
El dengan cepat langsung berlari untuk memeriksanya ke tahanan diikuti oleh yang lainnya.
Dan benar saja, rantai yang digelangkan pada kaki dan tangan Tera, tergeletak di lantai.
Begitu juga dengan pintu jeruji besi yang tampak terbuka tersebut.
"Apa yang kalian lakukan hingga ia bisa kabur dari dalam sini?" bentak El dengan keras pada para pengawal yang berjaga di tahanan.
"Maaf tuan tapi tadi sore dia masih ada di dalam sini," jawab salah satu dari mereka dengan takut dan was- was.
"Lalu di mana dia sekarang? Apa kalian menelannya hidup- hidup?" teriaknya sangat keras membuat Lea yang berdiri di sampingnya tampak takut dengan suara keras El.
"Cepat cari dan telusuri hutan belakang markas," perintahnya dengan nada suara yang keras dan tinggi.
Dengan cepat mereka langsung berlari keluar dari pintu belakang untuk segera mencari Tera sebelum pergi jauh.
Dan hampir semua anak buah yang ada di markas keluar untuk mencari keberadaan Tera.
"Kalian juga, bukankah sudah kubilang untuk menjaganya? Ngapain kalian malah kelayapan ke Vihara?" marah El pada mereka berenam.
Ziko yang merasa menjadi dalang dibalik perginya ke Vihara sontak langsung buka suara.
"Maafkan saya tuan, saya yang mengajak mereka untuk pergi ke Vihara," ungkapnya dengan jujur.
"Saya akan ikut mencarinya bersama pengawal yang lain," beritahunya pada El.
"Cihhh, kini kau mendadak patuh dan kembali bekerja, bukankah kau berniat untuk membakar perusahaannya tadi?" goda Sarvel untuk mencairkan suasanaya.
"Doamu sudah tidak terkabul, kau menjadi cepu sekarang," olok Ziko dengan kesal membuat ekspresi Sarvel sontak langsung berubah datar.
"Besok aku akan kembali sujud sampai 1001 kali," gumamnya lirih.
"Apa kau memiliki kepribadian ganda?" tanya Zen berbisik pada Ziko.
"Kurang lebih begitu, mungkin karena aku sebentar lagi akan bekerja di alam baka, maka dari itu aku memiliki kepribadian ganda," jawab Ziko membuat Zen menghembuskan napas berat.
"Kita akan membantu mencarinya," ucap Glen yang tiba- tiba saja buka suara membuat mereka berlima sontak langsung menoleh menatap Glen kaget.
"Kita? Siapa yang kau maksud kita?" tanya Sarvel yang terlihat kesal dengan Glen.
Glen dengan santai menunjuk mereka berlima.
"Yaaa, apa kau sungguh akan membunuh kami? Ini aja belum selesai diurut dan sangat sakit saat berjalan,"teriak Alvino dengan kesal di mana kesabarannya sudah benar- benar habis sejak tadi.
"Kau tahu, kita akan mencarinya di hutan, kakimu tak hanya akan patah, mungkin bisa tercincang dengan lembut hanya karena menjelajahi hutan seluas cintaku pada Lea," kata Sarvel yang begitu geram dengan Glen.
"Kalau begitu buktikan cintamu yang begitu luas pada Lea itu untuk ikut bersama denganku mencari ****** picik itu," suruh Glen dengan gamblang pada Sarvel.
"Kalian sudah puas bergurau?" tanya El dingin membuat mereka berenam langsung diam.
"Aku tidak mau, bagaimanapun caranya temukan ****** picik itu, jangan sampai ia mendekat atau menyentuh wanitaku, kalian paham?" tegasnya pada mereka berenam.
"Siap paham," jawab mereka dengan kompak layaknya sedang berlatih militer.
El lalu melepaskan jasnya dan menyampirkannya ada tubuh Lea.
"Akan kutunggu hasilnya sampai besok pagi, jangan kembali ke markas jika kalian belum temukan ****** picik itu," tekannya pada mereka lalu mengangkat tubuh Lea dan membawanya pulang.
Mereka yang mendengar hal itu kini membuka mulutnya tak percaya.
Setelah El pergi kini tatapan mereka semua tertuju pada Glen dan Ziko.
"Baiklah kalau begitu biar kami berdua saja yang mencarinya," ucap Ziko yang berusaha mencari simpati dan diangguki oleh Glen.
"Arghhhhh, bisakah kau cabut nyawaku sekarang ya Tuhan, aku sangat tertekan dengan mereka," teriak Alvino histeris di mana ia benar- benar tak tahan bersama dengan mereka.
