ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 23


__ADS_3

Keesokan paginya Lea terbangun kala merasa berat pada tubuhnya.


Perlahan ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga terbuka sempurna.


Lea sedikit silau kala sinar mentari sedikit menembus gorden dan mengenai wajahnya.


Tunggu?


Seperti ada yang tidak beres.


Lea seperti merasakan sesuatu yang hangat pada benda kenyalnya.


"Akhh," ceplos Lea mendesah kala El meremas sekilas benda kenyalnya.


Lea mendelik kesal dan menyibak selimutnya.


Terlihat tangan El sudah berada di dalam bajunya.


Lea sedikit menoleh ke belakang dengan susah payah di mana El memeluknya erat.


Lea dengan cepat mencoba menarik tangan El untuk keluar dari bajunya.


Sayang sekali, semakin ia menarik tangan El, El akan semakin meremasnya.


"Yaaa! Keluarkan tanganmu," pekiknya dengan kesal.


El yang memang sudah bangun sejak tadi dan hanya berpura-pura tidur kini terkikik geli.


"Kau mau kemana sayang? Ini masih pagi," ucapnya dengan serak sembari menarik tubuh Lea untuk melekat padanya ditambah remasan pada benda kenyalnya kini begitu menggelikan dan sedikit nikmat.


Lea tak kehabisan ide, ia berusaha mencubit sekeras mungkin paha El.


Namun hal itu malah membuat El tertawa.


"Akhhh," desah Lea kala El menggigit gemas tengkuk belakangnya.


"Akhh le-lepas ah kan," desah Lea menggelinjang kala terasa geli pada tengkuk belakangnya.


El lalu membalik tubuh Lea untuk terlentang.


"Yaaa! Lepaskan sebelum aku menghajarmu," ancam Lea sembari menarik kaos El.


El tertawa geli kala mendengar ancaman itu.


"Bagaimana bisa kamu mengancamku di saat kamu sudah berada di bawah kungkunganku?" tanyanya sembari *******- ***** lembut benda kenyal Lea.


DUGH


"Arghhh," teriak El kala Lea menendang ***********.


Lea segera bangun dan turun dari ranjang untuk menyelamatkan diri dari si mesum.


Kedua mata Lea sedikit membulat saat melihat bra-nya sudah tergeletak di lantai.


"Aish, bandit ini," umpatnya sembari menyambar cepat bra-nya dan segera ke kamar mandi.


Sedangkan El masih guling-guling di atas ranjang sembari meringis kesakitan.


"Bagaimana bisa tendangannya begitu kuat mengalahkan Beckham," gumam El heran dengan kekuatan Lea.


Terdengar suara gemericik air membuat El berhenti mengerang.


Senyum devil itu sontak terbit pada bibir El.


Dengan sedikit kesulitan ia mengambil remote kontrol di dalam laci untuk membuka gorden coklat tersebut.


Tak lama terdengar suara baby Enzo bangun.


El dengan cepat langsung mengambil baby Enzo dan membawanya ke ranjang.


"Jangan nangis ya son, kita lihat mamamu mandi. Setelah ini minum susu bersama, ok?" gumamnya pelan sembari berbaring di samping putranya.


Keduanya menatap kaca transparan itu layaknya menonton bioskop.


Sekali-kali El tersenyum atau tertawa kala melihat tubuh Lea yang memang tidak terlalu jelas namun dari kaca transparan itu El bisa memastikan jika itu tubuh yang sangat ideal baginya.


"Hei son bagaimana menurutmu? Kau belum pernah melihat layar lebar seindah ini kan? Ini namanya nikmat duniawi," serunya pada baby Enzo.


Baby Enzo tampak tertawa kecil membuat El menoleh.


"Wah son, kau kini persis sepertiku. Kau tahu wanita cantik sejak dini," gumamnya yang memuji putranya.


Baby Enzo tampak tertawa lagi sembari mengangkat kakinya hendak meraih jempol kakinya.


Klek


El seketika panik kala mendengar suara pintu dibuka.


Dengan cepat ia menutup gordennya dan berpura-pura menimang baby Enzo.


"Ayo son menangislah, apa kau tak ingin minum susu?" pintanya dengan lirih sembari berdrama menimang putranya dengan sebaik mungkin.


Lea keluar dari kamar mandi dan melihat El tampak menimang baby Enzo.


"Sayang, sepertinya ia lapar, sejak tadi ia terus menangis tanpa henti," bohongnya sembari mendekati Lea yang hendak ke walk in closet.


"Berhenti di sana!" tegasnya mengintruksi El.


El dengan patuh langsung diam di tempatnya.


