ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 122


__ADS_3

Shila terdiam di tempatnya kala melihat Alvino yang datang tiba- tiba tanpa memberitahunya.


"Kapan kamu datang?" tanya Shila yang langsung menyimpan ponselnya.


Alvino meletakkan semua makanan serta belanjaan untuk kebutuhan masak Shila di rumah di atas meja.


"Sejak tadi sayang, aku memanggilmu beberapa kali namun kamu tidak menjawab, apa yang membuatmu begitu serius hingga mengabaikan panggilanku?" tanya Alvino sembari merengkuh pinggang ramping Shila untuk mendekat padanya.


Shila menelan salivanya dan berusaha untuk tetap tenang.


"Aku sedang melihat ponsel tadi," jawabnya yang tak bisa berbohong.


Alvino yang melihat perubahan wajah dan sikap Shila kini sedikit penasaran dan bertanya.


"Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Alvino pelan.


Shila mendongak menatap Alvino lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Shila langsung menunduk saat Alvino menatapnya lekat.


"SHILA!" panggil Revan yang langsung masuk ke dalam rumah kala melihat pintunya terbuka membuat Alvino dan Shila menoleh bersamaan.


Alvino merengkuh pinggang ramping Shila untuk lebih dekat dengannya kal melihat Revan menghampiri Shila.


"Kamu lolos beasiswa, kau sudah tahu kan pengumumannya? Selamat ya Shil," ujar Revan memberikan selamat pada Shila.


Shila memejamkan matanya sekilas saat Revan mengatakan hal itu di waktu yang tidak tepat.


Alvino yang mendengar hal itu perlahan langsung menatap Shila.


"Kamu lolos beasiswa di Hardvard? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Alvino pelan.


Revan yang melihat sikap keras Alvino lebih tepatnya sikap protektifnya pada Shila, merasa tidak suka dengan hal itu.


"Ayo Shil cepat berkemas, aku akan membantumu," ajak Revan yang tampak antusias dan paling bersemangat.


Shila menatap Revan.


"Kamu pulang dulu aja ya Van, aku lagi ada urusan dengan Al," pintanya dengan pelan dan hati- hati.


Revan menatap sinis Alvino sekilas lalu mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Setelah Revan pergi, Alvino melepas rengkuhannya pada pinggang ramping Shila.


Alvino memalingkan muka sembari membuang napasnya.


"Tadi aku ingin memberitahumu, hanya saja aku takut," kata Shila pelan takut Alvino marah.


Alvino hanya diam membuat Shila semakin takut.


"Kalau begitu bebereslah lebih dulu, aku akan kembali lagi nanti," ujarnya yang langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan Shila.


Shila yang melihat kepergian Alvino kini merasa bersalah dan tak tega.


Alvino memberitahu Shila agar dia memberitahunya lebih dulu tentang segala sesuatu tentang apapun itu.


Alvino tidak akan marah meski sulit untuk ia terima.


"Apa ia marah? Bagaimana ini?" gumam Shila bingung yang mana ia sangat takut jika mengecewakan apalagi membuat Alvino marah.


Shila menghembuskan napas gusar dan pergi ke kamar untuk menyiapkan semua keperluannya.


•••


Ia tengah termenung dengan segelas sampanye dan sebatang rokok.



Ia malas pulang ke mansion, karena itu sejak sore tadi ia berada di apartemen.


Alvino membuang napas beratnya kala teringat akan sore tadi.


Ada rasa sesal dalam diri Alvino karena meninggalkan Shila begitu saja tadi.


Padahal besok Shila akan berangkat ke Washington untuk bimbingan dan penempatan asrama.


Ting


Alvino menoleh kala bel apartemennya berbunyi.


"Berani- beraninya mereka menganggu ketenanganku," dumelnya sembari berjalan ke depan untuk memberikan pelajaran pada pengawalnya.


Ceklek

__ADS_1


"Apa kau cari mati?" tanya Alvino dengan penuh penekanan kala pintu terbuka.


"Tidak. Aku sedang mencarimu," jawab Shila membuat Alvino langsung mematikan putung rokoknya.


"Denga siapa kamu kemari? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Alvino yang tak menyangka jika Shila akan datang ke apartemennya.


Shila hanya diam dan melihat Alvino yang meletakkan gelasnya di atas meja.


"Ayo aku akan mengantarmu pulang," ujar Alvino sembari menyambar kunci mobilnya.


"Tidak, aku akan bermalam di sini," jawab Shila yang langsung masuk ke dalam membuat Alvino diam tak berkutik.


Alvino membasahi bibirnya sekilas.


"Aku akan membuatkanmu minum," ujarnya yang langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum Shila.


Shila duduk di ruang tengah sembari mengedarkan pandangannya.


Tak lama Alvino kembali dengan segelas teh panas.


"Apa kamu dengan temanmu kemari?" tanya Alvino ingin tahu sembari duduk di samping Shila.


"Tidak, aku berangkat sendiri," jawab Shila membuat Alvino langsung menoleh dan menatapnya galak.


"Sendiri? Kenapa tidak memberitahuku jika akan kemari? Bagaimana jika para preman itu kembali menghadangmu? Bagaimana jika mereka melukai atau menculikmu? Bukankah aku sudah bilang agar kamu tidak pergi sendiri saat malam hari?" marahnya dengan panjang lebar membuat Shila tersenyum dan mencium bibir seksi Alvino.



Alvino meletakkan gelasnya dan merengkuh tengkuk belakang Shila untuk memperdalam ciumannya.


Perlahan Alvino membaringkan Shila di sofa dengan ia di atasnya.


Shila membuka perlahan kedua matanya saat Alvino mengakhiri ciumannya.


"Maaf aku tidak memberitahumu lebih dulu tadi," ucap Shila pelan membuat Alvino tersenyum dan mengecup sekilas hidungnya.


"Lain kali kamu harus memberitahuku lebih dulu, apapun itu," beritahu nya sekali lagi.


Shila mengangguk membuat Alvino kembali menyerang bibir tipis itu hingga merah merona dan hampir bengkak.


Ya secandu itu bibir Shila bagi Alvino.

__ADS_1


__ADS_2