Sontak Glen dan Ziko langsung mendekati Alvino.
"Sabar, Tuhan tidak akan mencabut nyawaku sekarang, kau masih harus bersama dengan kami sampai punya cucu nanti," guraunya membuat Alvino tertegun sejenak.
"Aku tidak yakin masih waras saat usiaku sudah tak lagi muda," gumamnya lirih membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
Sarvel yang menyadari sesuatu kini melihat kanan kirinya.
"Tunggu, di mana pria kemayu itu?" tanya Sarvel membuat mereka baru sadar jika sejak tadi tidak ada Zen di sampingnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, jangan hanya kita yang kakinya patah, dia juga harus merasakannya," gumam Alvino yang langsung mencari keberadaan Zen.
•••
Mansion El Zibrano
Kini mereka telah tiba di mansion.
Lea sedikit takut saat ini di mana El sepanjang jalan tadi hanya diam tak bersuara apapun.
Yah meski sejak perjalanan El menggenggam erat tangannya, namun Lea merasa takut disaat El hanya diam saja.
Dengan pelan El mendudukkan Lea di tepi ranjang.
Ia lalu berjongkok di depan Lea sembari menggenggam erat tangan Lea.
"Maaf jika aku tadi sempat menakutimu dengan suara kerasku, aku hanya tak ingin Tera kembali mendekatimu, ia sangat berbahaya. Aku takut sesuatu terjadi padamu sayang," ucapnya dengan pelan sembari menciumi tangan Lea dengan bertubi- tubi.
Lea yang kini tahu alasan El sejak tadi hanya diam perlahan tersenyum.
"Ya, aku paham dengan niatmu. Tapi kamu mau berjanji denganku?" tawari Lea pada El.
Tanpa menunggu apa yang ingin Lea janjikan El sudah mengangguk setuju.
"Tolong jangan sakiti apalagi membunuh para pengawal yang tadi bertugas menjaga tahanan, namanya manusia pasti ada kesalahan kecil yang mungkin tak sengaja ia perbuat, dan tolong jangan salahkan teman- temanmu jika mereka tidak berhasil menemukan Tera, tidak semua perintah harus dijalankan dengan sempurna seperti kehendak kita, kamu mau melakukannya kan?" tanyanya dengan pelan dan hati- hati pada El.
El diam sejenak di mana tatapannya hanya fokus tertuju pada wajah cantik Lea.
"Bagaimana bisa ada wanita berhati malaikat sepertimu?" gumamnya lirih kala ia dibuat kagum dan takjub dengan sikap baik Lea.
Lea hanya tersenyum tipis.
"Lalu apa imbalanku?" tanya El yang mana itu adalh kode keras darinya pada Lea.
"Apa kamu akan terus meminta imbalan dari setiap permintaanku?" El mengangguk dengan sangat mantap.
"Kesempatan emas ini tidak boleh dibiarkan begitu saja," katanya yang tampak berbinar membuat Lea hanya tersenyum sembari manggut- manggut paham.
Lea lalu menarik tangannya dari genggaman El dan beralih mengalungkan tangannya pada leher El.
"Oke tuan, lalu imbalan apa yang harus saya berikan padamu?" tanya Lea dengan pelan di mana jarak wajah keduanya sekitar 2 jengkal.
El yang mendengar pertanyaan itu sontak langsung berusaha menutup rapat bibirnya untuk tidak tersenyum namun begitu sulit sekali hingga ia tak tahan dan langsung menyambar bibir manis wanitanya.
Lea yang mendapatkan pangutan lembut dari El hanya tersenyum di sela ciumannya.
Ciuman itu mendadak terhenti saat terdengar suara tangis dari baby Enzo.
Lea hanya tertawa kecil saat El terlihat kecewa.
"Tolong bawa kemari baby Enzo, aku akan menyusuinya," pintanya pad El.
El hanya mengangguk dan mengecup sekilas daun telinga Lea.
Lea lalu naik ke atas ranjang dan bersiap untuk menyusui baby Enzo.
Dengan semangat 45 nya El membaringkan baby Enzo di depan Lea.
"Yeeee saatnya minum susu," soraknya dengan girang membuat Lea benar- benar malu saat ini dengan sikap El yang terkesan lucu.
"Hei son, kamu benar- benar putraku. Kau tahu saja jika papa sedang haus saat ini dan butuh energi," katanya pada baby Enzo di mana hal itu langsung mendapatkan pukulan dari Lea.
"Yaaa, jaga bicaramu di depan putraku," marahnya pada El membuat El yang mendengar kata putraku dari bibir Lea kini dibuat terbang melayang ke atas awan.
