
Met malem, maaf ya mau infoin nupel barunya Ratu Anu dan Ratu Bawang. Barengan aja karena kemarin las jadwal prromo aku masih sakit 🙈
Judul : Hidden Mommy
Karya : Ntaamelia
Bab 1
Sebuah mobil mercedes berwarna hitam baru saja menepi di depan rumah mewah. Lalu tak berapa lama kemudian keluar seorang wanita cantik yang terlihat sedang marah-marah, dia terus menggerutu dan menguapkan kekesalan di tiap langkah.
Sementara di belakangnya, pria bernama Cornelius Burmese Tanson, yang merupakan suaminya, menyusul dengan desaahan nafas kasar.
Sudah tidak aneh, sebab tiap Cornelius mengajak sang istri untuk memenuhi jamuan makan malam dengan keluarganya, wanita bernama Sofia itu selalu saja pulang dengan membawa amarah.
Dan satu-satunya alasan pertengkaran yang terjadi di antara mereka adalah soal keturunan. Ya, setelah dua tahun mereka menikah dan memilih tinggal berdua, Cornelius dan Sofia belum juga dikaruni seorang anak.
"Dasar mulut-mulut sampah, beraninya hanya memojokkanku saja! Memangnya mereka pikir mempunyai anak itu mudah?" gerutu Sofia, yang masih mampu didengar oleh suaminya.
"Sofia, berhenti!" cetus Cornelius, yang lebih akrab disapa Lee itu. Dia mensejajarkan diri dengan sang istri, sebab dia merasa jengah, mendengar Sofia memaki-maki keluarganya.
"Bisakah kamu menjaga mulutmu?!" tanya Lee dengan tatapan tajam. Sementara Sofia menanggapinya dengan begitu santai. Dia melipat kedua tangan di depan dada, seolah menantang.
"Menjaga mulut? Apa kamu tidak salah? Seharusnya keluargamu yang melakukan itu, agar mereka tidak menghakimiku."
"Menghakimi apa yang kamu maksud?! Mereka hanya bertanya, Sofia! Jika kamu orang yang pandai seharusnya kamu bisa menilai, mana kalimat menghakimi dan mana sebuah pertanyaan!"
Mendengar Lee yang membentaknya, Sofia pun mengangkat dagunya, karena walaupun dia seorang wanita, dia tidak ingin derajatnya direndahkan. "Apakah mereka tidak bosan menanyakan hal yang sama?"
"Itu karena kamu selalu menghindar, jika kamu menjawab dengan benar, mereka tidak akan bertanya berkali-kali, atau menyarankanmu ini dan itu!"
"Cih, kamu selalu saja membela keluargamu, tanpa melihat bagaimana perasaanku!"
Lee menelan ludahnya kasar, dengan tangan yang terkepal kuat, berusaha untuk tidak mengajak tangannya untuk bicara.
"Aku sudah mencoba untuk mengertikan perasaanmu. Tapi bisakah kamu juga bersikap baik pada keluargaku, semenjak kita menikah, kamu banyak berubah!"
"Perbaiki dulu sikap keluargamu, maka aku juga akan baik pada mereka. Dan ingat, jangan hanya melihat dari sisiku saja, coba lihat kamu, mungkin kita tidak punya anak karena kamu mandul!" cetus Sofia tanpa sadar, karena kekesalannya sudah di puncak ubun-ubun.
"Apa katamu?!"
"Apa kamu tidak dengar? Kita tidak punya anak itu karena kemungkinan kamu yang mandul!"
Dan hal tersebut membuat Lee mengatupkan rahangnya dengan keras. Merasa terhina dengan tuduhan yang dilayangkan oleh istrinya.
Dia benar-benar marah, karena kesabarannya sudah habis, hingga tanpa segan Lee berteriak dengan kencang. "TUTUP MULUTMU, SOFIA!"
Deg.
Sofia langsung menelan salivanya, ketika melihat api kemarahan yang begitu nyata di mata suaminya. Dia hendak meraih tangan Lee, tetapi dengan cepat pria itu menepisnya. "Kamu sudah keterlaluan. Harga diriku seperti diinjak-injak olehmu."
