Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 10


__ADS_3

Dylan menghampiri kamar Fella dengan membawa makanan dan minuman. Dia ingin membujuk adiknya itu agar bisa menerima pernikahannya dengan Deliska yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


“Fell, Fella,” panggil Dylan sembari mengetuk pintu kamar Fella. Dia sudah menyiapkan film yang bagus untuk ditonton bersama adiknya itu dengan harapan sang adik mau diajak bicara dari hati ke hati.


“Kakak pengen nonton sama kamu nih, buka pintunya dong!” sambung Dylan sambil sesekali mengawasi makanan yang ada di nampan itu. Satu piring makanan dan dua gelas minuman buatan sang ibu sudah siap.


Tidak berapa lama, Fella membuka pintu kamarnya. Dylan adalah orang yang berhasil membuat pintu kamar dengan tulisan nama Fella itu terbuka. Melihat adiknya muncul, tentu saja Dylan menyunggingkan senyum karena berhasil menemui adiknya.


“Laptop kamu udah bisa, 'kan? Nonton yuk, kakak ada film yang bagus,” kata Dylan membuka percakapan. Meski sedikit merasa canggung, tetapi dia mencoba untuk bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi kesalahpahaman di antara dia dan Fella.


Tanpa mau menjawab, Fella membiarkan kakaknya itu untuk masuk ke kamarnya. Bagi Dylan, ini adalah kali pertamanya datang ke kamar Fella sejak pertengkaran mereka yang berakhir dengan saling mendiamkan.


“Kamu belum makan, 'kan? Kakak bawakan makanan buat kamu!” kata Dylan sembari mengulurkan nampan berisi makanan untuk adiknya yang terlihat pucat.


Mengurung diri di kamar tanpa makan, ternyata Fella sudah mempersiapkan bekal. Beberapa kantung plastik berisi sampah makanan membuktikan bahwa gadis itu tidak kelaparan selama ini.


“Makasih, Kak,” balas Fella sembari mengambil alih nampan itu dari tangan Dylan. Semua dia lakukan karena ingin terlihat sebagai anak yang baik di hadapan kakaknya itu.


Dylan mulai memutar film bertema komedi itu untuk menghibur sang adik. Sementara Fella kini mulai menyuapkan makanan yang dibawa Dylan ke mulutnya sendiri.


“Fel, kamu masih dengan perasaanmu itu?” tanya Dylan dengan menatap lekat-lekat mata adiknya yang kini masih menikmati makanannya.


“Kenapa? Bukannya kakak dulu juga butuh waktu dan berproses? Kak Dylan dulu juga merasakan hal yang sama, 'kan?” Fella bertanya balik. Sorot matanya yang tajam menghunus ke dalam mata Dylan yang ingin memberikan pengertian padanya.


Dylan mengalihkan pandangannya. Menghindari sorot mata Fella yang membuatnya kian tersiksa. “Ya, Fel. Semuanya memang butuh waktu. Kita tidak boleh memiliki perasaan itu. Cinta itu terlarang Fella, selamanya kita akan tersiksa sendiri.”

__ADS_1


Dylan terus mempengaruhi pikiran Fella supaya bisa membunuh perasaan itu. Dia yakin, Fella pasti bisa melakukannya karena dia pun bisa menghilangkan perasaan itu setelah sekian lama. Sementara itu, Fella mengabaikan semua nasihat yang kakaknya itu katakan.


“Kakak yakin, kamu pasti akan bertemu dengan laki-laki yang baik yang akan mencintai kamu dengan layak. Sama seperti kakak yang bertemu dengan Kak Deliska. Dia adalah yang terbaik yang bisa membuat kakak lepas dari perasaan salah ini, Fel.”


Fella begitu kesal saat mendengar kakaknya terus memuji Deliska. Hingga pikiran gadis itu semakin tidak terkendali. Dia jadi semakin yakin untuk melakukan hal nekat itu. Yang Fella pikirkan, dia juga bisa membuat kakaknya itu bahagia, dan menjadi yang terbaik untuk Dylan nantinya.


