Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 55


__ADS_3

Dylan tersenyum sekilas, tidak ada niatan sedikit pun untuk menjawab ucapan Mama Larissa. Dia sudah cukup kacau bergelut dengan perasaannya sendiri. Alergi almond, satu hal lagi yang membuat Dylan semakin yakin jika Fidela memang anaknya.


"Aku nggak akan menyerah lagi sekarang. Aku aku mengejar jawaban sampai kamu ngaku kalau Fidela memang anakku, Fel," batin Dylan sambil menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat.


Dylan akan menunggu sampai Fella keluar, dan setelah itu mencecarnya dengan pertanyaan seputar Fidela. Sekarang adalah saat yang paling tepat untuk menguak kebenaran itu, pikir Dylan.


Setelah cukup lama menemani Fidela di dalam, Fella pun keluar dan berganti Mama Larissa yang masuk. Dylan tidak membuang waktu lagi. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan yang memaksa.


"Fidela alergi kacang almond, sama sepertiku. Fella, kamu jangan mengelak lagi! Fidela memang anakku, kan? Dia bukan anaknya Daffi, kan?"


Mendengar itu, Fella mengembuskan napas dengan kasar. Lalu duduk di kursi tunggu, dan seakan tidak mendengar pertanyaan Dylan. Dia memang enggan menjawabnya, jadi lebih baik mengabaikannya saja.


"Fella!" Dylan tidak terima dengan sikap yang tak acuh itu. Hingga akhirnya dia mendekat, menuntut jawaban yang jujur.


Karena Dylan terus mendesak, dan entah sudah berapa kali mengulang pertanyaan yang sama, Fella tak bisa menyembunyikannya lagi. Ia pun bangkit dan mengakui kebenarannya.

__ADS_1


"Iya, Fidela memang anak kamu," ucap Fella.


Dylan sangat terkejut. "Lalu kenapa selama ini kamu menutupinya dariku? Jelas-jelas memang aku ayah kandungnya!"


"Terus kenapa kalau kamu ayah kandungnya? Memangnya kamu siapa? Punya hak apa?" Fella tak mau kalah. Dia meninggikan suara untuk mengimbangi Dylan.


Lelaki itu mulai diam.


"Kamu hanya bermodalkan setetes air maani, jangan sok-sokan meminta hak atas dirinya! Sama sekali nggak pantas!" sambung Fella.


"Fella!"


"Kamu jangan keterlaluan, Fella!" sahut Dylan, pelan tapi juga tegas.


"Aku, keterlaluan? Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu bentak-bentak aku, bicara kasar sama aku, sampai semua orang mengucilkan dan menyalahkan aku. Aku pergi sendiri ke bandara, sedangkan kamu dan Deliska bahagia dalam pesta pernikahan. Bahkan, Mama dan Papa juga ikut bahagia bersama kalian. Apa kamu pernah mikir, bagaimana perasaan aku? Bagaimana sulitnya aku hidup sendiri di luar sana? Kamu sama sekali nggak pernah peduli, bahkan saat video itu disebar pun, nggak ada rasa simpatimu sama aku. Memang ya, hanya Deliska yang selalu kamu prioritaskan, yang selalu punya nama baik di mata kamu."

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari mulut Fella cukup panjang, dan satu demi satu kata seolah menyayat hati Dylan. Sakit, perih, tak terkira lagi rasanya. Yang jelas saat ini Dylan sangat menyesali perbuatannya dulu. Seharusnya dia tak sekasar itu pada Fella.


"Aku memang salah karena udah menjebak kamu. Tapi, apa aku harus menerima semua perlakuan burukmu itu? Bagaimanapun juga, kesucianku hilang sama kamu. Itu udah menjadi konsekuensi besar yang aku tanggung. Tapi untuk yang lain, itu sangat berlebihan, dan aku nggak terima itu," lanjut Fella.


Dylan menunduk. "Maafkan aku, Fel."


"Beribu kata maaf nggak bisa mengulang masa lalu, tapi baiklah. Aku memaafkan kamu. Tapi, jangan pernah berpikir untuk memiliki Fidela, atau menuntut hak-hak atas dirinya. Kamu hanya sebatas ayah biologis. Sedangkan ayah yang diakui, selamanya hanya Kak Daffi. Sampai kapan pun kamu nggak akan bisa menggantikan posisi itu!" jawab Fella dengan suara yang masih meninggi.


Dylan menghela napas panjang, sakit dan sesak rasanya. Dia punya anak, tetapi tidak punya hak atas anak itu, malah orang lain yang lebih berhak. Namun, apa yang bisa dia perbuat. Semua terjadi juga karena kesalahannya, yang terlalu kasar dalam memperlakukan Fella. Andai saja dia bisa lebih lembut kala itu, pasti keadaan tidak akan seburuk sekarang.


"Andai saja waktu bisa diulang," batin Dylan dalam diamnya.


Lidahnya terasa kelu, hingga tak bisa membalas ucapan Fella. Jadi, hanya berucap dalam hati yang bisa dia lakukan.


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2