ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 109


__ADS_3

Malam harinya di markas Klan Wolf


"ZEN ZIKO!" teriak Alvino dengan begitu keras hingga menggema di ruang tengah.


Guk guk


"Anjing, di mana dua temanmu?" tanya Alvino pada anjing penjaga markas.


Anjing putih itu langsung naik ke atas tangga membuat Alvino langsung mengikutinya.


BRAK


Alvino membuka begitu keras pintu kamar.


"YAAA!" teriaknya pada Ziko dan Zen yang tengah asyik bermain game.


"Apaan sih bangsat, teriak-- teriak aja kayak orang gila," kesal Zen yang terkejut di mana hal itu membuat ia kalah dari gamenya.


"Yaa, tolong bantu aku ini sangat darurat sekali," pintanya pada mereka berdua dengan penuh harap.


"Zen saja," ujar Ziko lebih dulu di mana ia tak ingin jadi tumbal Alvino.


"Ini butuh dua orang," sahut Alvino membuat Zen tersenyum jahat di mana tidak hanya dirinya yang akan menjadi tumbal melainkan dengan Ziko juga.


Ziko membuang napas kasar dan meletakkan stik PS nya.


"Kau tahu, aku dengannya kalau disatuin, bakal rusak. Kalau enggak sial ya malang, mending minta bantuan pada para pengawal aja," suruh Ziko yang tak ingin melakukan permintaan Alvino.


"Kumohon, ini hanya kalian berdua yang bisa melakukannya," tegasnya yang masih berusaha untuk meminta tolong pada mereka berdua.


Zen melirik Ziko yang terlihat begitu tertekan sekali.


"Yaa, bukankah seharusnya aku yang tertekan karena harus bersamamu? Kenapa kini kau bersikap seolah- olah begitu tertekan saat bersamaku," tanya Zen dengan ketus dan juga kesal di mana rasa kesalnya masih menyumbat dalam hati ketika terakhir kali ia dijadika tumbal di restauran.


Ziko menghembuskan napas panjang lalu mengangguk.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang harus kita lakukan?" tanya Ziko membuat Alvino tersenyum lebar.


"Setelah kalian membantuku aku akan mengabulkan semua permintaan kalian berdua," mendengar hal itu keduanya tampak begitu antusias dalam membantu Alvino.


Alvino sedikit mendekat pada mereka berdua.


"Jadi gini," Alvino lantas menceritakan semuanya dengan panjang lebar.


"Lalu intinya?" tanya Zen dengan geram.


"Aku ingin memberikannya kejutan," jawabnya dengan muka yang dibuat selucu mungkin.


"Lalu kejutannya?" tanya Ziko yang sudah mencium bau- bau tidak sedap dari permintaan Alvino.


Alvino mengembangkan bibirnya lalu membasahi bibir bawahnya sekilas.


"Tolong belikan balon LED yang sedang ramai saat ini," sontak mereka berdua langsung mengerutkan keningny kala mendengar permintaan Alvino.


"Balon LED? Seperti apa?" tanya Ziko yang mana Alvino langsung menunjukkan fotonya.


"Seperti ini," serunya sembari memberikan ponselnya pada Ziko.



"Yaaa, kau serius minta kami membeli ini?" Alvino dengan polosnya mengangguk.

__ADS_1


"Mau ditaruh di mana muka kami nanti saat membeli ini, kau beli sendiri kenapa sih?" tanya Ziko dengan kesal.


"Karena aku sibuk nyiapin hadiah, jadi enggak bisa beli sendiri. Karena itu aku minta kalian untuk membelinya,"keluhnya membuat mereka berdua membuang napas gusar.


"Kumohon, tolong belikan ya, hanya kalian berdua yang bisa bantu aku, Glen sama Sarvel lagi bucin," melasnya pada mereka berdua.


"Sepertinya jalan satu- satunya untuk kita agar tidak selalu dijadikan tumbal adalah mencari pasangan," Ziko langsung mengangguk setuju.


"Tapi siapa yang mau sama kita?" Zen membuang napas kasar kala mendengar pertanyaan Ziko.


"Udah sekarang buruan berangkat dan belikan balonnya sebelum larut malam," suruh Alvino sembari menarik tangan mereka berdua.


"Uangnya?" pinta Zen membuat Alvino langsung memberikan blackcardnya.


Ziko dan Zen yang melihat hal itu tampak berbinar dan langsung berangkat dengan antusias.


Sesampainya di garasi, Zen malah salah fokus dengan motor moge yang ada di samping mobil brio.


"Yaa, bagaimana jika kita naik motor saja? Aku tidak pernah naik motor setelah kecelakaan waktu SMA dulu," tawari Zen yang sangat ingin naik motor.


Ziko tampak manggut- manggut dan dengan sikap coolnya ia mengambil kunci motornya.


Ziko mengeluarkan motornya membuat Zen melompat kegirangan dan sangat girang sekali.


"Cepat naik," pinta Ziko yang diangguki oleh Zen.


Motorpun melaju meninggalkan pelataran markas.


Namun Zen sedikit geram kala Ziko mengendarai motornya dengan kecepatan 20 km/jam.


