
Setelah hatinya tenang, dan siap mengakui segalanya, Daffi menatap Fella yang masih setia duduk di sebelahnya.
"Sewaktu masih sekolah dulu, aku pernah pacaran sama perempuan yang sebaya denganku. Kami melewati batas, dan dia hamil," ungkap Daffi sembari menundukkan kepala. "Tapi, aku sangat pengecut, nggak berani bertanggung jawab. Meski aku tahu dia sedih dan merasa hancur, tapi aku tetap menolak untuk menikahinya. Aku pikir, masa depanku masih panjang dan aku nggak mau menikah demi anak."
Daffi mengingat kembali masa mudanya yang selama ini dia tutup rapat-rapat. Sementara Fella hanya diam mendengarkan. Apa yang dialami Daffi memang tidak jauh berbeda dengan nasibnya.
Daffi menghela napas berat sebelum akhirnya melanjutkan lagi ceritanya. "Hingga akhirnya dia kecelakaan tepat di depan mataku. Dia meninggal karena tabrakan, begitu juga dengan bayi yang dikandungnya, yang sebenarnya adalah anakku," ungkap Daffi, jujur dan mengakui kesalahan di masa lalu.
Mendengar pengakuan Daffi, Fella tidak bisa berkata-kata. Fakta itu memang sangat mengejutkan, dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Aku sangat menyesal, Fel, udah melakukan kesalahan yang fatal. Butuh waktu lama untuk melupakan semuanya, dan keluar dari perasaan bersalah itu. Bahkan sampai aku pacaran sama Bella, hatiku masih terpaku pada masa lalu. Sama sekali nggak bisa terbuka untuknya. Dan ternyata, baru sekarang aku bisa melakukannya. Kamu yang bisa membuat hatiku terbuka dan jatuh cinta lagi. Waktu pertama tahu kamu hamil, entah kenapa aku sangat tertarik dengannya. Mungkin saja karena rasa bersalahku pada anakku sendiri, makanya aku ingin menikahimu dan menjadi ayah untuk Fidela selamanya. Tapi, masa laluku seburuk itu, Fel. Aku nggak tahu kamu bisa menerimanya atau enggak," sambung Daffi panjang lebar. Dia jujur dan mengakui semua kesalahannya, tidak ada satu pun yang terlewat.
Setelah mendengar semua pengakuan Daffi, Fella tak ragu untuk menggenggam tangan suaminya itu. Sambil menarik sudut bibirnya, Fella menatap Daffi dalam-dalam.
"Masa lalu kita nggak jauh beda, Kak, dan aku nggak keberatan dengan itu. Mungkin inilah maksudnya kenapa kita dipertemukan, agar saling menguatkan dan sama-sama memperbaiki diri dari kesalahan yang sudah-sudah," ucap Fella, sama sekali tidak masalah dengan masa lalu Daffi.
Daffi tersenyum senang, ada lampu hijau dari sang istri untuk melanjutkan pernikahan, dan menjalin hubungan yang lebih serius.
__ADS_1
"Jadi kamu mau menjadi istriku selamanya, Fella?" tanyanya memastikan jawaban Fella.
"Iya, Kak, aku mau." Fella mengangguk. Wajahnya bersemu merah karena tersipu malu, membayangkan nanti akan menjalani pernikahan yang sebenarnya bersama Daffi.
Melihat istrinya tersipu, perasaan Daffi semakin senang. Hatinya berdebar keras, dan tidak bisa menahan diri untuk diam. Daffi pun memeluk tubuh Fella dengan sangat erat, lalu dilanjut dengan ciuman mesra di puncak kepala.
**
**
Usia Fidela sudah genap tiga bulan, dan Daffi akan memboyong anak istrinya itu ke Ibu Kota. Tuntutan pekerjaan membuat Daffi tak bisa bolak-balik terus, karena membuang banyak waktu. Jadi, dia mengajak Fella menetap di sana.
"Sayang, aku perhatikan dari tadi kamu kayak melamun. Kenapa?" tanya Daffi sambil menatap Fella sebentar, kemudian kembali fokus dengan kemudi.
"Nggak apa-apa, Kak." Fella menggelengkan kepala. Memilih diam, dan tidak jujur bahwa saat ini hatinya sedang gelisah. Kembali ke Jakarta sama dengan kembali pada masa lalunya. Fella belum terlalu siap menghadapi itu.
Namun meski tidak jujur, Daffi bisa membaca kekhawatiran istrinya itu. Dengan gerakan lembut, ia meraih tangan Fella dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Ada aku, Sayang, kamu jangan takut. Aku akan melindungi kamu dari apa pun, termasuk Dylan. Pokoknya nggak akan aku biarkan seorang pun menyakiti kamu."
Mendengar ucapan manis dari mulut Daffi, Fella mulai merasa tenang. Dia percaya suaminya itu tidak hanya membual, karena selama ini Daffi sudah memberikan banyak bukti atas keseriusannya. Perhatian, kasih sayang, serta tanggung jawab yang diberikan Daffi membuatnya selalu merasa nyaman dan aman.
"Terima kasih ya, Kak," kata Fella kemudian.
Daffi tertawa renyah. "Nggak usah berterima kasih, Sayang. Kamu adalah istriku, satu-satunya wanitaku, jadi udah kewajibanku untuk menjaga kamu."
Daffi menyuguhkan senyum menawan di ujung kalimatnya, dan sukses menyentuh hati Fella. Hingga wanita itu mendapatkan kembali rasa percaya diri, dan tidak bimbang lagi meski harus kembali ke Jakarta.
Setibanya di Ibu Kota, Fella dan anaknya mendapat sambutan baik dari nenek Daffi. Meski masih duduk di kursi roda, tetapi kesehatan wanita itu sudah mulai pulih. Dia tak lagi kesulitan bicara seperti hari-hari lalu.
"Akhirnya sekarang kamu menjadi seorang ayah, Daffi. Ini adalah hari paling membahagiakan bagi Nenek, bisa menatap langsung buah hatimu yang cantik ini. Di sana, orang tuamu pasti juga bahagia melihatnya."
Mendengar ucapan nenek, Fella dan Daffi saling pandang, lalu menunduk bersamaan. Sampai sejauh ini, sang nenek tidak curiga sedikit pun. Dia percaya Fidella adalah darah daging Daffi.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