
Pantai Cala Goritze
Ada Zen dan Ziko yang tengah menata tulisan Marry Me untuk Glen.
Ya, lagi- lagi mereka mendapatkan tugas tersebut.
"Yaaa!" teriak Zen dengan napas yang terengah- engah.
"Aku tahu kau lelah, mari selesaikan ini dan ayo kita pulang," jawab Ziko lebih dulu sebelum Zen berbicara.
"Sebenarnya kita ini teman mereka atau tukang dekorasi sih, kenapa selalu kita yang siapin kejutannya?" tanyanya dengan berteriak kesal.
"Tidak hanya kau, aku juga lelah. Aku saja bingung dengan pekerjaanku saat ini, sebenarnya aku ini sekretarisnya El atau tukang dekorasi, tapi mengingat semua kartuku dibekukan oleh El, jadi enggak papalah. Cari pemasukan lain sebagai gantinya, itung- itung cuma nata tulisan Marry Me gini udah dapet blackcard kan lumayan," serunya pada Zen sembari menyeka keringatnya.
"Yaaa bangsat, yang dibekukan kartumu, kenapa aku harus membantumu untuk bekerja? Kau kira aku jauh- jauh dari Washington kemari untuk bekerja sebagai tukang dekorasi? Enggak bangsat," teriaknya yang sangat- sangat frustasi dan tertekan dengan Ziko.
Beberapa bule yang tengah berjemur juga para wisatawan menatap mereka dengan senyuman tipisnya.
"Yaa tenanglah, bertahanlah sedikit lagi, setelah ini selesai, kau bisa kembali ke negaramu sana dan hidup tenang. Setidaknya kau sudah melakukannya setengah perjalanan, apa kau akan meninggalkanku begitu saja?" tanyanya pada Zen dengan wajah yang ia buat semelas mungkin.
"Ya aku akan pulang sekarang saja, mumpung ada penerbangan ke Washington," gumamnya yang hendak pergi.
Sontak Ziko langsung berlari menghampiri Zen dan memeluk kakinya sembari merengek begitu keras sekali.
"Yaa, minggir atau kutendang," peringatinya sembari melihat kanan kiri di mana semua wisatawan dan bule menatap keduanya dengan senyuman dan bingung.
"Tolong jangan pergi sekarang. Jika kau pergi, aku dengan siapa," rengek Ziko yang masih memeluk erat kaki Zen.
Tak lama datang bule menghampiri keduanya.
"Maaf brother, kamu sebagai laki- laki jangan semena- mena dengan pasanganmu, ia sudah memohon di kakimu, tak bisakah kamu melihat betapa ia mencintaimu?" ujarnya dengan bahasa inggris membuat Ziko hanya melongo dan tak paham apa maksudnya.
Zen yang mendengar ucapan bule itu menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak, anda salah paham. Dia bukan pasanganku, dia temanku, yah meski sedikit gila. Meski wajahku pas- pasan, aku masih normal kok," jawab Zen dengan bahasa inggrisnya yang begitu lancar.
"Tidak usah malu untuk mengumbar hubungan kalian, bukankah di Italia diperkenankan hubungan untuk gay?" Zen menggelengkan kepalanya dengan keras.
Ziko yang sedikit ngerti beberapa kata bahasa inggris sontak langsung ikut buka suara.
"Yes yes, he is husband, he is my love," ujar Ziko pada bule itu membuat Zen melototkan kedua matanya tak percaya.
"YAAA!" teriak Zen membuat Ziko menyunggingkan senyum lebarnya.
Bule itu tampak manggut- manggut sembari tersenyum dan pergi begitu saja.
"Yaa bodoh, apa yang kau katakan barusan, bisa- bisanya kau bilang aku suamimu? Ayo ke tengah laut, aku akan menenggelamkanmu," ajak Zen sembari menarik tangan Ziko.
"Iya- iya nanti kita ke tengah laut, sekarang kita bereskan tulisan ini," kata Ziko beralasan.
Zen mengangguk dan langsung menata tulisannya membuat Ziko ingin tertawa saat ini.
....
Dan kini helikopter El sudah sampai di pantai dengan tepat waktu sesuai dengan rencana Glen yang ingin melamar Flo.
"Kita mau kemana sih Glen?" tanya Flo yang kedua matanya ditutup oleh kain hitam.
"Sebentar lagi ya, ini kita sudah sampai," jawab Glen sembari menggenggam erat tangan Flo dan melihat keluar jendela.
Glen tersenyum kala melihat Ziko dan Zen sudah menyiapkan tulisan sesuai dengan permintaannya.
Helikopterpun mendarat di tepi pantai dengan sangat sempurna.
