
Markas Klan Wolf
Terlihat Ziko dan Zen hanya diam karena menyimpan dendam kesumat pada sutradara yang kemarin melakukan syuting di belakang markas.
"Apa kalian hanya akan diam karena kejadian semalam?" tanya Glen kesal pada mereka berdua.
"Kenapa dia tidak memberitahuku jika belakang markas jadi tempat syuting," dumel Ziko yang terlihat sangat kesal dengan El.
"Apa kau sungguh tidak tahu?" tanya Sarvel sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Apa?" tanya Ziko ketus.
"Setelah El menolak semua foto- foto Lea yang akan dijadikan model majalah dari desain baju keluaran terbaru mereka, El mengalihkan semua baju keluaran terbaru itu ke para aktris yang dulu pernah di bawah pimpinan agensi tante Tesa, dan El juga menawarkan markasnya sebagai tempat syuting. Makanya mereka boyong semua kemari untuk melakukan beberapa adegan, salah satunya akting horor kemarin," jelas Sarvel membuat Zen semakin geram dan kesal.
"Kira- kira apa yang dipikirkan sutradara dan yang lain saat melihat kekonyolan kita kemarin, apa mereka menertawakan kita? Ahh hanya untuk keluar dari markas saja rasanya sangat malu bagaimana pergi keluar sana," gumam Zen yang terlihat malu juga kesal saat ini.
"Bukankah sutradara David memberikan kalian penghargaan atas akting kalian kemarin? Apalagi yang kalian sesali, sebentar lagi kalian akan menjadi aktor terkenal, jadi nikmati saja proses dan malunya," gurau Glen membuat Ziko berdecak.
"Kau enak bilang begitu karena tidak tahu bagaimana semalam, jantungku hampir lepas dari tempatnya," ketus Ziko membuat Glen tertawa.
"ZIKO!" teriak El dari depan membuat semua menoleh.
"Entah kenapa aku merasa seperti disidak olehnya," gumam Ziko yang terlihat sangat pasrah sekali.
"Kau masih dimari?" tanya El sembari menyampirkan jasnya di kursi.
"Lalu harus kemana aku jika bukan di sini?" tanyanya balik pada El.
__ADS_1
"Tunggu, kau siang hari begini keramas, kau baru saja renang atau bagaimana?" goda Alvino yang mana hal itu membuat mereka sontak langsung sadar dan melemparkan senyum menggoa ke arah El.
El cengar- cengir kala mengingat percumbuan panasnya dengan Lea tadi.
"Yahh kau tahulah orang baru menikah itu bagaimana, kenapa kalian masih menanyakannya," ujarnya dengan malu- malu membuat mereka tertawa kecuali Ziko dan Zen.
"Kau sebahagia itu sekarang setelah semalam jantungku hampir lepas dari tempatnya karena ulahmu?" tanya Ziko membuat El menatapnya.
"Memangnya kenapa?" tanya El yang tidak tahu.
Sarvel lalu menjelaskan yang mana hal itu membuat El tertawa terbahak- bahak membuat Zen dan Ziko terlihat begitu kesal.
"Maaf aku lupa memberitahumu karena sibuk mencari cara agar bisa masukl ke dalam kamar," ucap El jujur membuat Glen langsung bertanya karen penasaran.
"Memangnya kenapa dengan kamarmu sampai kau tidak bisa masuk?" tanya Glen.
Semua menertawakan El begitu juga dengan Ziko yang terlihat sangat puas sekali tawanya.
"Kau menertawakanku sekarang?" tanya El sembari menaikkan sebelah alisnya.
Ziko langsung diam dan bersikap sok kalem.
Semua ingin sekali menertawakan perubahan sikap Ziko saat ini.
Sayangnya aura dingin El membuat mereka taut untuk buka suara.
"Oh ya, bukankah kau kemarin ingin memberitahuku tentang cinta pertama Lea?" tanya El pada Zen.
__ADS_1
Zen melihat kanan kirinya.
"Kau bertanya padaku?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
El memainkan revolvernya membuat Zen langsung menelan ludahnya.
"Aku mendadak merasa pusing sekali, aku akan istirahat lebih dulu," pamit Zen yang hendak beranjak dari sofa.
"Kaki atau kepalamu? Mana yang harus kutembak?" tanya El pelan sembari memainkan revolvernya dengan santai.
"Pusingku sudah hilang. Kau ingin bertanya apa?" tanya Zen yang kembali duduk di samping Ziko dan menatap datar El.
Semua menahan tawanya kala melihat sikap lucu Zen.
El tersenyum tipis dan mulai menggali informasi tentang Lea pada Zen.
"Siapa cinta pertama istriku?" tanya El yang kini mulai serius dalam menyidak Zen.
Zen melihat mereka semua yang mana mata mereka kini tertuju padanya.
"Bisa tolong jangan menatapku seperti itu? Aku merasa menjadi buronan saat ini," pintanya pada mereka.
El lalu memberikan isyarat pada mereka semua untuk pergi.
Dan kini hanya menyisakan mereka berdua.
Namun siapa yang tahu jika ternyata mereka mengintip dari balik tirai.
__ADS_1