ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 16


__ADS_3

Sesampainya di mansion El langsung membopong tubuh Lea masuk ke dalam.


Lea yang baru tahu sifat marah El kini entah kenapa ia tak bisa berkutik sedikitpun.


Bahkan sangat takut untuk buka suara.


Dengan pelan El mendudukkan Lea di tepi ranjang.


Ia melepas jasnya dan pergi ke walk in closet.


"Saat serius ia lebih seperti pria, bukan berandalan yang mesum," gumam lirih Lea sembari menatap keranjang baby Enzo.


Tak lama El kembali dengan kotak obat kecil di tangannya.


El langsung duduk di samping Lea dan menyibakkan rambutnya ke belakang agar ia bisa dengan mudah dan jelas mengobati leher Lea.


Lea beberapa kali menelan salivanya membuat El diam-diam tersenyum.


"Kutanya sekali lagi, apa Oliv yang melakukannya?" tanya El untuk memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


"Tidak," jawab Lea dengan cepat dan tegas.


Sesekali El meniup leher Lea yang mana hal itu membuat dirinya merasa ngilu dan perih melihatnya.


"Jangan sampai aku tahu kau berbohong hanya untuk menutupi sikap jahat sahabatmu. Kau ingat ucapanku, sekalipun keluargamu yang menyakiti, akan kubantai habis mereka semua," ucap El kembali mengingatkan Lea.


Lea memainkan jarinya dan berusaha setenang mungkin untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada El.


Hingga Lea menyadari sesuatu yang baru saja El katakan.


"Bagaimana kau bisa tahu jika aku dan Oliv sahabatan?" tanya Lea yang tiba-tiba menoleh di mana hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung El.


El menatap Lea dengan napas yang terdengar sangat berat.


"Kamu lupa dia mamanya siapa? El Zibrano Alemannus. Dua orang yang berbeda dengan sifat yang sama, apapun bisa kami dapatkan sekalipun itu tentang hal kecil," jawabnya dengan suara seraknya.


Lea tersenyum miring lalu menepuk pundak El.


"Lalu kenapa kau tidak bekerja saja dengan BIN, dengan begitu keahlianmu mencari tahu tentang informasi seseorang sedikit berguna, bukan untuk mencari tahu berapa ukuran pakaian dalam wanita, dasar pria cabul," oloknya di akhir kalimat membuat El menyunggingkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Asal kamu tahu, selama ini hanya pakaian dalammu yang membuatku sangat penasaran, karena itu aku sengaja mencarinya," goda El yang mana hal itu membuat Lea memicingkan matanya pada El.


"Yaaa! Kenapa kau begitu mesum," teriak Lea yang langsung beranjak dari ranjang dan mundur menjauhi El.


El tertawa puas membuat Lea kini langsung menyilangkan tangannya di depan dada.


El langsung beranjak dari ranjang sembari membereskan kotak obatnya.


"Tidak perlu malu, aku sudah pernah melihat semuanya," ucap El sembari menatap Lea dengan senyuman manisnya.


"Tanpa terlewatkan satu inchipun," lanjutnya sembari mengedipkan sebelah matanya.


Lea langsung melepas high heelsnya dan melemparkan pada El.


Sayang sekali El begitu gesit dalam menghindar membuat kepalanya selamat dari lemparan high heels Lea.


Kringgg


El berhenti di dekat almari untuk melihat ponselnya.


"Sayang mandilah lebih dulu, akan kususul nanti," godanya sembari balik arah untuk menerima telepon dari seseorang yang penting.


Lea kembali melepas high heels sebelahnya dan kembali melemparkan pada El.


Berhubung El sedang di luar Lea bergegas untuk mandi.


Lama El bertelepon kini ia kembali ke kamar untuk kembali menggoda Lea.


Namun sayang sekali, wanitanya itu sudah lebih dulu terlelap di bawah gulungan selimut tebal miliknya.


El berjalan perlahan untuk melihat Lea di sofa.



El tersenyum tipis sembari membuka kancing kemejanya.


Sebelum tidur, El memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Selesai mandi ia kembali menghampiri Lea di sofa.

__ADS_1


"Besok aku akan menjual semua sofa di rumah, bagaimana bisa ia tidur di sofa saat ada ranjang luas di kamar," dumelnya sembari membaringkan secara perlahan Lea di ranjang.


Lea menggeliat pelan membuat El tersenyum dan menarik selimutnya untuk mereka berdua.


El menopang kepalanya dengan tangan kiri di mana tangan kanannya sibuk mengusap perut rata Lea.


Hingga tatapan El kembali tertuju pada leher jenjang Lea yang memerah tadi.


El meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Iya tuan," jawab pengawal di rumah mamanya.


"Bisa periksakan rekaman CCTV di teras? Aku ingin memeriksa sesuatu," ucapnya pada pengawal.


"Baik tuan," jawabnya membuat El langsung mematikan teleponnya.


Ia meniup perlahan leher jenjang Lea lalu mengecupnya singkat.


Ting


El langsung meraih ponselnya untuk melihat rekaman yang ia minta.


Hingga kedua alis El tampak menyatu menandakan jika ia sedang marah kala melihat rekaman tersebut.


"Bahkan ia berbohong hanya untuk menutupi perbuatan sahabatnya," gumam El heran sembari melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


Napasnya terdengar begitu memburu, hatinya begitu bergejolak kala melihat rekaman Oliv mencekik leher Lea.


El kembali menatap leher jenjang Lea dan menghembuskan nafas berat.


"Apa untungnya menjadi orang baik jika kau hanya akan tersakiti," gumam El di mana tangan sakaratul mautnya kini beralih ke punggung Lea hanya untuk melepas kacamata kuda tersebut.


El mengecup singkat leher jenjang Lea sebelum ia berbaring di belakangnya.


"Kau harus diberi hukuman sekalipun sudah tidur, lagian aku juga harus minum susu sebelum tidur," gumamnya sendiri sembari menarik selimut sebatas pundak lalu menyelusupkan tangannya di balik gaun hitam Lea.


"Engh akhh," desah Lea kala tangan maut El meremas benda kenyalnya.


Selagi memainkan squisy Lea, El tak hentinya membuat tanda pada tengkuk belakang Lea.

__ADS_1


Hingga El sudah puas meski belum minum susunya, ia berhenti memainkan squisy Lea.


"Ngomong-ngomong di mana Ziko dan yang lain?" gumamnya bertanya tentang mereka yang tak ada kabarnya.


__ADS_2