"Sebentar, aku akan ganti baju lebih dulu," ujarnya sembari berjalan ke walk in closet dengan penuh siaga.


El tertawa pelan kala melihat Lea begitu takut diterkam olehnya.


"Hei son, menangislah sekarang. Jika tidak kamu tak akan mendapatkan jatah minum susu pagi ini, begitu juga dengan papa. Cepat menangislah," pintanya yang mana hal itu terdengar sangat konyol.


Baby Enzo menatap El dengan lekat sembari mengulum jempol tangannya.


Tak lama Lea keluar dari walk in closet dengan penampilan casualnya yang mana hal itu mampu menyita perhatian El.


"Mumpung dia sudah diam, bisa tolong belikan pumping ASI yang baru? Kemarin kata Ziko pumping yang kubeli rusak," pintanya sembari mengambil alih baby Enzo.


El tersenyum tipis lalu segera berjalan di belakang Lea yang menuju ke ranjang.


Happp

__ADS_1


Lea terdiam dengan tatapan yang sedikit terkejut kala El memeluknya dari belakang.


"Terima kasih ya, berkat kamu putraku bisa merasakan ASI. Kini ia tak lagi alergi karena efek samping dari susu formula," ucapnya pelan sembari menciumi pelipis Lea dan menatap senang putranya yang berada di dalam bopongan Lea.


Lea hanya diam dan beberapa kali menelan salivanya.


El menopangkan dagunya pada pundak Lea sembari mengusap lembut perut rata Lea dari luar.


"Bagaimana jika saat besar nanti dia menganggapmu sebagai mamanya? Apa kamu akan membiarkannya untuk memanggilmu mama?" tanya El pelan membuat Lea kembali terdiam.


El begitu menunggu jawaban Lea sembari menciumi lembut leher jenjangnya.


Lea sedikit geli dan beberapa kali menggigit bibir bawahnya kala El mengecupi lehernya.


"Tentu boleh, kenapa tidak," jawab Lea cepat sembari fokus menatap baby Enzo.


El yang mendengar hal itu ingin sekali salto dan kayang saat ini.


Sayang sekali ia berusaha menjaga imagenya di depan Lea.


Kenapa ia tidak mengatakan hal itu di depan Glen dan lainnya, batin El dalam hati.


"Itu artinya kamu setuju menikah denganku," klaim El dengan penuh percaya diri.


Lea berdecak dan menginjak kaki El untuk bisa lepas dari pelukannya.


"Arghh," teriak El kesakitan dan menahan senyumnya kala Lea memiliki seribu cara untuk bisa lepas darinya.


Lea duduk di tepi ranjang sembari menimang pelan baby Enzo.


El segera mendekati lalu duduk di samping kiri Lea.


"Apa kamu tahu, jika kamu mau menikah denganku, aku akan melakukan segalanya untukmu. Aku akan bekerja keras untuk bisa mengumpulkan banyak uang agar bisa kamu nikmati dengan baby Enzo. Aku tidak akan melirik wanita manapun, dan kupastikan wanita lain akan terlihat gelap oleh mataku. Hanya kau wanita yang terlihat sangat terang dan jelas di mataku," jelasnya panjang lebar pada Lea.


Lea berdecih kala mendengar dalil El.


"Cih, semua wanita terlihat gelap? Kau sungguh anak durhaka, bagaimana bisa kau mengabaikan mamamu," decihnya membuat El tertawa.


"Kecuali kalian berdua sayang," ucapnya senbari memeluk gemas Lea dari samping.


Lea sedikit geli dan risih kala El terus menempel dengannya.


"Entah kenapa aku merasa ketempelan karenamu," gumam Lea lirih namun El masih bisa mendengarnya.


El kembali tertawa dan menggigit gemas pipi chubby Lea.


"Kenapa kau begitu menggemaskan sekali," geramnya sembari memeluk erat Lea.


Kringggg


Lea melihat kanan kiri kala ponselnya berbunyi.


"Bisa tolong ambilkan ponselku?" pintanya dengan sopan dan baik.


El langsung mengambil ponsel Lea di bawah bantal.


Terlihat nama Nancy di sana membuat Lea tersenyum lebar.


"Halo Nan," jawabnya dengan sumringah yang mana hal itu membuat El menatapnya dengan lekat dari samping.


Senyum manis Lea seketika berubah menjadi datar.


"Nancy Lea Nancy," tangis itu pecah begitu saja kala ia menyebutkan nama putrinya.


Lea yang sudah merasa janggal kini beberapa kali menelan ludahnya untuk merilekskan rasa gugupnya.


