanita dari semua negara, dan ini cara ampuh buat mereka berdua agar tidak jatuh cinta satu sama lain," bisik Sarvel di akhir kalimat membuat Glen dan Alvino tertawa.


Mereka bertiga lalu pulang dan membiarkan Ziko dan Zen sibuk dengan seleksinya.

__ADS_1


__ADS_2