"Yaa, kau niat bawa motor enggak? Kapan nyampenya jika kau tarik gasnya segitu?" tanya Zen yang sudah mulai emosi.


Ziko mencoba menambah kecepatannya menjadi 40.


"Iya- iya bawel banget," ketus Ziko yang mana kini kepalanya sudah seperti kipas angin.


"Tambah cepat lagi Zik, keburu malam," teriak Zen karena anginnya yang sedikit membuat bising.


"Siapa yang tenggelam?" teriaknya dengan keras.


"Malam dongok, bukan tenggelam," teriak Zen dengan keras membuat beberapa pengendara motor menoleh menatapnya.


"Iya nanti aja kalau udah sampai markas kita makan malam," jawab Ziko yang membuat emosi Zen meledak- ledak.


"Oh hyang widhi, dengan apa aku haru berbicara dengannya," gumam Zen yang sudah putus asa berbicara dengan Ziko.


CIT


DUGH


"Awww," ringis Zen kala kepalanya terbentur kepala Ziko.


"Nah itu balonnya Zen," pekik Ziko dengan begitu kerasnya membuat beberapa orang menoleh dan Zen malu dengan hal itu.


Zen melihat ada penjual balon LED yang tengah dikerumuni beberapa perempuan.


"Bisa enggak sih Zik, biasa aja enggak usah heboh. Kepalaku hanya ada satu tanpa ada jaminannya kau main berhenti aja tanpa lihat situasi," tekanny sembari mengetatkan rahangnya.


"Iya maaf- maaf," serunya yang langsung menghampiri penjual balon tersebut.


"Pak beli balonnya satu," ujarnya yang diangguki oleh bapak penjualnya.

__ADS_1


"Mau yang bentuk apa tuan?" sontak Zen dan Ziko melihat karakter dari balon- balon LED tersebut.


"Alvino tidak memberitahu kita bentuk balonnya apa, bagaimana jika kita beli semua?" Zen hanya mengangguk pasrah.


"Semua saya beli pak," penjual itu dengan senang hati langsung memberikan semua balonnya pada Ziko.


"Nih pak," ujar Zen sembari memberikan black card milik Alvino.


"Ini buat saya semua?" tanya penjual itu membuat Zen melebarkan matanya.


"Ya enggak pak, bapak kasih kembalian," ucap Zen membuat Ziko merasa malu dengan hal itu dan langsung menggampar kepalanya.


"Kau kira bapaknya mesin ATM, kalau bapaknya kasih kembalian, dia gimana ngambil uangnya bego," bisiknya yang malu dengan sikap oon Zen.


Ziko lalu mengeluarkan uang cash dan memberikannya pada penjual tersebut.


"Makasih ya tuan," Ziko hanya mengangguk dan kembali ke motornya dengan balon yang begitu banyak sekali.


"Ganti, sekarang kau yang bawa motornya," suruh Ziko pada Zen.


"Aku?" Ziko hanya mengangguk sembari memegangi balonnya.


Zen langsung naik ke atas motor bersiap untuk mengemudi.


"Tuan, jika anda bawa seperti itu balonnya, nanti bisa terbang. Mending diikat aja," ujar penjual itu pada Ziko.


Zen dan Ziko menatap balon- balonnya yang mungkin ada sekitar 30 an.


"Diikat di mana?" tanya Ziko membuat penjual itu langsung mengeluarkan tali.


"Gini," serunya yang langsung mengambil balonnya tersebut dari tangan Ziko lalu mengikatkannya ke perut Ziko.


"Nah kalau gini kan enggak bakal terbang balonnya," seru penjual itu.


"Iya sih pak enggak bakal terbang, tapi sayanya malu," keluh Ziko yang mana kini punggungnya sudah dipenuhi oleh balon- balon kemerlip tersebut.


Zen yang melihat hal itu langsung memotret Ziko dan tertawa terbahak- bahak dengan sangat puas dan keras.


"Udah ayo pulang," ketus Ziko dengan kesal.


Mereka lalu pulang dengan Ziko yang benar- benar malu saat ini.


"Yaa, cepat sedikit, aku sangat malu saat ini," bisik Ziko yang tidak berani melihat kanan kiri karena malu.


"Oke," jawab Zen dengan seringaian.


Wush


Ziko merasa tertarik ke belakang kala motornya melaju dengan cepat.


"Yaa bangsat," teriak Ziko sembari menarik baju Zen.


"Iya sabar, ini juga udah cepat," Zen menambah lagi kecepatannya.


"Kau ingin menerbangkanku atau bagaimana, aku hampir terbang saat ini," teriak Ziko begitu keras.


Zen lalu mengurangi kecepatannya sembari tertawa keras kala melihat ekspresi Ziko dari spion.


"Gara- gara Alvino aku harus menahan rasa malu saat ini. Awas aja kau besok," gerutunya tanpa henti.


Zen yang mendengar gerutuan Ziko hanya bisa tertawa lepas sembari menikmati naik motornya.

__ADS_1


"Buat Shakila, awas aja kau tidak jadi istrinya Alvino, akan kunikahi sendiri kau nanti, aku udah berusaha menahan malu saat ini hanya untuk membeli balonnya," teriaknya begitu keras membuat Zen lagi- lagi tertawa.


__ADS_2