
Setelah tiba di Jakarta, Daffi langsung menuju rumah sakit tempat neneknya dirawat. Dengan sabar Daffi menunggui nenek yang sekarang terbaring lemah karena stroke yang dideritanya.
"Cepat sembuh ya, Nek, aku ikut sedih kalau Nenek sakit begini. Aku janji nggak akan membantah perintah Nenek lagi. Tapi, Nenek juga harus janji, cepat sehat dan nggak sakit lagi," ucap Daffi sambil menggenggam tangan sang nenek.
Berulang kali Daffi mengembuskan napas berat, wajah renta yang kini menutup mata dengan rapat membuatnya merasa cemas. Takut jika terjadi sesuatu dengannya.
"Nenek pasti sembuh. Dokter sudah memberikan penanganan yang terbaik untuknya," kata Daffi, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa tak mungkin ada hal buruk yang menimpa neneknya.
Cukup lama Daffi berdiam diri di sana. Hingga akhirnya ia keluar karena dokter kembali melakukan pemeriksaan.
Sesampainya di luar ruangan, Daffi memutuskan untuk pergi sebentar dan membeli minum. Tenggorokannya terasa kering karena sejak tadi belum menenggak air setetes pun. Terlalu panik membuatnya lupa dengan makan dan minum.
Daffi berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, langkah Daffi terlihat santai. Namun, tak lama kemudian matanya tampak memicing, dan raut wajahnya juga terlihat mengeras. Ia bersikap begitu karena menangkap pemandangan yang tak biasa.
"Itu benar mereka. Aku nggak salah lihat," batin Daffi ketika yakin bahwa sosok di depan sana adalah Dylan dan Deliska.
Kedua orang itu baru keluar dari ruangan dokter kandungan. Daffi bertanya-tanya, untuk apa mereka ke sana. Perut Deliska tidak terlihat buncit dan rona wajahnya juga tidak semringah, malah lebih pada kesal dan kecewa.
"Ah, kenapa juga mikirin urusan mereka. Biarin aja mau ngapain, nggak ada hubungannya sama aku," batin Daffi sambil melirik Dylan sekilas, lalu kembali fokus dengan langkahnya sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian, jarak antara Daffi dan Dylan semakin habis. Mereka hampir berpapasan, tetapi Dylan tetap berbincang serius dengan istrinya. Sejauh ini, mereka memang tidak mengenal Daffi. Jadi tidak curiga jika Fella ada bersamanya, bahkan sudah menjadi istrinya.
"Sudahlah, Sayang, jangan terlalu dipikirkan! Percaya sama aku, pasti ada jalan keluarnya. Lagi pula, aku juga nggak menuntut itu. Menikah dan hidup bersama dengan kamu, itu udah menjadi kebahagiaanku. Jadi kamu nggak perlu mikir yang lain-lain lagi."
"Bagaimana bisa aku nggak mikir, dokter sendiri yang bilang kalau aku ini aku susah hamil. Meskipun kamu nggak nuntut, tapi aku juga ingin cepat-cepat punya anak."
Tanpa sengaja, Daffi mendengar obrolan Dylan dan Deliska. Ia pun jadi tahu apa tujuan mereka ke dokter kandungan. Ternyata bukan memeriksakan kehamilan, melainkan konsultasi seputar kandungan, dan hasilnya mengecewakan.
Diam-diam Daffi menarik ujung bibirnya hingga membentuk lengkung senyum yang cukup lebar. Tak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba ada perasaan senang di dalam hati ketika mengetahui fakta itu.
"Oh, ternyata susah hamil ya," batin Daffi sambil menoleh ke belakang, menatap Dylan dan Deliska yang masih tetap berdebat.
**
**
"Semoga neneknya Kak Daffi lekas sehat," ucap Fella dengan tulus.
Bersamaan dengan itu, Fella dikejutkan dengan bunyi bel yang cukup nyaring. Fella pun bergegas bangkit dan membukakan pintu untuk tamu itu.
__ADS_1
"Fella!"
Fella tertegun seketika. Seseorang yang datang adalah teman kerjanya dulu. Fella tidak tahu angin apa yang membawanya kemari, tapi yang terpenting kehadiran temannya membuat Fella merasa senang.
"Gimana kabarnya? Makin cantik aja kamu, Fel."
Fella kemudian tersadar ketika temannya memeluk erat. Ia pun membalas pelukan itu dengan senyuman yang mengembang.
"Kabar aku baik, kamu sendiri gimana? Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke sini? Kan, aku bisa siap-siap dulu."
"Nggak perlu siapin apa-apa, ketemu kamu gini aja aku udah senang. Tadi Pak Daffi yang kasih tahu aku, katanya kamu lagi di rumah sendirian. Jadi, aku ke sini biar kamu ada teman."
Fella kembali tertegun, setelah menyadari bahwa Daffi yang ada di balik itu semua. Perhatian yang diberikan oleh lelaki itu terhitung berlebihan, layaknya suami sungguhan.
"Ah, Kak Daffi." Fella membatin sambil menunduk, menyembunyikan pipinya yang terasa panas, dan pasti bersemu merah.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1