Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 20


__ADS_3

Dengan uang yang dimiliki, Fella berhasil menyewa sebuah kamar sederhana di pinggir kota. Dia harus menghemat dan makan seadanya sambil mencari kerja. Berbekal ijazah SMA yang dimilikinya, perempuan itu melanjutkan hidup tanpa nama besar keluarganya.


Beruntung, Fella diterima bekerja di sebuah restoran sebagai petugas kebersihan. Setidaknya, dia bisa menghidupi diri sendiri dengan penghasilan itu.


Sudah satu bulan Fella meninggalkan keluarganya, meski berat tapi ternyata dia bisa melewatinya.


Pagi ini, saat akan berangkat kerja Fella merasakan pusing dan mual yang tidak bisa ditahan. Wanita itu awalnya berpikir bahwa dia sedang masuk angin karena kecapekan semalam habis kerja lembur. Namun, rasa mual itu benar-benar menyiksa hingga membuatnya mengurungkan niat untuk berangkat kerja.


Aku kenapa sih? Apa aku salah makan ya?


Fella sudah mengoleskan minyak angin ke perut dan leher tetapi rasa mual itu terus saja mengganggu. Akhirnya, Fella memutuskan untuk membeli obat ke apotek.


Saat baru keluar dari kamar, seorang tetangga menyapa Fella.


“Eh. Mbak Fella udah mau betangkat kerja ya?” tanya ibu-ibu itu.


Fella baru saja mengunci pintu kamar dan kini memperbaiki ritsleting jaketnya. Dia menatap wanita itu dan tersenyum.

__ADS_1


“Enggak kok, Bu. Cuma hari ini kurang enak badan aja,” jawab Fella.


Lawan bicara Fella itu kemudian mengerutkan kening saat melihat wajah Fella yang kuyu. “Kamu sakit ya? Kok pucat banget wajahnya.”


“Kayaknya saya masuk angin, Bu.”


Tiba-tiba saja Fella merasakan mual karena aroma dari makanan yang tetangganya itu bawa. Dia benar-benar tidak tahan dan akhirnya dengan cepat membuka pintu lagi dan berlari ke kamar mandi.


Tetangganya pun merasa kasihan dengan wanita itu. Dia menyusul Fella ke dalam kamarnya dan memeriksa keadaan.


“Kamu belum makan? Apa biar ibu yang belikan obatnya?”


“Nggak apa-apa, Bu. Saya baik-baik saja kok,” tolak Felka yang kini sudah membersihkan muka lagi supaya terlihat lebih segar. “Bau masakannya sedikit mengganggu,” imbuhnya sambil melirik makanan dalam rantang itu.


“Oh ini, rendang beli di warung pojokan. Sampek lupa sama suami yang request. Tapi kamu nggak apa-apa kan? Mual sama masakan kayak ibu waktu hamil aja!”


Wanita itu terus mengoceh sampai tidak menyadari bahwa Fella jadi termenung karena ucapan spontan itu.

__ADS_1


Setelah wanita itu pergi dari kamarnya, Fella memikirkan omongan tetangganya itu. Dia mengingat kapan terakhir kali menstruasi dan seketika menjadi lemas saat menyadari sesuatu.


“Selama pindah, aku belum mendapat tamu bulanan sama sekali. Apa ini artinya?”


Air mata Fella meluncur deras begitu menyadari akibat dari kebodohannya waktu itu. Ketakutan yang begitu besar sekarang tengah mrnghampirinya.


Fella tidak akan bisa berlari, walau kakinya mampu melakukannya. Jika dia benar-benar hamil, maka semuanya akan semakin rumit.


Aku harus memastikan dulu. Mungkin saja ini memang hanya masuk angin, bukan hamil.


Wanita itu segera pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Setelahnya, dia ingin segera kembali ke tempat tinggalnya untuk memastikan hasilnya.


Namun, saat hampir sampai, nasib sial kembali menghampirinya. Fella bertemu kakak tingkatnya di kampus yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah orang tuanya di pinggiran kota ini.


“Kamu Fella yang terkenal di kampus itu, kan?” Gadis cantik itu mengernyit dan memperhatikan wajah Fella dengan seksama. “Kamu kan anak orang kaya, ngapain tinggal di sini?”


Degup jantung Fella terdengar sangat keras. Akankah kakak tingkatnya itu membongkar semua berita tentangnya?

__ADS_1


***


maaf ya kalau typo, ngetik 1 tangan karena aku habis kecelakaan gaess, maaf ya 🙏🙏 bagi vote dong 💋💋💋


__ADS_2