ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 81


__ADS_3

Malam harinya setelah dari kantor, Lea meminta untuk mampir ke markas karena ia harus memeriksa Tera.


Selama di perjalanan El enggan melepas genggaman tangannya dari tangan Lea.


Lea yang was- was dan takut El tidak bisa fokus, beberapa kali memperingatinya.


Namun sayang sekali hasilnya tetaplah sama, sepertinya Lea lupa jika prianya itu aalah tuan El si keras kepala.


KIni mereka telah sampai di markas.


El merengkuh pinggang ramping wanitanya sembari berbisik sesuatu.


"Tetaplah di sampingku, jangan dekat- dekat merea, kamu paham sayang?" Lea mememutar kedua bola matanya dengan malas.


Di manapun dan kapanpun, El akan selalu posesif dan over protektif dengannya.


Lea hanya manggut- manggut membuat El langsung berhenti.


"Kenapa?" tanya Lea bingung.


"Jawab dulu," pintanya dengan manja membuat Lea tersenyum lebar.


"Iya sayang," jawab Lea dengan sedikit geram membuat El tersenyum lebar dan melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Lea.


El melompat kegirangan membuat Lea sedikit terkejut dan malu saat ini.


Para pengawal yang berjaga di samping pintu dan bisa melihat dengn jelas sikap lucu dan menggemaskan El, berusaha mati- matian untuk menahan tawanya.


Mereka meremas kuat celananya, melototkan matanya, mengetatkan rahangnya bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawanya.


Lea yang merasa malu saat ini langsung menarik tangan El untuk masuk ke dalam markas.


"Ayo cepat masuk," serunya sembari menarik tangan kekar itu untuk segera masuk kedalam markas.


Namun keduanya dikejutkan dengan situasi di ruang tengah.


Di mana ruang tengah markas kini menjadi tempat pijat dan urut.


"Arghhhh bangsat sakit, jangan diurut, lututku serasa lepas karena urutanmu," teriak Alvino yang sudah menggelinjang tak karuan saat pengawal mengurut kakinya.


"Hihihi, sakitttttt, hiks hiks," tangis Ziko dan Zen sembari menggigit bantal sofa.


"Flooooooo, arghhh sakit," teriak Glen yang memekakan telinga seisi markas.


"Bangsat jangan teriak arghhhhhhhhh," teriak Sarvel saat kakinya diurut begitu kuat.


El memicingkan matanya saat mereka berteriak tak karuan dan bersikap seperti anak kecil.


"Kenapa dengan mereka?" tanya El sembari menutupi kedua telinga Lea.


"Mereka pergi dari pukul 7 dan kembali pukul 5 sore tadi, tak hanya itu mereka diantar oleh para rombongan biksu, katanya sih mereka baru melakukan perintah Dewa dan sembahyang yang benar dan tepat," jawab pengawal yang tengah berdiri tak jauh dari ruang tengah.


Lea yang mendengar hal itu hanya bisa tertawa kecil.

__ADS_1


Ia menarik tangan El dari telinganya dan menghampiri mereka.


"Hei," sapa Lea pada mereka semua.


"LEAAAAAAAA," teriak mereka dengan serentak membuat El memicingkan matanya kala telinganya berdengung akibat teriakan merea.


"YAAAA!" teriak balik El membuat mereka langsung diam.


"Kalian kenapa? Habis jatuh? Atau terkilir?" tanya Lea dengan pelan dan hendak duduk di samping Glen namun si tuan muda posesif El Zibrano langsung menariknya agar duduk di atas pangkuannya.


"Posesif amat mas," sindir Glen kesal saat ia hendak mendapatkan kesempatan emas malah gagal.


"Bacot," jawab El kesal.


"Sofanya masih panjang kaliiii, harus banget ya dipangkuuuu," ucap Alvino dengan sirik yang langsung diangguki oleh mereka semua.


El memicingkan matanya sembari menatap satu persatu mereka berenam.


"Tajem amat tuh tatapan," gumam Zen heran dan sedikit dibuat terkejut juga senang saat El begitu menyayangi sahabatnya.


"Tadi kita baru saja dari Vihara," buka suara Sarvel.


"Tunggu, kalian memutuskan untuk memeluk agama Budha? Secara tiba- tiba gini?" tanya El yang terkejut.


"Boro- boro meluk agamanya, orang asisten gilamu tiba- tiba ngajakin kita semua buat sembahyang di Vihara tanpa status agama yang jelas," jawab Glen dengan kesal.


"Kau tahu kenapa dia ngajakin kita ke sana? Karena ia bilang telah bertemu dukun Milan yang sangat terpercaya, karena itu dia ngajakin kita buat sembahyang ke sana," imbuhi Alvino yang benar- benar dibuat geram dan kesal dengan sikap Ziko.


Lea yang mendengar hal itu sudah tak tahan untuk tertawa.


