
Pada pukul 3 sore, Lea terbangun karena merasakan berat pada tubuhnya. Yang pertama dilihat oleh Lea adalah kaos hitam tepat di depan matanya.
Lea mendongak dan melihat El sedang tertidur dan memeluk dirinya. Lea ingat betapa kedinginan semalam karena demam.
Dengan perlahan, Lea memindahkan tangan kekar El dari pinggangnya. "Kamu mau kemana?" tanya El sambil menarik tangan Lea dan meminta agar kembali berbaring.
"Aku harus memberi susu bayi Enzo," jawab Lea seraya menatap bidang dada El.
El yang mengerti situasinya mengungkapkan senyum lebar dan merangkul erat Lea sambil menciumi keningnya.
"Kamu baru sembuh, biarkan dia minum susu formula untuk sementara waktu," sarannya membuat Lea hanya bisa diam.
Lea melihat El yang sesekali mengungkapkan senyum manis sambil memeluknya.
"Nanti dia akan demam lagi," ujar Lea perlahan sambil melepas pelan pelukan El.
Tiba-tiba, El menggenggam tubuh Lea dengan jarak wajah yang dekat sekali. Lea menelan salivanya saat merasakan hembusan napas El di lehernya.
"Kamu ingin melihat sesuatu?" tanya El dengan menggoda membuat Lea mengerutkan keningnya.
Seketika itu, Lea terkejut ketika El mendekap bibirnya dengan lembut. El tertawa kecil saat melihat pipi Lea begitu merona merah.
Lea spontan menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika El mendekatkan wajahnya.
"Aku punya hadiah untukmu," ucapnya pada Lea.
"Apa?" tanya Lea tanpa pikir panjang.
"Coba lihat tanganmu," pinta El sambil menunjuk ke telapak tangan kanan Lea yang semakin penasaran.
Lea membuka mulutnya dengan tidak percaya ketika El tiba-tiba memberinya ciuman lembut pada bibirnya.
"Yaa, kau membohongiku?" teriak Lea tidak suka karena El mencium bibirnya tanpa izin.
El tertawa puas ketika melihat Lea marah.
"Baiklah, aku akan menunjukkan padamu," ujarnya sambil mengangkat tubuh Lea turun dari ranjang dan membawanya ke kamar sebelah.
"Turunkan aku, kita mau ke mana?" tanya Lea saat El membawanya ke ruangan paling sudut dari kamar El.
El pun menurunkan Lea tepat di depan pintu.
"Coba buka," pintanya pada Lea sambil menunjuk ke tombol pintu.
Lea menatap El dengan ragu, kemudian membuka pintunya.
Betapa terkejutnya Lea melihat papanya terbaring di atas ranjang dengan alat medis yang tertata rapi di samping kanan dan kiri ranjang, terlihat sama persis dengan di rumah sakit.
Lea menoleh ke belakang menatap El.
"Kenapa kamu memindahkan ayah kemari?" tanya Lea pada El. El tidak menjawab, ia melingkarkan tangannya pada perut Lea dan menumpukan dagunya pada pundak Lea.
"Bukankah kamu selalu ingin berada di samping ayahmu saat sedang sedih atau lelah? Mungkin beberapa hari yang lalu aku sedikit egois denganmu, jadi aku memindahkan ayahmu kemari agar kamu merasa tenang dan bisa melihatnya setiap saat," jelasnya pada Lea.
Jujur saja, hati Lea tersentuh dengan sikap tulus El. Namun di sisi lain, dia harus tetap bersikap waspada terhadap El.
"Nanti akan ada dokter dan perawat yang akan merawat ayah kamu secara bergantian. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi, ayahmu akan segera pulih dan sembuh," ujar El sambil mencium leher depan Lea.
Lea tersenyum tipis melihat ayahnya yang terbaring di atas ranjang.
"Kamu tidak ingin melihat ayahmu?" tanya Lea sambil mengangguk dan tersenyum tipis.
Setelah itu, Lea masuk ke dalam untuk melihat ayahnya lebih dekat. El berdiri di ambang pintu dan melihat Lea dengan senyuman bahagia.
Ia melakukan semua itu karena tidak ingin lagi melihat Lea menangis seperti malam sebelumnya.
El tak mampu melihat Lea menangis. Itu membuat hati El terasa sakit dan menyesakkan.
El tersenyum manis ketika Lea berjalan ke arahnya.
"Terima kasih atas semuanya," ucapnya pada El.
El tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat hal itu. Ia ingin mengerjai Lea, namun apa yang harus dilakukan?
"Mungkin ingin meminta bantuan atau sesuatu dariku? Aku belum bisa membalas semua kebaikanmu," tanyanya pada El.
"Bolehkah?" tanya El pada Lea. Lea yang mendengar itu kini malah salah tingkah dan bingung dengan ucapannya barusan.
Sepertinya ada yang salah ketika Lea bicara. Bukankah ia berbicara secara ambigu?
Lea mengangguk pelan membuat El langsung menutup pintu kamar ayah Lea dan menarik pelan tangan Lea untuk kembali ke kamar tidur.
El langsung ******* bibir manis Lea setelah menutup pintu. ******* itu terlihat sedikit kasar dan agresif.
Lea yang tertegun karena ******* itu mendorong dada bidang El untuk menghirup napas.
El menyadari bahwa ia terlalu kasar dan agresif sehingga membiarkan Lea untuk menghirup napas.
Perlahan, El mendorong Lea ke belakang agar mereka bisa sampai di atas ranjang.
Dengan sangat hati-hati, El menuntun Lea untuk berbaring. Di sela pangutannya, El tampak tersenyum saat ia menindih tubuh Lea.
Tanpa ada perlawanan dari Lea, pangutan El semakin dalam dan lama. Hal itu dilakukan dengan sengaja untuk mengalihkan perhatian Lea selagi El membuka kancing kemeja Lea.
Dan ini adalah rintangan El paling sulit.
Melepas pengait kacamata kuda.
Tak ingin gagal lagi, El meremas kuat benda kenyal Lea yang masih terlindungi dari kacamata kudanya.
"Akhh," desah Lea ketika merasa kesakitan akibat remasan El yang terlalu kencang. El beralih pada leher jenjang Lea tanpa melepaskan remasannya.
Beberapa kali Lea membusungkan dadanya sambil meremas sprei. Padahal El ingin sekali Lea meremas rambutnya sambil memanggil namanya.
Namun, ia juga tidak bisa memaksa hal itu. El dengan segala kemampuan dan keahliannya, tangannya kini bisa meremas benda kenyal Lea secara langsung.
Suara merdu Lea membuat El semakin bergairah.
"**** hentikan, El," panggilnya untuk pertama kalinya dalam keadaan mereka melakukan hubungan intim.
El berhenti dengan reflek dan menatap wajah Lea. Hatinya begitu girang saat Lea memanggil namanya.
"Bisa kamu memanggil namaku sekali lagi?" pintanya dengan penuh kegirangan.
"El hentikan," panggilnya membuat El memalingkan wajahnya tak bisa menahan rasa bahagianya saat ini.
El kembali menciumi leher Lea dengan geram.
"EL ZIBRANO!" teriak mereka berempat dari luar.
BRAK
Pintu terbuka lebar di mana mereka berempat bisa menyaksikan tuan El sedang memadu cinta dengan Lea.
Lea langsung bersembunyi pada dada bidang El.
El berdecak dan mengumpat beberapa kali kala mereka datang di waktu yang tidak tepat.
"Oh tidak, kenapa tiba-tiba mataku gelap," gumam Glen yang langsung memejamkan matanya diikuti mereka bertiga.
"Sepertinya kita salah kamar," ucap Ziko hendak balik kanan.
"TIDAK. SELAMATKAN ANAK SUCI ITU DARI ADEGAN DEWASA INI!" teriak Sarvel sembari menunjuk keranjang bayi baby Enzo.
Ketiganya langsung membuka matanya dan melihat keranjang baby Enzo.
"Astaga nak, apa kau sudah lama di sana? Kenapa tidak menelpon paman? Kita kan bisa menyaksikan bioskop dewasa ini bersama-sama," sindirnya sembari mengangkat baby Enzo dari keranjang bayinya dan bergegas keluar sebelum El menembak kepalanya.
Mereka berempat langsung menutup kembali pintunya dan menuju ruang tengah selagi menunggu mereka berdua.
Lea tak berkutik sedikitpun dan masih bersembunyi di dada bidang El.
"****! Sudah waktunya mengganti pintu dengan jeruji besi, ganggu aja orang lagi mau buat anak," dumelnya membuat Lea diam-diam tersenyum tipis.
"Cepat temui mereka. Aku akan mandi lebih dulu," ujar Lea menyuruh El untuk menemui teman-temannya.