"Kamu bilang apa sayang barusan?" tanya El yang ingin mendengar sekali lagi ucapan Lea tersebut.
"Jangan bicara frontal saat di depan putraku," ulanginya sekali lagi pada El.
__ADS_1
El yang tidak bisa memendam atau menyembunyikan rasa senang dan girangnya sontak langsung menindih tubuh Lea dan mengecupi pipinya dengan brutal.
"El geliiii," teriak Lea yang tak tahan dengan rasa geli dari kecupan singkat yang El berikan pada wajah dan daun telinganya.
El lalu menghentikan aksinya dan menatap wajah Lea dengan sedikit serius di mana ia sudah tak sabar untuk mengisi energi.
"Sekarang?" tanya El yang sedikit ambigu namun untungnya Lea paham dengan maksud El tersebut.
El lalu menyambar bibir Lea untuk mengalihkan perhatiannya selagi ia membuka perlahan resleting dress Lea.
Lea yang bisa merasakan tangan kekar El menyentuh punggungnya untuk melepas pengait kacamata kuda itu mendadak gugup dan berdebar.
El langsung membuangnya ke sembarang arah membuat Lea langsung melepaskan ciumannya.
"Kenapa kamu lepas?" protesnya kesal membuat El tersenyum devil.
"Aku hanya ingin mengisi energi dengan lancar tanpa penghalang apapun sayang," jawabnya dengan gamblang dan kembali meraup bibir manis itu.
Lea yang mendengar ucapan frontal El benar- benar tak habis pikir.
Bagaimana bisa ada pria senakal dan semesum itu?
"Enghhh El," erang Lea kala ia merasakan remasan tersebut yang terasa menggelikan dan nikmat secara bersamaan.
El begitu lihai dalam memberikan rangsangan pada Lea.
Di mana dokter menyarankan agar El memberikan rangsangan dan sentuhan terlebih dulu sebelum menghisapnya agar ASI nya keluar.
Lea beberapa kali membusungkan dadanya kala ia dibuat kelimpungan hanya dengan permainan tangan El pada squisynya.
El yang melihat hal itu dibuat semakin bergairah dan ingin sekali menerkam Lea sekarang ini.
Apalagi mendengar suara merdu dan lenguhan Lea, membuat El semakin gila dan mabuk kepayang.
Sayang sekali semua hasrat dan gairahnya harus ditunda hingga setelah menikah nanti.
El terus meremas dan menghisap, sesekali ia juga memilinnya berusaha untuk bisa merangsang Lea lebih dalam.
El yang saat ini benar- benar bergairah ditambah remasan pada rambutnya, ingin sekali melakukannya pada Lea, namun lagi- lagi tertunda karena ia harus menjaga sikap agar tidak dibenci Lea.
Lea langsung mendorong El saat ia merasa ASI nya sudah keluar dan segera menyusukannya pada baby Enzo.
"Sayangggg aku kan belum selesai," rengek El yang terlihat sangat kecewa saat Lea memutus begitu saja aksinya.
"Banyak alasan, bilang saja kau ingin meminumnya sendiri bukan?" kesalnya pada El sembari menatap gemas baby Enzo.
El hanya tersenyum saat tebakan Lea benar.
Kini ia berbaring di belakang Lea untuk melihat putranya yang begitu bersemangat dalam meminum ASI dari Lea.
Mungkin sekitar 15 menitan El menunggu, akhirnya baby Enzo terlelap juga setelah kenyang minum ASI dari Lea.
"Udah ya sayang, sekarang kamu harus tidur di keranjang, papa mau isi energi lagi," ujarnya dengan lirih sembari memindahkan putranya ke keranjang bayi.
El lalu mematikan lampu kamarnya dan hanya menyisakan lampu tidur yang dipancarkan dari langit- langit kamarnya.
Dengan sangat hati- hati El berbaring di depan Lea yang sudah terlelap sejak tadi saat menyusui baby Enzo.
"Bagaimana bisa ada wanita secantik ini?" gumamnya yang beberapa kali selalu memuji kecantikan Lea.
El mengecup singkat sudut bibir Lea lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanitanya tersebut.
Lea yang merasakan hembusan napas di leher jenjangnya hanya tersenyum tipis dan langsung memeluk El.
El tersenyum manis kala merasakan elusan lembut di rambutnya.
"Berhenti mengusap kepalaku sayang sebelum aku tidak bisa mengontrol diriku, posisi kita sudah sangat pas untuk melakukannya, " peringati El pada Lea.
Lea hanya tersenyum dan langsung beralih menepuk pelan punggung El.
__ADS_1
"Dasar cabul, " oloknya dengan tawa kecil.