"Ibu tenang dulu ya, katakan dengan pelan-pelan. Apa yang terjadi padanya?" tanya Lea dengan pelan dan sopan.


Lama ibunya Nancy diam hingga ia kembali buka suara di mana hal itu membuat Lea seketika membeku di tempatnya.


"Nancy dibunuh," jawabnya dengan pelan dan langsung disusul dengan tangisan yang menderu.


Lea tertegun dan mulutnya terbuka tak percaya.


"Enggak mungkin," ucap Lea tak percaya membuat El yang sejak tadi bermain dengan putranya sontak menatap Lea.


"Kenapa sayang?" tanya El pelan sembari mengusap lembut pinggang Lea.


Lea langsung tersadarkan dari pikirannya.


"Maaf aku harus pergi," ucapnya yang langsung memberikan baby Enzo pada El.


Lea lalu pergi ke walk in closet untuk mengambil jaket hitamnya.


"Di mana jaket hitamku yang semalam?" tanyanya pada El kala ia tak menemukannya.


"Kutaruh di keranjang kotor sayang. Pakai aja punyaku," suruhnya sembari mengambilkannya untuk Lea.


Lea lalu memakai jaket hitam milik El dan langsung pergi tanpa basa-basi.


El yang tak ingin membiarkan Lea pergi sendiri sontak langsung menelpon Ziko.


"Iya tuan?" jawab Ziko dengan cepat dari seberang telepon.


"Cepat pulang dan jaga baby Enzo. Aku ada urusan mendadak," suruhnya lalu langsung mematikan teleponnya.


El kembali membaringkan putranya di ranjang.


"Bentar ya sayang, papa harus susulin mama kamu. Kalau enggak nanti diterkam para buaya di luaran sana," ucapnya pada putranya sembari berganti baju.


Sontak baby Enzo menangis keras membuat El sedikit bingung.


"Giliran tadi mamanya masih ada disuruh nangis enggak nangis, sekarang mamanya keluar nangis," gumamnya yang heran dengan putranya sendiri.


El kembali membopong baby Enzo untuk menenangkannya.


"Sabar ya, kita sama-sama belum minum susu. Mamamu lagi sibuk," ujarnya memberitahu baby Enzo dan membawanya keluar kamar untuk menunggu Ziko datang.


•••


Sedangkan Lea kini sudah sampai di rumah Nancy.


Di mana kini sudah ramai polisi, ambulans dan beberapa warga sekitar.


Bahkan rumah Nancy sudah dikelilingi oleh garis kuning polisi.

__ADS_1


Lea dengan mata yang sembab karena menangis selama perjalanan tadi kini langsung menerobos masuk membelah kerumunan para warga untuk bisa masuk ke dalam.


Hingga Lea melihat ibu Nancy terduduk di ruang tengah sembari melamun di mana kedua matanya sudah begitu bengkak karena menangis.


"Bu," panggilnya membuat ibunya Nancy menoleh dan langsung memeluk Lea dengan tangisan yang histeris.


"Nancy Lea, Nancy," sebutnya beberapa kali membuat Lea tak bisa menahan air matanya lagi.


Lea berusaha menenangkan ibunya Nancy lalu izin sebentar untuk melihat TKP.


Hati Lea bagai runtuh tertimpa batu besar di mana itu membuatnya kesulitan bernapas.


Sprei putih yang kini ternodai oleh darah yang sudah mengering membuat kaki Lea lemas tak tertahankan.


Rasanya begitu berat untuk Lea melangkah mendekat pada ranjang Nancy.


Air matanya kembali berlinang kala ia teringat bagaimana semalam ia masih bertemu dengannya.


Hingga pikiran Lea tertuju pada Tera.


Apa mungkin dia yang melakukannya? Batin Lea dalam hati di mana ia kini tak bisa berpikir dengan baik dan jernih.


Lea dengan langkah kaki yang sempoyongan mendekati polisi yang tengah merekam TKP bersama dengan badan forensik.


"Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Lea pada polisi itu.


"Belum, pelaku tidak meninggalkan jejak secercah pun. Sepertinya ini pembunuhan berencana," ujar polisi yang masih menduga pelakunya.


Lea menelan salivanya dan berusaha untuk kembali bertanya.


"Apa tidak ada petunjuk sama sekali tentang pelakunya?" tanya Lea yang memastikan dan berharap pelaku ceroboh dan meninggalkan sesuatu.


Polisi itu lalu menunjukkan rekaman CCTV yang diambil para detektif tadi saat mencari petunjuk di sekitar kompleks.


Lea melihat dengan teliti dan cermat pada rekaman tersebut.


Di mana pria tinggi berjaket dan bertopi hitam naik dinding belakang rumah Nancy.