Padahal selama ini keluarganya sudah banyak memberi saran untuk melakukan berbagai program kehamilan. Namun, Sofia selalu menolak dan mengatakan bahwa kelak Tuhan akan memberikan keturunan kepada mereka berdua, tanpa itu semua.
"Lee, aku—aku tidak sengaja mengatakannya," ujar Sofia dengan tergagap, mulai merasa bersalah. Namun, Lee yang sudah dikuasai amarah kembali menyentak tangan Sofia yang berusaha menahannya.
"Aku akan buktikan padamu, kalau itu semua salah! Dan jika aku berhasil, berjanjilah untuk tidak menangis!" ucap Lee, lalu melangkah meninggalkan rumah.
***
Di sebuah club.
Seorang pria paruh baya merasa cukup frustasi sebab sedari tadi dia kalah di meja judi. Namun, hal tersebut tak membuatnya menyerah, karena judi dan minum minuman keras, sudah menjadi hobinya sejak lama. Bahkan semenjak mendiang istrinya masih ada.
"Kamu sudah kalah banyak, Ren. Hutangmu yang kemarin saja belum dibayar! Awas kamu, kalau menunggak dan kabur!" sentak salah satu temannya. Dan pria bernama Rendra itu hanya terkekeh kecil, seolah semua itu bukanlah apa-apa.
"Tenang saja, aku masih punya dua anak gadis di rumah, kalau aku jual salah satunya, aku pasti bisa membayar kalian semua!" balas Rendra dengan tawanya yang renyah, nyaris tak ada beban.
Hingga beberapa kali putaran, Rendra tetap kalah dan membuatnya merasa geram. Sementara semua teman-temannya sudah meminta bayaran padanya. Bahkan ada yang terlanjur kesal, sebab Rendra tak pernah menepati janjinya.
"Cepatlah bayar, atau kamu habis malam ini!" ancamnya dengan tatapan tak main-main. Dan Rendra langsung menciut.
"Iya-iya, aku pasti bayar."
"Malam ini aku tunggu, kalau tidak, kuseret kamu ke jalanan." Pria itu mendorong Rendra untuk pergi dari ruangan, sebelum Rendra membayar maka jangan harap pria itu bisa masuk kembali ke dalam.
Ck, sialan!
Dengan otak yang dipengaruhi alkohol, Rendra pun pulang. Dan sesampainya di rumah dia langsung menarik putri sulungnya yang kebetulan baru pulang bekerja. Alicia namanya.
Alicia yang sangat terkejut tentu berusaha untuk menolak, tetapi walau bagaimanapun, dia hanyalah seorang wanita yang tidak memiliki tenaga lebih besar dari pria.
"Ayah, untuk apa aku dibawa ke mari!?" tanya Alicia seraya meronta-ronta saat dia dipaksa masuk ke sebuah club. Tempat yang tidak pernah dia singgahi untuk seumur hidupnya.
"Jangan membantah, atau kamu mau adikmu yang menanggung semuanya?!" ancam Rendra. Karena dia tahu, kelemahan Alicia hanyalah pada Ralia, sang adik yang tadi sempat menangis, karena melihat Alicia diseret seperti binatang oleh Rendra.
Mendengar itu, Alicia langsung menangis. Karena meninggalnya sang ibu, membuat kehidupannya semakin berubah. Tidak hanya sering berjudi dan mabuk-mabukkan, Rendra pun kerap memukulinya tanpa sebab.
__ADS_1
Alicia akhirnya hanya bisa pasrah, saat sang ayah kembali menarik dirinya, karena dia tidak akan mau jika Ralia menanggung semuanya. Biarlah dia yang menderita.
Wanita cantik itu membeku, dengan isak tangis lirih saat melihat banyak pria hidung belang menelisik dan menilai penampilannya. Sumpah demi apapun dia sangat takut, namun yang bisa ia lakukan hanyalah menggigit bibir kuat-kuat.
