ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 73


__ADS_3

FLASHBACK ON


Kantor Zen


Zen yang baru saja berteleponan dengan Lea kini mendadak murung.


"Kasihan banget, siapa yang tahu jika ternyata dia selama ini kesusahan," gumam Zen yang meratapi nasib Lea di Milan.


"Dasar sepupu sialan, pengin banget rasanya nelan dia hidup- hidup," umpatnya pada Tera setelah mendengar semua cerita tentang Lea barusan.


Zen menatap pintunya kala mendengar suara ketukan dari luar.


"Masuk," serunya membuat pintu terbuka dan menampilkan segerombol orang- orang berbaju hitam.


Zen yang merasa digerebek, kini sedikit panik.


"Siapa kalian?" tanya Zen dengan takut.


Pria paling tampan yang berdiri paling depan itu tampak menunjukkan identitasnya.


"Kami pengawal dari perusahaan JM Barrie, perkenalkan saya Nico Resalvet, tangan kanan sekaligus pengawal pribadi Lea Cornelio," ucapnya sembari mengulurkan tangannya pada Zen.


Zen dengan sedikit ragu menjabat tangan Nico namun saat mendengar nama perusahaan raksasa itu Zen menjadi percaya dan yakin 100% jika mereka memang orang- orang Cornelio.


"Apa benar anda sahabat dari Lea Cornelio?" Zen mengangguk dengan mantap.


"Sudah hampir 1 bulan kami tidak bisa menghubungi tuan Cornelio ataupun Lea, apa mungkin anda tahu di mana ia sekarang? Kami sedikit kesulitan menghubungi kantor," tanyanya pada orang yang tepat.


"Kalian sungguh orang- orangnya om Cornelio?" Nico sedikit kesal hingga ia menunjukkan foto- foto dirinya dengan Cornelio ataupun Lea.


Zen yang percaya sontak langsung menjelaskan semuanya pada Nico.


"Boleh pinjam ponselmu sebentar, kami harus melacak lokasinya," Zen mengangguk dengan mantap.


Nico segera melacak keberadaan Lea dan tak butuh waktu lama untuk menemukannya.


"Terima kasih, " ucap Nico sembari mengembalikan ponselnya pada Zen.


Zen langsung menahan tangan Nico yang hendak pergi.


"Tolong bawa kemari Lea dengan selamat, " pintanya dengan sangat tulus.


"Itu pasti, " jawab Nico dengan tegas.


Mereka lalu pergi membuat Zen bisa sedikit bernapas lega.


"Semoga saja mereka bisa membawa Lea kemari, kasihan sekali dia di sana. Ia pasti menderita karena sepupu gilanya itu, " dumelnya dengan kesal di akhir kalimatnya.


•••


2,5 jam kemudian


[Penerbangan Washington DC ke Paris/ Milan]


Maaf kalau salah, saya cari di intenet waktu yang dibutuhkan segitu.


Beritahu saya jika saya salah,


Nico dan anak buahnya sudah sampai di Milan.


Dan kini mereka tengah menuju di titik lokasi tempat Lea berada.


Nico menghentikan mobilnya saat mereka sudah berada di depan mansion El tepat pada titik lokasi ponsel Lea.


"Ternyata ia berada di rumah seseorang yang ternama, cepat cari tahu mansion siapa ini," perintahnya pada anak buahnya.


Dengan berbekal laptop anak buah Nico mencoba mencari tahu tentang mansion yang Lea tinggali.


"Tuan, lihatlah ini," ujar anak buahnya dengan sedikit panik.


Nico langsung membaca tentang pemilik mansion terbesar ini.


"Aku pernah mendengar nama ini, ia memang orang ternama," gumam Nico sembari menutup laptopnya dan menelisik ke dalam mansion untuk mengatur strategi.


"Bawa kemari obat- obatan yang kita bawa," pintanya membuat anak buahnya langsung memberikan koper yang berisi obat- obatan khusus.


Nico langsung memberitahukan strateginya untuk bisa masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


"Aku akan membawa Lea lewat pintu belakang, jadi berusahalah menahan para pengawal itu lebih lama, dan aku butuh 4 orang untuk ikut masuk bersamaku," pintanya pada mereka.


"Maaf tuan, bagaimana cara untuk bisa menahan mereka lebih lama selagi anda mengeluarkan nona Lea? " Nico tampak berpikir keras.


"Sumbat filter bahan bakar, rusak akinya atau alternatornya, yang terpenting tahan mereka selama mungkin, " beritahunya pada mereka.


Mereka mengangguk dan beberapa dari mereka langsung turun dari mobil untuk pindah ke mobil satunya yang akan mereka rusak untuk mengalihkan perhatian para pengawal itu.


Nico dan keempat anak buahnya yang tersisa kini langsung putar balik untuk menempatkan mobilnya di pintu belakang mansion El.


Kini Nico sudah sampai di dalam mansion El yang mana hampir semua pintu terdapat kunci pintu e-Guard yang mana hanya dapat di akses dengan kartu Rfid atau kartu Mifare.