“Mungkin kamu mau kuliah di Inggris seperti kakak?” tawar Dylan sembari mengusap rambut Fella.


Fella hanya tersenyum kecut dan membalas, “Tidak perlu. Aku yakin bisa melakukannya dengan baik.”


Dylan dan Fella kembali menonton film yang sejak tadi telah diputar. Gadis itu mulai gelisah menunggu saat yang tepat untuk melancarkan aksinya.


Sampai akhirnya, kesempatan itu datang juga saat Dylan menerima panggilan telepon dari Deliska. Kebetulan, Dylan menerima telepon di balkon kamar Fella sehingga dia meninggalkan Fella yang masih menonton film itu sendirian.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Fella langsung mengambil benda cair yang sempat dibelinya. Tanpa ragu-ragu lagi, gadis itu memasukkan obat berbahaya itu ke dalam minuman sang kakak. Ia lalu bersikap seperti biasa, seolah tidak melakukan apa pun.


“Kamu nanti mau datang ke pernikahan kakak, 'kan, Fel? Kakak mau kamu jadi saksi pernikahan kakak, kamu bisa kan?” Dylan mengusap rambut Fella dengan tatapan penuh harap.


“Aku usahakan,” jawab Fella dengan lemas.


Dalam hati gadis itu sangat berharap Dylan akan segera meminum minuman yang telah dicampur dengan obat itu. Dia mengambil minuman miliknya sendiri dan tersenyum pada sang kakak.


Melihat senyuman Fella, Dylan turut mengukir senyum dan menghabiskan minuman miliknya. Tentu saja dia tidak curiga sedikit pun pada sang adik yang telah menambahkan sesuatu ke dalam minumannya.


Fella menyeringai penuh kemenangan saat melihat minuman Dylan telah habis. Dia lalu memutar film lain yang tidak ada dalam daftar yang dipilih Dylan.

__ADS_1


“Ini film apa?” tanya Dylan sembari memicingkan mata. Kepalanya mulai terasa berat dan tubuhnya mulai gerah.


“Ini film baru, aku juga belum pernah nonton ini,” jawab Fella yang kemudian menggigit bibir bawahnya sendiri. Dia sengaja melakukan hal itu untuk menggoda sang kakak.


Dylan membuang muka sambil mengatur napas yang mulai terasa aneh. Tubuhnya tidak seperti biasa, rasanya begitu panas dan gerah.


“AC-nya mati ya, Fel?” tanya Dylan sambil mengibaskan bajunya untuk mengurangi rasa panas yang menyiksa.


“Enggak kok, Kak. Aku juga nggak ngerasa gerah atau kepanasan kok,” jawab Fella yang kemudian menghabiskan minumannya sendiri.


Selang beberapa saat, Dylan mulai berhalusinasi. Dia membayangkan Fella sebagai Deliska dan mulai membelai gadis itu.


“Deliska, kenapa kamu bisa di sini?” tanya Dylan yang mulai dikuasai hawa naapsu.


Fella tidak mengelak saat Dylan mengiranya sebagai Deliska. Gadis itu malah semakin menggoda Dylan untuk melancarkan rencananya.


“Aku mencintaimu, Kak Dylan,” bisik Fella yang terasa senssual di telinga Dylan.


Dylan semakin tidak terkontrol. Dia meraih tubuh Fella dan membelainya. “Aku nggak tahu aku kenapa, Deliska. Rasanya tubuhku terbakar,” keluhnya.


Fella semakin nekat dan akhirnya naik ke pangkuan Dylan. “Kak Dylan, lakukan apa pun yang kamu mau!”


Dylan awalnya menolak karena mereka belum menikah, tapi Fella yang sudah dibakar ambisi terus membuat pertahanannya runtuh. Kedua insan yang terjebak dalam asmara terlarang itu, akhirnya melakukan kesalahan besar yang sangat fatal.


***

__ADS_1


Sabar ya, Gaes. Alur cerita aku mungkin bikin greget, tapi percaya sesuatu yang indah di akhir kan wkkk..


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2