Ibu, tolong Alicia, ibu. Batinnya dengan terus menangis.
Sementara semua pria itu mulai menawar dari harga yang paling rendah hingga harga yang paling tinggi. Dan hal tersebut membuat Alicia sadar, bahwa dia sedang dilelang oleh sang ayah. Membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping.
Mendengar suara riuh di sudut ruangan, membuat pria yang baru saja singgah dengan asistennya, lantas merasa penasaran.
Tanpa meminta sang asisten mencari tahu, Lee melangkah mendekati tempat itu. Dia memiringkan kepala, mencoba mengintip apa yang sedang orang-orang itu perebutkan, hingga dia melihat seorang wanita bertubuh ringkih, sedang menangis di tengah-tengah maraknya tawaran.
Ada sesuatu yang membuat pria bermata tajam itu tertarik. Hingga otaknya bekerja untuk merancang sebuah rencana. Dan tiba-tiba saja, Lee berteriak. "Berapa harga paling tinggi untuk wanita satu ini?"
Zack yang merupakan asisten sekaligus sepupu Lee, merasa terperangah. Karena dia tidak mengerti kenapa Lee bertanya seperti itu.
"Lima ratus juta!" jawab seseorang yang paling terakhir menawar.
Lee menarik sudut bibirnya ke atas, lalu berkata. "2 milyar, berikan padaku!"
Dan Alicia bisa mendengar jelas suara pria itu. Dia menangis tertahan, karena ternyata manusia bisa diperjualbelikan.
Biaadab!
***
Bab 2 langsung cuss ya 💋
*
*
*
Judul : Pengasuh Tuan Muda Genius
Karya : Lunoxs
Bab 1
Ajeng menatap nanar pada pelaminan di depan sana. Harusnya dia yang menikah dengan Erwin, tapi kemudian harus gagal karena Elis tiba-tiba mengaku hamil anak calon suaminya.
2 jam sebelum akad kegaduhan mucul tak bisa dicegah, sampai akhirnya seluruh keluarga setuju untuk mengganti mempelai wanita.
"Mbak, masuk saja yuk, jangan duduk disini, apalagi Mbak masih pake baju pengantin," ucap Nia, adiknya Ajeng.
Wanita berkebaya putih itu menangis, namun buru-buru dia hapus.
Sesak sekali rasanya dadda gadis itu, sempat dia bersitatap dengan Erwin, namun Ajeng buru-buru menepis.
Bukankah ini pengkhianatan yang sangat menjijjikan?
Entahlah, rasanya Ajeng ingin menghilang dari sini.
"Ayo," balas Ajeng dengan lesu.
Malam harinya, Ajeng mengurung diri di kamar. Kamar yang sudah di hias untuk jadi kamar pengantin.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan gadis berusia 21 tahun itu. Ajeng tidak kuliah, lulus SMA dia langsung bekerja jadi pengasuh bayi untuk tetangga-tetangganya.
"Ajeng, kamu kok nggak keluar kamar, nggak mau makan to?" tanya ibu Tri-ibunya Ajeng.
"Nggak Bu, aku nggak lapar."
"Ya jangan gitu, sudahlah, kamu jangan pedulikan Erwin dan Elis lagi, jelas mereka mengkhianati kamu. Ibu juga nggak sudi punya menantu seperti itu!"
Ajeng menangis lagi.
Sesak di daddanya tak bisa dia ungkapkan.
"Aku mau pergi aja Bu, aku nggak mau tinggal disini lagi," ucap Ajeng dengan sungguh-sungguh, dia bicara di antara air mata yang mengalir.
"Kamu mau kemana?" tanya sang ibu.
"Ikut Bi Ratih ke Jakarta."
"Ya sudah, malam ini siap-siaplah, besok pagi kamu pergi ke Jakarta."
Ibu Tri mendukung keputusan anaknya itu, untuk apa tinggal disini jika akhirnya jadi gunjingan tetangga. Gosip mulai beredar dan sekarang malah menyudutkan Ajeng yang jadi orang ketiga.