Dan luar biasanya Nico bisa mengatasi masalah kecil tersebut dengan mudah.


"Kalian berdua pergilah ke ruang keamanan untuk mematikan semua rekaman CCTV-nya dan hapus sebagian yang merekam saat kita masuk saat ini. Aku akan menelpon kalian jika sudah selesai, " beritahunya pada anak buahnya.


Mereka mengangguk dan berpisah di ruang tengah.


Nico langsung menaiki tangga untuk menuju lantai atas.


Secara perlahan Nico membuka pintu paling ujung di mana itu ruang rawat Cornelio.


"Paman Cornelio, " gumamnya yang terkejut saat melihat tuannya terbaring di atas ranjang.


"Biar kami yang bawa keluar tuan Cornelio, anda cari saja nona Lea, " ucap anak buahnya.


Nico hanya mengangguk dan beralih ke kamar berikutnya.


Dan tepat sekali kini ia langsung menemukan kamar El.


Di mana di sana terlihat ada Lea.


Dengan perlahan Nico menghampiri ranjang untuk bisa membawa keluar Lea.


Dengan hati- hati Nico membangunkan Lea yang mana posisinya ia sedang dipeluk dari belakang oleh El.


Lea terbangun dan membulatkan kedua matanya saat melihat Nico berada di depannya.


Nico langsung menunjukkan ponselnya untuk memberitahu Lea.


Lea membaca intruksi dari Nico dan mengangguk pelan.


Secara perlahan Lea berbalik menghadap El dan sedikit ragu untuk melakukannya.


Lea mengambil napas yang paling dalam dan mengecup singkat pipi El bersamaan dengan sapu tangan yang ia biuskan pada El.


Mungkin sekitar 30 detikan Lea menempelkan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius itu pada hidung El, kini ia segera turun dari ranjang sebelum pengawal datang.


Dengan hati yang merasa bersalah dan tak tega, Lea menatap kembali El yang begitu pulas karena obat bius.


Nico yang melihat hal itu langsung menarik tangan Lea untuk cepat keluar dari sana.


Dan misi Nico pun berhasil dengan sempurna dan lancar untuk bisa membawa keluar Lea dari mansion El.


Dan kini Nico membawa kembali Lea ke Washington DC untuk mengurus perusahaan utama papanya sekaligus melakukan pengobatan pada Cornelio.


Untuk perusahaan yang di Milan saat ini yang direbut Tera, itu hanyalah anak cabang, untuk yang pusatnya ada di Washington DC.


Karena itu Lea tidak begitu peduli saat Tera dan Graham merebutnya.


•••


Keesokan paginya di mansion Cornelio ada Lea yang duduk termenung dengan secangkir kopi di tangannya.


Nico, asisten sekaligus tangan kanan Lea, juga sahabat kecilnya, sontak langsung menghampiri Lea saat ia melihatnya duduk termenung di meja makan.


"Apa sesuatu menganggu pikiranmu?" tanya Nico yang langsung duduk di depan Lea sembari mengambil selembar roti tawar.


Lea membuang napas gusar, menyeduh kopinya lalu menatap Nico.


Singkat cerita Lea langsung memberitahu segalanya pada Nico tentang apa yang terjadi di Milan.


"Jangan kembali ke sana, itu sangat bahaya, apalagi pria yang semalam itu, apa kau tahu dia?" tanya Nico dengan tatapan yang tak suka dan marah pada Lea layaknya seorang kakak laki- laki.


"Tahu, El Zibrano kan? Mafia Utara yang memimpin Klan Wolf? Siapa yang tak kenal dia, semua orang mengetahuinya," jawabnya dengan gamblang dan santai tanpa terkejut atau takut saat tahu kenyataan yang sebenarnya tentang El Zibrano.


"Bagaimana bisa kau terlihat begitu biasa saja dan tak terkejut dengan identitas dirinya? Apa kau buta karena kau mencintainya?" Lea berdecak kesal kala Nico selalu mengomel mewakili papanya.

__ADS_1


"Siapa juga yang mencintainya?" ketusnya dengan kesal membuat Nico semakin senang menggodanya.


"Mana ada penjahat membius musuhnya dibonusi dengan kecupan," ejeknya sembari melahap rotinya.


Lea melayangkan tatapan garangnya membuat Nico tertawa.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang? Ingat kata papamu, jangan pernah terjun ke dunia yang dulu pernah papamu lakukan, paman Cornelio akan sangat marah saat tahu hal itu," peringati Nico yang seakan tahu isi otak Lea.


Lea berdesis kesal kala Nico seakan tahu segala pikiran dan tingkah lakunya.


"Aku hanya ingin membuktikan, apakah El atau bukan yang membunuh Nancy dan paman Graham," serunya memberitahu Nico.


"Tunggu, katamu tadi setiap kali kamu terluka seseorang terdekatmu akan tewas? Seperti ucapan El?" Lea mengangguk mantap.


Nico terdiam sejenak dan tampak berpikir sesuatu.


