Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 8


__ADS_3

Kehadiran Deliska di rumah Fella, membuat gadis itu merasa kian tersaingi. Walau sebenarnya Deliska tidak berbuat jahat dengannya, hanya saja rasa cemburu sudah mengeraskan hati Fella.


Suara mobil Dylan telah memasuki garasi, Deliska dan Fella sama-sama mengukir senyum saat Mama Larissa mengatakan bahwa laki-laki tampan itu sudah pulang.


Saat Dylan memasuki rumah beriringan dengan papanya, Fella hampir menggerakkan kaki dan tangan untuk berlari memeluknya. Namun, suara Deliska menyadarkan gadis itu bahwa Dylan sudah memiliki tambatan hati sekarang, dan Fella terpaksa harus sadar diri.


Deliska menyambut calon suaminya dengan senyum keceriaan yang seolah menambah energi untuk Dylan yang lelah.


“Sayang, kamu di sini?” tanya Dylan yang awalnya tidak tahu jika kekasihnya berkunjung. Dia melirik sang adik yang memperlihatkan wajah cemberut.


Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Dylan untuk membuat adiknya itu sadar bahwa dia sudah menjadi milik Deliska saat ini.


“Iya, Sayang. Aku sengaja ke sini biar bisa masakin kamu dan makan malam sama kamu juga,” jawab Deliska sembari bermanja di lengan Dylan.


Dylan tentu saja memanfaatkan sikap Deliska dan memancing calon istrinya itu agar lebih manja lagi supaya Fella semakin sadar posisi.


“Ah, kamu memang calon istri idaman, Del. Aku jadi nggak sabar biar bisa jadi suami kamu,” kata Dylan. Dia mengusap lengan Deliska dan kian memamerkan kemesraannya di depan Fella.


Fella terus memperhatikan sang kakak yang dengan sengaja bermesraan tanpa malu di hadapannya dan orang tua mereka. Sayangnya, tidak ada yang menegur atau melarang kedua insan yang sebentar lagi akan melangkah menuju pelaminan itu. Ya, itu semua karena Dylan dan Deliska memang sudah mendapat restu penuh dari orang tua mereka.


“Sayang, mau lihat kamar aku?” tawar Dylan pada Deliska dengan sasaran utamanya Fella.


“Em, boleh?”


Deliska terlihat ragu-ragu. Meskipun dia dan Dylan sudah bertunangan, tetapi wanita itu tahu batasan-batasan dan norma-norma yang tidak boleh dilanggar.


“Boleh dong, bentar aja biar nanti kamu nggak kaget kalau kita udah nikah!”


Dylan terkesan memaksa calon istrinya itu, sampai akhirnya Deliska pun mengiyakan setelah mendapat lampu hijau dari Mama Larissa juga.

__ADS_1


Melihat sikap Dylan pada calon istrinya, Fella semakin merasa cemburu. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dylan memang tidak akan menjadi miliknya.


Kini, Dylan merangkul pundak Deliska dan membawa calon istrinya itu untuk ke kamar. Sembari berjalan, dia melirik Fella yang mengepalkan tangan dengan kuat, dan mata yang terlihat merah menahan amarah. Namun, dia tetap bersikap mesra dengan Deliska supaya sang adik segera mengubur perasaannya itu.


.


.


.


Makan malam bersama akhirnya tiba. Fella sudah siap di meja makan meski mulutnya terus membisu. Pikirannya benar-benar kacau sejak kedatangan Deliska di rumahnya. Hatinya yang sudah dipenuhi ambisi, membuat Fella begitu sulit menyadari dirinya sendiri.


“Kakak kamu sama tunangannya belum keluar kamar, Sayang?”


Pertanyaan sang ibu itu sukses membuat Fella tersadar dari lamunan. Sejak tadi dia terus berpikiran buruk sampai tidak sadar jika dia sudah berada di meja makan.


“Kamu kenapa sih, mama tanya baik-baik kok sinis amat,” protes Mama Larissa yang kini sibuk menyiapkan makan malam di meja.


“Lagi datang bulan kali, Ma,” sahut sang ayah menggoda putrinya.


Dylan dan Deliska akhirnya keluar dari kamar dan kini menuruni anak tangga dengan suara tawa Deliska yang mendominasi. Terlihat sekali pasangan itu sedang berbahagia saat ini. Tentu saja hal itu membuat rasa cemburu di hati Fella kian berkobar.


‘Kenapa mereka bisa semesra itu? Dulu sebelum Kak Dylan ke kuliah juga kami sering bercanda seperti mereka. Apa Kak Dylan benar-benar sudah membuangku sekarang?’ batin Fella yang telah digerogoti rasa cemburu.


Rambut Deliska yang basah membuat wajah gadis itu terlihat segar setelah mandi keramas. Hal itu membuat pikiran Fella jadi semakin runyam. Dia menduga jika kakaknya dan wanita cantik itu pasti sudah melakukan sesuatu yang keliru.


Begitu sampai di meja makan, Deliska langsung membantu calon mertuanya menata meja makan. Sangat berbeda dengan Fella yang hanya duduk diam di kursinya.


Sementara itu perang dingin masih terjadi ahtara Dylan dan Fella. Bahkan sampai makan malam dimulai pun keduanya masih sama-sama membisu.

__ADS_1


“Fella, aku duduk di sini ya,” kata Deliska sembari menarik kursi kosong di samping calon adik iparnya.


“Duduk, duduk aja!” balas Fella dengan ketus.


“Fella kamu yang sopan dong!” sahut Dylan yang tidak terima jika Fella bersikap ketus pada calon istrinya.


Dylan tahu, Fella sedang kesal tapi bukan berarti gadis itu harus bersikap tidak sopan. Apalagi, saat ini posisi Deliska adalah tamu di rumah mereka.


“Sudah, sudah kita makan sama-sama. Ini masakan Deliska enak banget loh mama sudah icip!” kata Mama Larissa sembari mengambilkan makanan untuk suaminya.


Fella semakin dongkol karena Deliska menerima banyak pujian hari ini.


“Sayang, ambilkan aku masakan kamu ya, kayak Mama melayani Papa!” pinta Dylan sembari menyodorkan piringnya pada Deliska.


Mama dan Papa saling pandang dan tertawa kecil melihat tingkah putra mereka.


“Anak Papa kayaknya bakalan manja sama Deliska. Lihat aja, makan saja minta diambilin persis Papa deh!” goda Mama Larissa pada putranya itu.


“Iya dong, Ma. Aku yakin, Deliska akan menjadi istri dan ibu yang sempurna seperti Mama,” balas Dylan dengan senyum bangga.


Melihat kemesraan itu, hati Fella yang kian terbakar kini telah menjadi bara yang melahapnya dalam kecemburuan yang tidak seharusnya. Emosinya kian memuncak. Tanpa berkata-kata lagi, Fella meninggalkan meja makan yang disertai dengan cucuran air mata.


Apa salahnya dia mencintai Dylan? Bukankah semua orang itu memiliki hak untuk mencintai siapa pun? Apakah dia patut menerima perlakuan ini dari Dylan hanya karena cinta mereka yang terlarang?


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


Saat makan malam berlangsung, ibu Dylan terus memuji Deliska yang cantik, baik, dan pintar memasak, hal itu membuat bara api dalam diri Fella kian berkobar. Rasa cemburu, iri dan egois membuat gadis itu marah dan meninggalkan meja makan.

__ADS_1


__ADS_2