__ADS_1
El tersenyum lebar lalu menempelkan hidungnya pada hidung Lea.
"Bagaimana jika mandi bersama?" tawari El membuat Lea tersenyum miring.
"Coba saja, aku akan memutilasi tubuhmu di dalam kamar mandi," suruhnya pada El.
El terkikik lalu menciumi pipi Lea beberapa kali.
"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi," gumamnya yang langsung mengangkat tubuh Lea menuju kamar mandi.
Lea dengan cepat langsung menutup bajunya yang terbuka karena ulah El di mana itu memperlihatkan tubuh mulusnya dan bra hitamnya.
El yang melihat hal itu tak hentinya tertawa.
Dengan pelan El menurunkan Lea di dalam kamar mandi dan hendak menutup pintunya.
"Kau ingin dieksekusi?" tanya Lea sembari memegangi erat bajunya.
El tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
Ia langsung keluar begitu saja tanpa membantah apapun.
Lea menghembuskan nafas lega lalu membuka bajunya.
Ceklek
"YAAAA!" teriak Lea kala El sengaja membuka kembali pintunya.
El langsung menutup pintunya sebelum terkena tendangan Lea diiringi dengan tawa puasnya.
"Argh bandit itu, ia benar-benar bangsat," umpatnya yang langsung mengunci pintunya dan segera mandi.
El yang sudah puas menggoda Lea kini baru teringat jika teman-temannya berada di mansionnya.
Ia keluar kamar dan melihat mereka berempat tampak asyik mengobrol.
Keempatnya langsung diam saat El datang.
El duduk dengan ekspresi wajah yang datar dan menatap satu persatu mereka berempat dengan tajam.
"Aku sudah lama tidak menggunakan pistolku, kalian rindu melihat darah?" tanya El pada mereka berempat.
Glen langsung menyunggingkan senyum manisnya pada El.
"Jangan buru-buru marah, kita datang bukan niat mau ganggu kok, kita mau nyampein sesuatu yang penting," ucapnya lebih dulu sebelum El ngreog.
El menghela napas sembari mengusap sekilas bibirnya.
"Apa kalian tadi melihatnya? Aku dan Lea?" tanya El yang menggoda mereka berempat.
Kini giliran mereka berempat yang menghela napas secara gusar dengan serentak.
"Kalau tahu gitu tadi jangan langsung buka pintunya, bakar aja rumahnya dari depan pasti orangnya keluar, ya kan?" usul Alvino di mana ia orang yang paling sensitif dan emosional.
"Mungkin sebelum membakar rumahnya kau akan lebih dulu dijadikan kayu bakarnya," sahut Sarvel dengan geram.
"Jangan begitu, bukankah kita sahabat? Jika Alvino dijadikan kayu bakar berarti kita juga harus ikut bersamanya," ucap Glen dengan santunnya.
Sarvel menatap jengah Glen lalu menatap Alvino.
"Bagaimana jika dia saja yang dijadikan kayu bakarnya?" Alvino mengangguk setuju.
El masih diam dan memperhatikan mereka yang asyik sendiri dengan dunianya.
Ziko yang melihat tatapan itu kini berusaha memberikan isyarat pada mereka bertiga.
Namun tak ada satupun yang sadar dengan kodenya.
"YAAA!" teriak Ziko begitu keras membuat mereka bertiga terkejut bukan main begitu juga dengan El.
"Maaf-maaf, tadi kelepasan. Tuan El sudah menunggu informasi dari kalian," ucapnya pada mereka bertiga.
Ketiganya mengusap dadanya kala jantungnya hampir lepas.
"Kata Glen kodamnya Ziko mirip kau saat marah," adu Sarvel pada Alvino.
Alvino yang tidak terima sontak langsung memukul kepala Glen.
"Apaan bangsat main timpuk kepala orang?" tanya Glen kaget.
El berdeham membuat mereka langsung kicep.
"Ada yang ingin kalian katakan sebelum aku mengisi peluruku?" tanya El pada mereka bertiga.
Mereka langsung serius dan Glen langsung buka suara.
"Ketua Mafia Albania telah kembali," beritahu Glen pada El.
El terlihat begitu terkejut terlihat dari wajahnya.
Sontak yang ada di pikiran El hanyalah Lea.
•••
Malam harinya El tengah menunggu Lea di ruang tamu.
Sejak obrolannya dengan teman-temannya tadi, El lebih banyak melamun dibanding seperti biasanya.