"Kita sudah sampai?" tanya Flo saat merasakan helikopternya berhenti.
"Ya," jawab Glen sembari membuka pintunya dan menuntun Flo secara perlahan untuk turun.
Glen melihat wajah Ziko dan Zen sangat segar dan bersih.
"Apa mereka baru saja berenang?" gumam lirih Glen kala melihat mereka yang terlihat seperti habis mandi.
Glen menuntun Flo ke dekat tulisan marry me tersebut.
Ia lalu membuka penutup mata Flo.
__ADS_1
Dengan penglihatannya yang sedikit remang- remang, Flo mengedarkan pandangannya.
Terlihat Flo membungkam mulutnya kala ia berada di pantai.
Dan ia lebih terkejut lagi saat melihat tulisan Marry Me.
"Glen," panggilnya pelan pada Glen.
Glen hanya tersenyum dan langsung bersimpuh di depan Flo dengan tangan yang membuka kotak berudu.
"Aku sudah meminta restu pada om Burton kemarin, dan om Burton menyetujuinya. Saking tidak percayanya, aku ke sana dua kali bersama dengan Sarvel untuk memastikan jika papamu merestuiku," ungkap Glen membuat Flo tersenyum penuh haru.
"Dan kini tinggal kamu, aku bersungguh- sungguh ingin hidup bersamamu, menua denganmu, sampai tua dan selamanya. Jika kamu mengizinkan dan ingin hidup denganku, Will You Marry Me?" tanya Glen pada Flo dengan mata yang penuh harap.
Flo memalingkan wajahnya mengusap air matanya sekilas sebelum ia kembali menatap Glen dan tersenyum sangat manis.
"Yes, i will," jawabnya dengan tegas dan diiringi dengan air mata yang sekilas menetes.
Glen tersenyum bahagia dan langsung berdiri dengan sangat girangnya.
Ia memasangkan cincinnya ke jari manis Flo dan memeluknya erat.
"Terima kasih sudah menerima, terima kasih," ujarnya sembari menciumi puncak kepala Flo dan memeluknya sangat erat di mana senyum lebar itu tak pudar dari bibirnya.
"Zik Zen, akhirnya Flo jadi milikku, aku akan menikah dengannya, dia akan jadi milikku selamanya, yeeeee," teriaknya begitu keras sekali membuat wisatawan ikut bertepuk tangan.
"Lalu kita harus bereaksi apa?" tanya Ziko pada Zen.
"Gulung- gulung mungkin atau renang di tengah lautan," jawab Zen asal.
"GLEN SELAMAT YA," teriak El, Sarvel dan Alvino yang baru saja datang dari kejauhan.
Ziko dan Zen menoleh, terlihat mereka tampak rombongan membawa pasangannya masing- masing dengan senyum sejuta gula.
"Hei Ziko Zen," sapa Alvino dengan cerianya.
"Saat awal pertama kali aku datang kemari, ia adalah pribadi yang dingin dan jutek, lalu bagaimana bisa ia seceria ini, apa jiwanya tertukar denganku?" gumam Zen yang heran dengan sikap Alvino saat ini.
"Ia sudah menemukan pujaan hatinya, karena itu iner childnya keluar," jawab Ziko membuat Zen langsung menoleh menatapnya.
"Zen," sapa Lea yang langsung menghampiri Zen.
Zen dengan senyum lebar langsung merentangkan kedua tangannya.
HAP
Keduanya berpelukan di mana itu mengundang tatapan tajam dari suaminya serta yang lainnya.
Ziko yang berdiri di samping Zen merasa lututnya bergetar hanya karena tatapan tajam El.
"Kau akan di sini terus kan denganku?" tanya Lea sembari menguraikan pelukan Zen.
"Entah, aku sangat tertekan berteman dengannya," sindir Zen pada Ziko membuat Lea tertawa kecil.
"Ayo sayang," ucap El yang tiba- tiba datang merengkuh pinggang ramping istrinya dengan tangan kiri yang membopong baby Enzo.
El dan Zen bertatapan sekilas sebelum mereka melenggang pergi.
"Posesif banget jadi suami, takut banget istrinya gue telen," dumelnya yang kesal dengan El.
"Aku tidak akan mengadukanmu asal jangan balik ke Washington," celetuk Ziko membuat Zen langsung menatapnya tajam.
"Adukan saja pada tuanmu, aku tidak takut dengannya. Palingan entar juga kau yang bakal kena," tantangnya pada Ziko.
"Hei, kalian di sini juga?" tanya Sarvel yang tiba- tiba datang merangkul bahu keduanya.
"Kau kira tulisan Marry Me itu berjejer sendiri di atas pasir, kita orang yang menatanya," ketus Zen membuat Sarvel dan Alvino tertawa.
