
Sedangkan di markas ada Ziko yang tengah menatap Zen menata baju- bajunya di dalam koper.
"Yaa, apa kau sungguh akan kembali ke LA?" Zen mengangguk membuat Ziko membuang napas berat.
"Yaa tolong pikirkan sekali lagi, apa kau sungguh tega meninggalkanku sendiri di sini? Kita sudah akrab akhir- akhir ini, ayo jadi teman sehidup semati," ucap Ziko dengan mendramatisir membuat Zen membelalakkan kedua matanya lalu menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak, terima kasih. Berteman 2 bulan denganmu saja sudah cukup membuatku gila dan tertekan, tidak untuk seumur hidup apalagi semati," tolaknya dengan terus terang tanpa perasaan.
"Yaaa, kenapa kau sangat jahat sekali, kukira hanya El yang paling jahat ternyata masih ada kau," serunya dengan sedikit mendumel.
Zen membuang napas gusar lalu menatap Zen.
"Kau sudah memesankan tiket untukku kan?" Ziko mengangguk dengan malas sembari menarik- narik baju Zen.
"Ayolah Zen tetaplah di sini denganku, aku tidak punya siapa- siapa lagi selain kau, semua sudah sibuk dengan pasangannya," mohonnya dengan memelas.
"Kalau begitu cari pasangan agar kau tak kesepian dan saat tertekan kau ada temannya," suruh Zen dengan jahatnya.
Zen menatap kopernya yang sudah siap angkut.
"Kalau gitu tinggal nunggu berangkatnya, semua udah beres jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya pada Ziko.
"Yaa, kau sungguh akan kembali ke LA?" pertanyaan untuk kesekian kalinya.
"Kau tanya sekali lagi kujahit bibir bawahmu dengan dagumu," ancamnya pada Ziko di mana Zen capek menjawabi pertanyaannya dari tadi.
"Ayolah Zen, jangan sekarang, tunggu 2 minggu lagi setelah aku menemukan pasangan atau teman bermain," pintanya sembari menggelayuti lengan Zen.
"Kau kira menemukan pasangan seperti mencari anak ayam? Yang benar saja, 2 minggu langsung dapat pasangan? Untung kalau manusia yang mau denganmu, jika orang gila atau lansia, kan bisa bahaya," oloknya yang tak percaya dengan pemikiran Ziko.
__ADS_1
"Alah bodoh amat, nanti kau bantu seleksi, lalu kau boleh pergi ke LA setelah aku ada pasangannya, jadi aku tidak selamanya tertekan dengan El dan lainnya," jelasnya pada Zen.
Zen melepaskan tangan Ziko dan langsung beranjak dari ranjangnya.
"Sekalipun kau menangis susu, aku tak akan tinggal di sini, sudah cukup 2 bulan ini aku sial dan tertekan bersamamu, saatnya aku kembali ke LA untuk hidup nyaman dan tenang," serunya sembari melenggang pergi keluar kamar.
Ziko dengan cepat langsung menyusul Zen keluar kamar.
"Yaa, bagaimana jika kita jalan- jalan sekitar markas?" ajaknya pada Ziko sembari menunggu jam terbangnya nanti.
Dengan malas dan lesu Ziko mengangguk sembari mengajak anjingnya Alvino.
Mereka berdua lalu jalan- jalan di sekitar markas hanya untuk berkeliling atau sekedar makan buah yang banyak tertanam di sekeliling markas.
"Yaa, berapa banyak uang yang El habiskan hanya untuk membangun markas yang seluas satu daerah ini?" tanya Zen yang dibuat terperangah kagum dengan luas markas yang ia kira kecil tersebut.
Zen yang mendengar jawaban Ziko ingin sekali menendang pantatnya saat ini.
"Yaa, buah apa ini?" tanya Zen yang tiba- tiba berhenti di dekat pohon buah tersebut.
"Buah jeruk," jawab Ziko asal sembari memandangi buah merah tersebut.
"Jeruk? Sejak kapan jeruk warnanya merah?" gumam Zen yang merasa penasaran dan ingin mencobanya.
"Karena terkena sinar matahari jadi kulitnya berubah jadi merah, sama seperti kita, jika kau terus berjemur kulitmu akan berubah jadi hitam," jelasnya dengan sedikit kesal.
"Memang buah bisa berubah kulitnya?" Ziko mengangguk membuat Zen semakin dibuat penasaran dengan hal itu.
"Coba ambilkan, aku ingin mencoba jeruk khas Italia ini, aku sangat penasaran bagaimana rasa jeruk berkulit merah ini," serunya dengan semangat 45 nya.
__ADS_1
Ziko berdecak namun ia tetap melakukannya membuat Zen tersenyum.
"Anjing, kemari kau," anjing kuning itu dengan patuh menghampiri Ziko.
"Pegangi tanganku," serunya sembari menjulurkan tangannya pada anjing Alvino.
Zen membelalakkan kedua matanya kala melihat aksi Ziko.
"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada hewannya, lalu siapa yang anjing saat ini?" gumam Zen sembari menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Ziko.
"Sabar ya njing, sedikit tertekan bersamanya akan membuatmu merasakan rasanya jadi manusia," serunya pada anjing Alvino.
"Nah," ucap Ziko sembari memberikan buahnya pada Zen.
Dengan sangat antusias Zen langsung memakannya.
"HUEK," Zen langsung memuntahkan kembali gigitan pertamanya.
"Yaa, ini jeruk jenis apa? Kenapa rasanya sangat sepet sekali?" tanyanya pada Ziko sembari memejamkan matanya sebelah.
Ziko langsung merebut buah merah itu dari tangan Zen.
Ia lalu menggigitnya dan terlihat biasa saja.
"Ah aku baru ingat, ini buah persak bukan jeruk. Biasanya manis sih, berhubung mataharinya terik jadi sepet," jawabnya dengan santai membuat Zen tak percaya dengan hal itu.
"Dasar anjing," umpatnya sembari melemparkan buah persak itu pada Ziko yang sudah melenggang pergi begitu saja.
__ADS_1