
Fella tetap menolak ajakan Daffi untuk pulang bersama. Wanita itu lebih rela menunggu angkutan umum sampai malam daripada harus berhutang budi pada Daffi.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan Fella hingga sulit sekali menerima Daffi dan niat baiknya itu. Bagi Fella, masalah hidupnya sudah cukup rumit tidak perlu menambah beban dengan masuk ke dalam masalah orang lain.
Walau bayang-bayang anaknya yang akan dicap sebagai anak haram, tetapi bagi Fella itu jauh lebih mudah dihadapi daripada berhadapan dengan keluarga Daffi jika suatu saat kebohongan itu terbongkar.
Daffi masih setia menemani Fella di halte itu. Dia tidak memaksa wanita itu karena sadar Fella begitu keras kepala dan tidak mudah dipengaruhi. Dia hanya menjelaskan semua rencananya yang mungkin saja bisa sedikit menghapus keraguan di hati wanita hamil itu.
“Kamu pulang aja deh, Kak Daffi. Aku nggak akan mau pulang sama kamu, jadi percuma kamu nunggu aku.” Fella terus masang raut wajah ketus dan juga suara yang sangat datar. Dia tidak ingin membuat Daffi terus menaruh harapan karena sebenarnya Fella hanya tidak ingin berurusan dengannya.
Daffi turun dari motor dan menghampiri Fella yang keras kepala. “Kalau gitu aku temani kamu sampai dapat angkot. Walaupun aku nggak yakin sih bisa dapat angkot jam segini.” Laki-laki itu melepaskan jaket dan memberikannya pada Fella. “Pakai ini, Fel biar kamu nggak kedinginan!”
Fella melirik jaket yang terulur di hadapannya. Cuaca di kota ini memang sangat dingin di malam hari, dan bodohnya Fella lupa membawa jaket karena buru-buru. Padahal, dia sudah diberitahu manajer restoran bahwa akan lembur malam ini.
__ADS_1
Namun, harga diri Fella rupanya terlalu tinggi untuk menerima pemberian Daffi. Wanita itu tetap tidak mau menambah hutang budi pada Daffi. “Nggak usah, makasih!”
Daffi yang lagi-lagi ditolak pun hanya bisa menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memasangkan jaket ke tubuh Fella dengan memaksa.
Hal itu tentu membuat Fella melotot dan berusaha melepaskan jaket Daffi dari tubuhnya. Akan tetapi, Daffi segera menghentikan niat wanita itu.
“Aku ngelakuin ini demi anakmu itu. Dia anakku mulai hari ini, sekalipun kamu tidak mau menikah denganku,” ungkap Daffi begitu yakin.
“Maksud kamu apa sih, Kak Daffi? Kenapa kesannya kamu maksa aku banget?”
Fella mulai kesal karena tindakan Daffi yang seenaknya. Seolah laki-laki itu benar-benar menginginkannya dan anak yang belum lahir itu.
“Jangan menambah beban hidupku. Kamu nggak ngerti seberapa sulitnya aku menghadapi semua ini. Kesalahanku sudah terlalu fatal, jadi berhentilah dan jangan menambah masalah baru lagi!”
__ADS_1
Usai mengatakan hal itu, Fella hendak meninggalkan Daffi sendirian, tetapi sayangnya, laki-laki itu berhasil menangkap pergelangan tangannya.
“Aku sudah menghapus jejak rekaman yang tersebar di kampusmu. Aku sudah bisa menjamin kalau nenek tidak akan bisa menemukan jejak apa pun tentang masalahmu dan keluargamu itu. Asal kamu mau diam, aku pastikan semuanya aman. Kita bisa menikah, dan anak itu akan menjadi anakku!” kata Daffi tanpa melepas tangan Fella sedikit pun.
Mendengar penuturan Daffi itu, Fella berbalik badan untuk menunjukkan amarahnya pada Daffi. “Kenapa harus aku sih? Kenapa bukan orang lain saja yang masih gadis, yang bisa kamu bayar untuk kamu nikahi, kenapa harus aku yang sedang mengandung anak orang lain yang baru saja kamu kenal?”
Sorot mata Fella sangat mengungkapkan kebencian. Deru napasnya yang memburu mengisyaratkan bahwa wanita hamil itu sedang berusaha untuk tidak berteriak memaki laki-laki di hadapannya.
“Karena dari awal ketemu, aku sangat tertarik dengan anak dalam kandunganmu, Fel!”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋 yang masih punya vote, boleh dong dibagi 🥰
__ADS_1