"Ayo kita makan dulu," ajak Berlyn pada Ziko dan Zen.
Keduanya mengangguk dan ikut bersama Alvino dan Sarvel untuk makan siang bersama.
Lea yang tengah memegang kamera tak hentinya memotret dengan senyuman yang manis dan lebar.
Hingga ia melihat El yang tengah sibuk dengan baby Enzo.
Lea tersenyum manis dan memotretnya.
__ADS_1
"Sayang, jalan- jalanlah bersama yang lain, biar aku yang menjaga baby Enzo," perintahnya pada Lea.
Lea hanya mengangguk dan berjalan ke tepi pantai untuk memotret pemandangan yang indah tersebut.
El ta bisa mengalihkan tatapannya dari Lea saat ini.
"Lihatlah nak, dari belakang aja mamamu sangat cantik, apalagi dari depan," ujarnya pada putranya.
"Lea," panggil Flo membuat Lea berbalik dan tersenyum manis.
Dan El lagi- lagi dibuat terpana dan jatuh cinta ke sekian kalinya pada Lea.
"Astaga nak, lihatlah mamamu, bukankah kata cantik tak cukup untuk menggambarkan pesona mamamu? Gini kalau enggak dijaga sampai mati, sangat rugi sekali. Pantas saja buaya- buaya di luar tak kedip saat melihat wanitaku," gumam El yang baru mengerti betapa luar biasanya pesona Lea.
Sedangkan di satu sisi ada Ziko dan Zen yang sibuk memotret sana sini.
Hingga ia menemukan obyek yang tak bisa mereka biarkan begitu saja.
Zen menoleh kala Ziko memotret beberapa kali.
Terlihat senyum devil tampak tampil di bibir Zen kala melihat Ziko tengah memotret Lea.
"El Ziko motoin Lea dari tadi," teriaknya begitu keras membuat El menoleh dan Ziko panik bukan main.
"Yaa bangsat, kenapa kau sangat cepu sekali, ini bisa kita jadikan koleksi berdua, kau begitu ember sekali," tekannya sembari mengetatkan rahangnya.
"Mana?" tanya El yang saat ini sudah berdiri di depan Ziko dan Zen.
Dengan tangan yang gemetar Ziko memberika selembar foto Lea.
"Lain kali kalau mau moto izin dulu sama yang punya, jangan asal jepret," peringatinya pada Ziko lalu melihat hasilnya.
Sangat bagus dan sempurna.
El berdeham sekilas lalu melenggang pergi dengan selembar kertas foto tersebut.
"Setidaknya berikan satu blackcard atau 100 euro, ia bahkan tidak mengatakan terima kasih padaku," dumel Ziko membuat Zen tertawa.
Sedangkan di tenda ada Sarvel dan Berlyn yang tengah mengobrol dan bersenda gurau.
"Ehh," kaget Berlyn kala Sarvel menarik tangannya hingga duduk di atas pangkuannya.
"Kenapa kau begitu cantik sekali hmm?" tanyanya sembari menciumi leher Berlyn.
"Sarvel, banyak yang melihat kita, " ucapnya yang merasa geli dan malu saat ini.
"Memangnya kenapa hmm? Aku melakukannya dengan calon istriku sendiri," jawabnya sembari melingkarkan tangannya di perut Berlyn dan langsung ******* bibir manisnya.
Ziko dan Zen yang tak sengaja melihat Sarvel dan Berlyn tengah berciuman, dengan kompak membuang napasnya gusar tanda tertekan.
Mereka lalu beralih ke tempat lain, namun malah melihat Alvino dan Shakila.
Ziko dan Zen lagi-lagi membuang napas gusar dan memilih untuk pergi ke tempat lain.
Namun mereka malah melihat El dan Glen yang sibuk dengan pasangannya sendiri.
"Yaaa, apa kita di sini hanya untuk menyaksikan kebucinan mereka? Semua pantai seakan dipenuhi mereka," dumel Zen yang sudah muak melihat kebucinan mereka.
"Kuharap mereka mendapatkan karma karena pamer kemesraan di depan kita yang jomblo," tambahi Ziko membuat Zen berkacak pinggang sembari membuang napas.
"Namun selama aku hidup, aku belum pernah melihat mereka yang memiliki pasangan mendapatkan karma karena umbar kebucinannya pada orang jomblo," sahut Zen membuat Ziko berdecak kesal.
"Udahlah, ayo kita ke LA, aku tertekan di sini," serunya sembari melenggang pergi begitu saja.
Zen langsung menyusul Ziko yang tampak lelah saat ini.
__ADS_1