"Apa kau sungguh tak tahu tata caranya orang budha ibadah, kami sujud sebanyak 101 kali, karena kita ingin doanya cepat terkabul jadi kita menambahnya lagi 101 kali jadi totalnya 202, gimana enggak kesemutan dan enggak bisa jalan , orang cuma berdiri sujud, berdiri sujud, terus aja diulang gitu," ungkap Alvino yang terlihat sangat kesal.


"Kalian sungguh yakin jika doa kalian akan terkabul?" tanya El pada mereka semua.


Semua mengangguk kecuali Zen.


"Bagaimana bisa terkabul jika yang disebut dewa Mahabarata," gumamnya lirih sembari meremas kuat tangan sofa kala merasakan sakit yang tak tertahan saat kakiny diurut.


Lea yang mendengar cerita mereka saa, benar- benar tak bisa berhenti tertawa.


"Memangnya doa apa yang kalian panjatkan?" tanya Lea pelan pada mereka semua.


Mereka hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


"Rahasia dong sayang," jawab Glen dengan sedikit lembut membuat El dengan reflek langsung menarik kaki Glen.


"Arghhh bangsat sakit," teriaknya histeris.


"Panggil namanya enggak usah dikasih sayang," tekannya pada Glen.


Lea hanya tersenyum lalu beranjak dari pangkuan El.


"Aku akan melihat Tera lebih dulu," pamitnya pada El.

__ADS_1


"Ayo aku akan mengantarmu," ucap El yang hendak mengantar Lea namun langsung terhenti saat Lea menahannya.


"Aku akan pergi sendiri," katanya sembari menahan El agar tetap duduk di tempatnya.


El yang merasa sedikit tak tega sontak langsung meminta para pengawal untuk mengantar dan mengawasi Lea.


"Tolong antar wanitaku dan awasi dia dari ****** picik itu," perintahnya dengan sedikit penuh penekanan.


Sontak mereka berenam yang tadinya sedang diurut dan mengeluh merintih kesakitan dengan alasan tidak bisa jalan, dengan cakap langsung berdiri membuntuti Lea di belakangnya.


El yang melihat hal itu sontak langsung memicingkan matanya sembari meraih revolver dalam jasnya.


Klek


Dengan kompak mereka berenam langsung balik kanan dan duduk di sofa untuk kembali diurut setelah mendengar suara kongkangan senjata.


"Pantas saja Ziko mengeluh dan selalu mengatakan tertekan, ternyata begini rasanya bekerja dengan seorang algojo, salah dikit bisa putus nih kepala," gumam lirih Zen.


El lalu mengawasi mereka satu persatu memastikan jika tak ada satupun dari mereka yang beranjak dari sofa untuk modus pada wanitanya.


"Yaaa, apa kau sungguh akan mengawasi kami sampai nanti?" tanya Glen yang kesal dengan sikap over El.


"Ya, sampai Lea kembali," jawabnya dengan santai.


"Semoga matanya lepas agar aku bisa menyusul Lea," gumam Ziko lirih membuat Sarvel yang ember sontak langsung mengadu.


"El...," panggil Sarvel yang hendak mengadukan ucapan Ziko namun terhenti saat Ziko berbisik.


"Doamu akan sia- sia jika kau menjadi tukang ngadu, apa kau tidak ingin Berlyn kembali denganmu? Bagaimana jika malam ini ia kembali kencan dan besok melangsungkan acara pernikahan? Kau akan jomblo selamanya, selain Berlyn tak ada lagi wanita lain yang mau denganmu," ancamnya pada Sarvel.


"Kau ingin bicara apa?" tanya El dengan galak saat Sarvel tak melanjutkan ucapannya.


"Tidak, aku hanya memanggilmu karena rindu," bohongnya sembari menyunggingkan senyum manisnya di mana ia sangat takut dengan ancaman Ziko barusan.


Ziko yang mendengar Sarvel tak jadi mengadukan dirinya, sontak langsung mengusap dadanya sembari menghembuskan napas leganya.


"Untung masih selamat," gumamnya lirih.


El yang merasa tak enak hati saat Lea tak kunjung kembali sontak langsung beranjak dari sofa untuk menyusulnya.


Klek


El menoleh di mana Alvino, Glen dan Sarvel mengongkang senjatanya dan mengarahkannya padanya.


"Kalian berani menodongku?" tanya El dengan dingin dan tatapan yang tajam.


"Setidaknya berlaku adil, enggak nyusul satu enggak nyusul semua," kata Glen pada El.


Dan tak lama terlihat Lea berlari dari arah belakang.


"Sayang jangan lari- lari nanti jatuh," peringatinya pada Lea.


"Sayang jangan lari- lari nanti jatuh," tiru Glen yang sangat muak dengan ucapan manis El.

__ADS_1


"El Tera, Tera kabur," beritahunya dengan napas yang terengah- engah.


Sontak mereka semua langsung terkejut dengan laporan Lea.


__ADS_2