"Aku tahu kau harus apa?" ujar Nico dengan tiba- tiba yang mana ia tampak terlihat begitu bersemangat.


"Berhubung kau sekarang di sini, ia pasti akan sangat marah dan kesal saat tidak menemukanmu. Dan inilah waktu yang tepat untuk mencari tahu pembunuh Nancy dan paman Graham, jika benar dia pembunuhnya, ia pasti akan mengincar orang- orang terdekatmu," ujar Nico yang masuk akal di mana Lea setuju dengan rencana tersebut namun beberapa saat kemudian wajah Lea tampak cemas.


"Tidak, bagaimana jika ia melukai Oliv,Tera atau Zen? Karena perjodohan bulan lalu di mana kali pertamanya aku bertemu dengan Oliv, El mendatangi gedung agensinya dan mencekiknya hingga pingsan dan lehernya kebiruan hanya gara- gara Oliv mencekikku malam itu," ucap Lea yang kini sangat mencemaskan Oliv dan Tera.


Nico tampak mengepalkan tangannya saat mendengar hal itu.


Di mana Oliv adalah cinta pertamanya Nico, sayang sekali Oliv mencintai Alvaro hingga ia tewas sedangkan Nico mencintai Oliv hingga detik ini secara sepihak.


"Lalu apa Tera tewas setelah menembakmu?" tanya Nico menanyakan tentang sikap El pada Tera.


Lea langsung teringat bagaimana hari itu saat dirinya dan Tera berselisih bahkan ditembak olehnya, El terlihat bisa menahan emosinya dan tidak terlihat begitu gegabah.


Dengan lemah Lea menggelengkan kepalanya.


"Dan kini waktu yang tepat untuk kamu tahu yang sebenarnya siapa pembunuh Nancy dan paman Graham, karena ia akan mendatangi Zen setelah kemarin malam kamu menelponnya," ucap Nico pada Lea.


Lea terlihat begitu ketakutan dan cemas saat ini.


"Jika kau mencintainya, kau harus percaya jika bukan dia pelakunya," tegas Nico pada Lea.


"Tapi bagaimana jika saah satu dari mereka atau ketiganya tewas karenaku?" Nico menghela napas gusar.


"Kau percaya atau tidak dengannya?" tegas Nico sekali lagi pada Lea dengan sedikit garang.


Lea menelan salivanya dan mengangguk ragu di mana ia sangat cemas pada mereka bertiga.


"Kamu tenang saja, aku akan mendampingi Zen untuk berjaga- jaga jika El datang, dan memerintahkan beberapa anak buah yang lainnya untuk mengawasi Oliv dan Tera dari El," katanya dengan pelan membuat Lea tampak berbinar kala mendengar hal itu.


"Terima kasih ya, kau memang terbaik," ucapnya yang langsung menghampiri Nico dan memeluknya sekilas.


"Kalau begitu aku akan menemui Zen," pamitnya yang langsung pergi.


"Jangan lupa dengan pengawal," teriak Nico dengan keras.


"Siap bos," sahut Lea dari luar membuat Nico tersenyum mendengarnya.


Nico kini langsung memberikan perintah pada anak buahnya untuk menjaga Oliv dan selalu melaporkan setiap jamnya tentang kondisinya.


FLASHBACK OFF


•••


"Jadi gitu ceritanya," ucap Lea setelah mendongeng begit panjang lebar.


"Oh jadi si Nico yang membawamu pergi dari sini? Sepertinya aku harus bertemu dengannya, ia sungguh cerdik dan pandai dalam membuat rencana hingga membuatku hampir gila hanya karena memikirkanmu," ucapnya sembari mengusap- usap lembut punggung Lea.


Lea hanya tertawa kecil membuat El langsung menyerbu wajahnya.


"El geli," ujarnya kala El menciumi wajahnya.


"Aku jadi penasaran seperti apa rupa Nico hingga ia memiliki otak yang hampir menyamaiku," ucapnya dengan berbangga diri membuat Lea tertawa dan menggoda El.


"Ia sangat tampan dan tinggi, ia menjadi pria idaman di Washington DC, karena pesonanya memang sangat luar biasa sempurnanya, bahkan terkadang saat bersamanya aku hampir jatuh cinta dan lupa jika ia teman masa kecilku karena saking tampannya," godanya pada El.


El yang mendengar hal itu sontak langsung melepas pelukannya pada Lea.


"Sepertinya usahaku sedikit sia- sia untuk bisa membuat perutku jadi sixpack jika saingannya teman masa kecilmu," ucapnya yang langsung beranjak dari ranjang meninggalkan Lea.


Lea yang mendengar hal itu sontak langsung tertawa saat melihat El tampak jealous dengan! Nico.

__ADS_1


"Sekalipun saingannya cinta pertamamu, aku akan tetap mencintaimu dengan brutal dan mati- matian, persetan dengan siapa pilihanmu nanti," teriak El dari dalam kamar mandi membuat Lea tertawa kecil.


__ADS_2