Seperti ada sesuatu yang tengah ia cemaskan.
Lea lalu keluar kamar dengan dress warna putihnya dan menghampiri El.
"Aku udah selesai," ucapnya pada El.
Terlihat El melamun dan tidak menyadari kedatangan Lea.
"El," panggil Lea membuat El langsung menoleh.
El terpana dengan penampilan Lea malam ini.
Elegan dan begitu cantik dengan dress putih yang ia pesankan khusus untuk Lea.
"Kita berangkat sekarang?" tanyanya pada El untuk kedua kalinya.
El langsung beranjak dari sofa dan menatap Lea.
Ia merengkuh pinggang ramping itu untuk mendekat padanya.
"Kenapa kamu begitu cantik sekali malam ini?" tanya El sembari meneliti setiap inci wajah Lea dengan begitu lekatnya tanpa rasa bosan.
Lea hanya diam membuat El malah salah fokus dengan bibirnya.
El sedikit merunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lea.
"Lain kali kalau keluar jangan dandan cantik-cantik, nanti banyak pria yang tertarik," ucapnya pada Lea.
Cup
El mengecup singkat bibir Lea lalu menggandeng tangannya untuk segera pergi karena waktu pernikahannya akan dimulai.
•••
Kini mereka telah sampai di gedung tempat putranya tuan Zenico's menikah.
El bergegas turun dan membukakan pintu untuk Lea.
El menatap penampilan Lea dari atas hingga bawah.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya pada El kala tatapan El seakan menelanjangi dirinya.
El merengkuh pinggang Lea dan membisikkan sesuatu padanya.
"Kalau pakai dress gini bagaimana bisa bra-nya tidak kelihatan? Apa kamu tidak memakai bra sayang?" godanya pada Lea.
"Awwww," ringis El kala Lea mencubit perutnya.
__ADS_1
"Aku akan memotong lidahmu jika berbicara sekali lagi," ancamnya membuat El terkekeh.
Cup
Lea langsung melotot ke arah El kala ia mengecup singkat leher jenjangnya.
"Aku akan membunuhmu saat ada bekas yang tertinggal," ancamnya sembari melihat lehernya dari cermin mobil.
El tak bisa berhenti tertawa kala melihat hal itu.
"El," teriak Glen membuat El dan Lea menoleh.
"Beban hidup dateng," dumelnya sembari merapikan rambut Lea yang sebenarnya tidak berantakan namun El sangat gemas dan ingin sekali menerkamnya saat ini.
Terlihat Flo juga ikut bersama mereka berempat.
"Hei El," sapa Flo yang hendak cipika-cipiki namun langsung ditolak oleh El.
"Izin dulu sama yang punya," ucapnya sembari berdiri di belakang punggung Lea.
Lea yang kini merasa canggung dan tak tahu harus melakukan apa sontak hanya tersenyum tipis pada Flo.
"Oh jadi ini perempuan yang bisa naklukin balok es?" tanya Flo pada Glen.
Glen hanya mengangguk diikuti yang lainnya.
"Hei kenalkan, aku Flo teman SMA mereka," ucapnya memperkenalkan diri dengan ramah.
"Lea," balasnya diiringi dengan senyuman.
"Cantik, pantes balok es tergila-gila," pujinya membuat Lea tersipu.
"Yaudah ayo masuk," ajaknya sembari menggandeng tangan Lea layaknya sudah akrab.
Namun El dengan cepat langsung melepaskan tangan Flo dari tangan Lea.
"Dia tidak boleh jauh-jauh dariku," beritahunya pada Flo.
Glen lalu mendekat pada Flo untuk mengatakan sesuatu.
"Maklum, duda bulol kalau lagi jatuh cinta gilanya ngalahin orang di rumah sakit jiwa," ujarnya memberitahu Flo.
Flo hanya tertawa kecil dan mengangguk paham.
"Yah siapa yang tidak tahu tuan El Zibrano yang posesif," sindirnya pada El sembari berjalan masuk ke dalam gedung.
"Yah selain gila dan posesif, dia juga psikopat," sahut Ziko lirih yang mana hal itu bisa El dengar.
"Kau bilang apa barusan?" tanya El membuat mereka bertiga tertawa kala melihat ekspresi Ziko yang terkejut.
"Tidak, saya hanya mengatakan lupa bawa obat," elaknya membuat El berdecak.
Keempatnya lalu buru- buru masuk ke dalam sebelum terkena pistol El.
