
Tidak jauh dari tempat mereka berada, Fella berdiri sambil mencuri dengar setiap ucapan yang keluar dari mulut orang tua Deliska. Kebetulan saat itu Fella baru tiba di rumah sakit untuk menjenguk ibunya, dan tidak sengaja melihat keributan di depan IGD.
"Ada apa dengan Deliska?" batin Fella, tidak beralih dari tempatnya. Dia berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada Deliska.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya dokter mendatangi Dylan, dan menyampaikan hasil pemeriksaan. Dylan pun diajak ke ruangannya untuk membicarakan hal itu.
Fella yang saat itu masih berdiri dan mengintip, diam-diam mengikuti langkah Dylan dan dokter. Dia masih penasaran dengan pendarahan yang menimpa Deliska.
Namun, Fella menelan kekecewaan ketika tiba di sana. Ruangan dokter cukup luas, dan dia hanya bisa mengintip sedikit dari balik kaca jendela. Dia sama sekali tidak bisa mendengar suara dokter maupun Dylan.
Sementara itu, di dalam ruangan tersebut Dylan terlibat perbincangan serius dengan dokter. Mereka duduk, dan saling berhadapan dengan raut wajah yang sama-sama tegang.
Dylan tak banyak bicara. Dia sekedar diam sambil sesekali mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dylan sabar menunggu, sampai dokter membuka suara dan menjelaskan tentang keadaan Deliska.
"Dari hasil pemeriksaan lab yang telah kami lakukan, terbukti bahwa Nyonya Deliska mengidap penyakit kanker ovarium. Dan rahimnya harus diangkat agar penyakitnya bisa sembuh total."
Setelah mendengar penjelasan dokter yang cukup mengejutkan, Dylan langsung menunduk sambil memegangi kepala. Dia bingung, dan juga syok. Dia pikir istrinya hanya sulit hamil saja, tidak pernah menduga jika terkena kanker, dan bahkan rahimnya harus diangkat.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku menjelaskan ini sama Deliska? Perasaannya pasti hancur, karena selama ini dia sangat ingin hamil, bahkan sampai rela mengikuti beberapa program demi mendapatkan itu," batin Dylan dengan pikiran yang bercampur aduk.
"Kami menunggu keputusan yang terbaik dari pihak keluarga," sambung dokter, kembali bersuara karena Dylan tidak menyahut satu kata pun.
"Baik, Dokter. Nanti biar saya diskusikan dulu dengan istri saya," jawab Dylan kemudian. Setelah itu bangkit, dan keluar meninggalkan ruangan dokter.
Dengan langkah gontai, Dylan berjalan menuju tempat Deliska. Perasannya sangat kacau. Belum beres masalah Fidela yang sampai saat ini belum mendapat pengakuan dari Fella, sekarang ditambah masalah baru yang menyangkut Deliska. Dylan sungguh kalut memikirkan semua itu.
Setibanya di IGD, Dylan masuk dan menemui Deliska yang baru siuman. Istrinya itu menangis, mempertanyakan keadaannya yang tiba-tiba mengalami pendarahan.
"Apa kata dokter? Apa aku keguguran? Kalau sampai iya, aku nggak akan bisa memaafkan kamu. Karena hari ini, aku banyak pikiran gara-gara kamu," ucap Deliska, menyalahkan Dylan di sela-sela ketakutannya akan kondisi yang dialami.
Mendengar jawaban Dylan, Deliska tersenyum lebar. Hatinya perlahan melunak dengan sendirinya. "Jadi anak kita baik-baik saja?"
Dengan berat hati Dylan menggelengkan kepala, kemudian menggenggam erat tangan Deliska, sambil memberikan usapan lembut di sana.
"Kamu nggak hamil, Sayang," kata Dylan memberikan pengertian.
__ADS_1
Deliska tertegun lama. Dia mulai berpikir, jika bukan karena hamil dan keguguran, lalu darah apa yang tadi keluar cukup banyak?
"Kamu mengidap kanker ovarium. Demi kesembuhanmu, dokter menyarankan untuk mengangkat rahim kamu," lanjut Dylan sambil memandangi wajah Deliska. Harapannya, wanita itu bisa sabar dan ikhlas menerima kenyatan yang ada.
Akan tetapi, tanggapan Deliska jauh berbeda dengan harapan Dylan. Deliska yang saat itu mendengarkan penjelasan dari suaminya, langsung membeliak, dan tidak percaya bahwa ia menderita kanker.
"Itu nggak mungkin! Kamu pasti bohong, kan?" teriak Deliska.
Dylan menunduk sedih. Raut mukanya benar-benar masam karena terlalu banyak memendam beban.
"Aku tahu ini berat, Sayang. Tapi, itulah kenyataannya. Sekarang, tenangkan diri kamu ya. Kita pasti bisa menghadapi semua ini."
"Cukup! Ini nggak mungkin! Aku nggak kena kanker! Aku nggak mau angkat rahim!" Deliska berteriak histeris, masih saja tak percaya jika sekarang menderita kanker ovarium.
Melihat sikap Deliska, Dylan semakin tertunduk sedih. Dia tahu betapa hancurnya hati sang istri, tetapi apa yang bisa dia lakukan, takdir sudah berkata demikian.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