Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 31


__ADS_3

Rencana Daffi untuk memiliki anak Fella sepertinya akan berjalan dengan lancar. Sang nenek akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan anak Fella yang membuatnya terpikat tanpa hubungan darah.


“Nenek nggak mau tahu, kalian harus menikah secepatnya, sebelum kehamilannya semakin besar dan membuat malu keluarga!” putus nenek Daffi sembari mengibaskan kipas lipatnya.


Fella membulatkan mata lebar-lebar mendengar keputusan sepihak yang dibuat oleh nenek Daffi itu. Dia tidak mau menikah dengan Daffi, apalagi mengakui anak dalam kandungannya sebagai anak laki-laki itu.


“Ma-maaf, saya tidak bisa menikah dengan Kak Daffi–”


“Fella masih sangat marah sama aku, Nek. Mana mungkin dia mau menikah sama aku, mengakui aku sebagai ayah anaknya saja dia tidak mau,” sahut Daffi memotong pembicaraan Fella.


“Mana bisa begitu dong! Itu anak kamu beneran, kan? Kenapa dia melarang kamu mengakuinya sebagai anak kalau memang kamu ayahnya?” tanya sang nenek dengan curiga.


Fella pikir, masalah hidupnya akan semakin bertambah runyam karena keegoisan Daffi. Bukannya menyelamatkan dirinya dari kesusahan, Daffi malah membuat hidup Fella makin bertambah susah.


“Dia anakku, Nek. Hanya karena Fella kecewa, makanya dia hanya mengakui anak itu sebagai anaknya saja!” jawab Daffi sembari mengirimkan kode untuk Fella agar wanita itu mau menurut dan mengikuti rencananya.


Nenek Daffi kini menatap Fella dengan tajam. Sebagai satu-satunya wali yang dimiliki oleh Daffi, tentu nenek itu hanya ingin keturunannya hidup layak dengan limpahan kasih sayang. Jika Fella membesarkannya sendirian, nasib bayi itu pasti akan terlunta-lunta.


“Begini saja, kita lakukan tes DNA, setelah itu kamu bisa pergi kalau memang itu bukan anak Daffi. Tapi, kalau itu anak Daffi, kamu harus bersedia menikah dengannya, suka atau tidak suka!”


Nenek Daffi kembali mengibaskan kipasnya dan berbalik badan untuk melihat sekeliling. Beberapa warga yang begitu ingin tahu dengan apa yang terjadi, langsung diusir dan dibubarkan dengan paksa oleh nenek Daffi.

__ADS_1


Sementara itu, Daffi jadi ketar-ketir karena keputusan sang nenek untuk melakukan tes DNA pada anak Fella. Jelas-jelas itu bukan anaknya. Jika itu benar-benar terjadi, maka kesempatan Daffi untuk melindungi anak Fella akan berakhir, dan laki-laki itu tidak akan pernah tahu alasan apa yang membuatnya tertarik dengan bayi itu.


“Nenek, apa maksud Nenek meminta tes DNA? Nenek pikir Fella semurahan itu? Nggak, Nek. Itu anakku, anak kandungku,” sanggah Daffi tak ingin memperumit urusan. Dia menatap Fella dan meraih tangan wanita itu. “Fella, aku nggak rela kalau anakku tersiksa karena tes yang tidak perlu. Aku tahu, aku sangat salah untuk semua ini. Maafkan aku, dan terima saja pernikahan ini!”


Daffi terus berusaha membujuk Fella lewat bahasa tubuhnya. Sementara ekspresi wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda persetujuan.


“Setidaknya kita bisa bercerai setelah anak itu lahir dan mendapat pengakuan hukum sebagai anakku, kalau kamu memang sangat muak dan membenciku, Fel. Tapi aku nggak mau anak itu lahir tanpa seorang ayah. Bagaimana nanti dia bisa tumbuh dewasa dengan hinaan dan cibiran orang-orang? Apa kamu bisa setega itu, Fel?”


Pertanyaan Daffi itu sukses membuat pikiran Fella yang begitu labil akhirnya terpengaruh. Dia mulai membayangkan bagaimana nasib anaknya kelak jika mereka hidup berdua tanpa sosok seorang ayah untuk anaknnya.


“Setidaknya lakukan ini demi anakmu. Kamu boleh membenciku seumur hidup, tapi aku tetap akan menjadi ayah dari anakmu,” bujuk Daffi. Dia mengusap lengan Fella yang mulai goyah.


**


**


Kondisi pernikahan Dylan berjalan dengan sangat baik. Meskipun sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehamilan dari Deliska yang melengkapi pernikahan mereka, tapi setidaknya Dylan tidak mempermasalahkan tentang hal itu.


Namun, laki-laki itu terus memikirkan hal lain setiap kali dia sendirian tanpa sang istri. Bayang-bayang rasa bersalah mulai menyelimuti pikirannya tentang sosok sang adik yang sampai detik ini belum ditemukan.


Mengingat istrinya yang belum juga hamil, Dylan jadi teringat hubungan terlarangnya dengan Fella. Sekarang, dia mengingat jelas malam terlarangnya bersama Fella yang saat itu Dylan menyiramkan benih-benihnya di rahim sang adik. Akan tetapi, dia tidak bisa mencurahkan kegelisahannya pada siapa pun termasuk sang istri karena tak ingin membuat wanita yang dicintainya itu merasa kecewa.

__ADS_1


Bagaimana jika Fella benar-benar hamil? Bukankah itu akan membuat masalah semakin runyam? Bahkan, wanita itu belum ditemukan sampai detik ini.


“Sayang, besok aku mau coba ke alternatif ini ya. Ini rekomendasi dari teman Mama. Anaknya langsung hamil setekah menjalani program dari klinik ini,” kata Deliska yang tiba-tiba datang membawa selebaran.


Dylan menatap sang istri. Dia sama sekali tidak pernah memaksa Deliska untuk segera hamil, tapi wanita itu memiliki rasa khawatir sendiri karena ingin membuat mertuanya merasa bangga dengannya.


“Mending kita tunggu dan nikmati aja, Sayang. Kita nikah baru berapa bulan. Wajar kalau kamu belum hamil.” Dylan ingin melarang, tapi melihat antusias sang istri, dia merasa tidak tega sama sekali untuk mengatakan "jangan".


Deliska sudah menebak jika suaminya akan menolak keinginannya itu. Namun, dia sudah berambisi untuk segera memiliki anak secepat mungkin sebelum Fella ditemukan. Ya, selama ini Deliska memang merasa khawatir jika Fella muncul dan membawa berita kehamilannya. Tentu, dia tidak ingin tersingkir dan merasa malu seumur hidup.


“Aku pengen cepet hamil. Biar orang nggak ngira aku ini mandul.” Deliska memasang raut cemberut yang pasti akan membuat Dylan tidak bisa berkutik lagi.


“Tiap pagi kamu muntah-muntah, udah kayak orang hamil. Itu pasti pertanda kalau sebentar lagi kita akan punya anak,” imbuh wanita itu dengan percaya diri.


Mendengar perkataan Deliska, Dylan justru memikirkan sesuatu yang lain. Jika memang keadaannya yang mual dan muntah setiap pagi ada hubungannya dengan kehamilan, mungkin saja itu benar-benar sebuah tanda. Namun, bukan tanda kehamilan dari sang istri, melainkan dari Fella, adiknya sendiri.


“Mungkinkah Fella hamil?”


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2