Lea yang melihat hal itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
El langsung merengkuh pinggang ramping Lea saat mereka memasuki gedung.
"Jangan jauh-jauh dariku," ucapnya saat mereka melangkah masuk ke dalam gedung.
Lea hanya diam dan sibuk menelisik para tamu undangan.
Siapa yang tahu jika di sisi lain ada Tera dan sekretaris papanya yang melihat Lea datang bersama dengan El dan rombongannya.
"Siapa pria yang berjalan bersamanya?" tanya Tera pada Virgo, sekretaris papanya.
"Dia adalah El Zibrano Alemannus, pemilik perusahaan Lotte Chemical sekaligus perintis hotel Posco dan rumah sakit pribadi," jelasnya pada Tera.
"Pantas saja dia begitu sombong dan arogan. Backingannya Pria tampan itu," pujinya di akhir kalimatnya.
Tera tak hentinya menatap Lea yang asyik bercengkerama dengan Flo.
Namun yang membuat Tera salah fokus ialah tangan El yang tak lepas dari pinggang Lea.
"Apa hubungan mereka? Kenapa begitu dekat sekali?" gumam Tera yang semakin penasaran.
"Lalu apa langkah anda selanjutnya nona?" tanya Virgo pada Tera.
Tera meletakkan gelasnya lalu menatap Virgo.
"Seperti yang kuperintahkan tadi, kau paham?" Virgo mengangguk dan segera pergi.
Tera menatap sekilas Lea lalu pergi ke suatu tempat.
Sedangkan di rombongan El kini sibuk membahas untuk pergi liburan bersama.
Dan perlu kalian ingat, di sini Flo yang paling bersemangat dan antusias.
Ia terlihat begitu senang dan akrab dengan Lea.
"Pokok nanti kita harus liburan berdua, pokok kalau perlu nanti kita keliling dunia, bagaimana? Kau setuju kan dengan rencana itu?" Lea mengangguk sembari tersenyum pada Flo.
Hingga Lea merasa tak tahan lagi saat ini dan ingin segera ke belakang.
Lea meletakkan gelas Lea di atas meja dan memanggil El.
"El," panggilnya pada El.
El yang tengah sibuk mengobrol langsung menatap Lea.
"Apa sayang?" tanya El dengan lembut.
"Aku ingin ke belakang sebentar," bisiknya pada El.
El segera meletakkan gelasnya di atas meja.
"Ayo kuantar," ucapnya dengan sigap membuat Flo yang melihatnya tak henti tersenyum.
"Tidak aku akan pergi sendiri," tolak Lea membuat El langsung menatapnya marah.
Flo yang tak tahan dengan drama rumah tangga tersebut sontak langsung menengahi.
"Udah- udah biar kuantar," ucapnya sembari menarik tangan Lea pelan.
"Jaga dia baik-baik," pesannya pada Flo sembari begitu berat melepas tangannya dari pinggang Lea.
Flo melemparkan umpatan pada El membuat Glen menertawakannya.
El lalu kembali mengobrol dengan sesekali melihat punggung Lea yang semakin menjauh.
"El, apa bentuk dari tato pada punggung tangan pria itu?" tanya Sarvel pada El sembari menunjuk pria yang membelakangi mereka.
El menajamkan tatapannya untuk bisa melihat bentuk tato tersebut.
Begitu juga dengan Alvino, Glen dan Ziko.
Hingga kedua mata El membelalak lebar kala melihat tato Naga yang melingkar pada bintang.
"Bukankah itu tato tanda pengenal dari kelompok mafia Albania?" cetus Sarvel yang begitu ingat dengan tato legendaris tersebut.
"Ada apa?" tanya Flo yang tiba-tiba saja datang.
El langsung menoleh dan tidak menemukan Lea bersama dengan Flo.
"Di mana Lea?" tanyanya dengan nada dingin dan mata yang tajam.
"Dia bilang ingin mengambil kue," jawab Flo dengan terkejut dan juga takut secara bersamaan kala melihat tatapan El yang begitu tajam.
El kembali melihat pria bertato itu dan tidak ada.
"Kemana perginya pria itu?" tanya El sembari menelisik beberapa orang yang berdiri di sana.
"Dia menuju ke tempat kue," teriak Ziko membuat El menajamkan tatapannya dan langsung berlari mengejar pria tersebut sebelum lebih dulu bertemu dengan Lea.
LAP
__ADS_1