Sayang sekali penerangan belakang rumah Nancy tidak begitu jelas dalam rekaman CCTV.


Karena CCTV terletak di persimpangan jalan.


Beberapa kali Lea memutar rekaman itu hanya ingin melihat wajahnya namun ia tak bisa mengenalinya karena penerangannya yang kurah jelas.


"Kami akan mencoba menyelidikinya agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya," ucap polisi itu sembari mengambil ponselnya.


Polisi dan badan forensik sontak keluar setelah selesai memeriksa TKP dan menyisakan Lea di sana.


Lea lalu melihat ranjang Nancy yang mana sprei putihnya sudah bersimpah darah.


Ia melihat sekeliling kamar Nancy dengan sangat teliti dengan harapan ia bisa menemukan sesuatu.


"Ini bukan perbuatan Tera," gumamnya lirih sembari terisak.


"Percuma kau menyesal saat ini. Dia mati karenamu," cetus Oliv membuat Lea menoleh.


Oliv lalu berjalan menghampiri Lea.


"Apa maksudmu?" tanya Lea tak terima kala ia disalahkan pada perbuatan yang tidak ia lakukan.


Oliv melepas kacamata hitamnya di mana hal itu memperlihatkan mata sembabnya.


"Kenapa, kau tak terima?" tanya Oliv dengan dingin.


Lea mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.


"Bukan aku pelakunya. Pelakunya terekam CCTV namun belum jelas identitasnya," bantah Lea memberitahu Oliv.


Oliv tersenyum miring sembari mendekati Lea.


"Kau pikir Alvaro mati karena kau turun tangan sendiri? Tidak kan. Melainkan tabrak lari, sama halnya dengan Nancy," ingatnya pada kejadian tewasnya Alvaro.


Lea menatap Oliv dengan mata yang memerah di mana ia sedang berusaha menahan air matanya.


"Berapa kali kukatakan padamu. Bukan aku pembunuhnya!" tegasnya pada Oliv.


"Siapapun akan mati karenamu. Satu demi satu, termasuk papamu sendiri," ucapnya dengan yakin membuat Lea kini mengubah tatapannya menjadi tajam dan menakutkan.


Lea mengusap kasar air matanya lalu sedikit melangkah mendekati Oliv.


"Akan kubuktikan jika bukan aku pembunuhnya. Dan akan kubuat kau meminta maaf atas tuduhanmu di hadapan makam mereka berdua," tekan Lea membuat Oliv kini murka.


Ia membuka syalnya lalu menunjukkan bekas lebam di lehernya.


"Kau tahu siapa yang melakukannya?" tanyanya sembari menunjuk leher jenjangnya yang begitu lebam.


"El Zibrano," lanjutnya memberitahu Lea dengan jujur.


"Kau tahu, ia datang ke gedungku hanya untuk membalaskan perbuatanku padamu malam di mana kita dinner bersama. Apa kau tahu, ia bukan seperti manusia, ia mencekikku hingga aku pingsan, kau paham sekarang dengan ucapanku?" bentaknya dengan keras pada Lea.


Lea masih diam tak percaya sembari menatap leher Oliv yang lebam membiru.


"Kau memang bukan pembunuhnya, tapi orang yang terobsesi denganmu, akan rela mematikan siapapun yang mengusikmu, apa kau sungguh tak paham dengan hal itu?" bentak Oliv dengan sangat keras di mana hal itu membuat Lea melinangkan air matanya tanpa sadar.


Oliv mendekati Lea sembari mengusap kasar air matanya.


"Alvaro dan Nancy telah pergi, apa kau juga akan melenyapkanku?" tanya Oliv lirih dengan suara yang bergetar.


"OLIV!" teriak El yang berdiri di ambang pintu.


Oliv menatap Lea lekat lalu memakai kembali kacamata hitamnya dan merapatkan syalnya.


El langsung menghampiri Lea dan mendorong Oliv untuk menjauh dari wanitanya.


"Jangan dekat-dekat dengannya!" tegas El pada Lea.


Oliv langsung pergi begitu saja keluar dari kamar Nancy.


Lea hanya bisa menatap nanar kepergian Oliv dengan segala perasaan yang tak bisa ia artikan.


"Kamu enggak papa kan?" tanya El sembari memeriksa tubuh Lea dari atas hingga bawah.


"Tolong jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri," ucapnya pada El lalu pergi begitu saja.


El menatap Lea dengan cemas dan bingung.

__ADS_1


"Aku sangat mencemaskannya," gumamnya lirih sembari melihat TKP yang terlihat begitu mengerikan.


__ADS_2