Ibu Tri juga muak, maka ini lah keputusannya.
Ajeng mulai berkemas, meskipun besok hujan badai pun akan tetap dia terjang. Yang jelas Ajeng harus meninggalkan desa ini.
__ADS_1
Meninggalkan semua kenangan pahit yang dia yakin tidak akan mudah untuk dilupakan.
Mengunakan Bus, Ajeng pergi menuju kota Jakarta.
Tak sumpahin pernikahan kalian nggak akan pernah bahagia. Sumpah Ajeng.
Sampai aku sukses, sampai aku bisa nemu calon suami yang sempurna aku nggak akan pernah kembali ke desa.
Tekad Ajeng sudah sangat kuat. Kini bahkan tidak ada lagi air bening yang mengalir dari kedua matanya.
Jam 5 sore Ajeng tiba di rumah bi Ratih. Penyalur tenaga kerja rumah tangga, pembantu dan pengasuh.
"Masya Allah, akhirnya kamu sampe juga Jeng, pikir bibi kok lama sekali."
"Aku bingung naik Bus disini bi, jalurnya beda-beda, untung nggak nyasar."
"Ayo masuk, ini sudah mau magrib."
Bi Ratih tahu alasan kenapa Ajeng datang kesini, dia juga geram, pasalnya Ajeng dan Elis adalah 2 keponakannya. Tak menyangka juga jika Elis sampai melakukan itu.
"Ajeng, bibi ada pekerjaan untuk kamu, tapi ini termasuk sulit."
"Pekerjaan apa Bi?"
"Jadi pengasuh."
"Kalau pengasuh ya gampang Bi."
"Ini anaknya nakal."
"Semua anak kecil juga nakal Bi."
"Jadi kamu mau?"
"Iya, mau banget, sampe bonyok dibuat anak itu nanti aku nggak akan nyerah. Aku bener-bener nggak mau balik ke Desa Bi."
"Ya sudah, besok bibi langsung bawa kamu kesana."
Bi Ratih kemudian menjelaskan jika Ajeng harus jadi pengasuh seorang bocah berusia 6 tahun, Sean Aditama yang baru saja masuk ke Sekolah Taman Kanak-kanak .
Keluarga Aditama adalah keluarga kaya raya, pemilik salah satu perusahaan perkebunan sawit terbesar di Indonesia.
Bahkan salah satu cabangnya ada di kota kelahiran Ajeng.
"Orang kaya raya kok cari pengasuhnya dadakan begini Bi?"
"Nah nggak tau juga, bibi baru dapat kabar tadi pagi, kebetulan kamu datang."
"Oke deh, Ajeng siap."
Pagi-pagi buta Ajeng dan Bi Ratih sudah mendatangi rumah kediaman keluarga Aditama. Sepanjang perjalanan itu, Ajeng menghapal seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.
Sean Aditama yang akan jadi anak asuhnya.
Reza Aditama adalah ayahnya Sean, seorang duda, bercerai 2 tahun lalu dari istrinya Monalisa.
Masalah cerainya tidak dijelaskan dalam catatan itu.
Agung Aditama adalah kakek Sean.
Putri Kirana Aditama adalah nenek Sean.
Ryan Aditama adalah adik pertama Reza Aditama.
Rilly Aditama adalah adik kedua Reza Aditama.
Diantara adik beradik itu hanya selisih umur 3 tahun, sementara saat ini usia Reza Aditama adalah 33 tahun.
Dalam berkas itu lengkap pula dengan foto-fotonya. Ajeng sudah mengingatnya baik-baik.
Setelah menempuh perjalanan Akhirnya kini mereka berdua tiba di rumah megah itu.
"Masya Allah, rumahnya besar banget Bi."
"Jangan norak Jeng, kerja kerja kerja."
"Iya Bi."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah megah itu. Sudah bulat tekad Ajeng untuk tidak akan pernah keluar dari rumah ini meski apapun yang terjadi, dia akan berkerja sebaik mungkin.
Tapi Ajeng tidak tahu, jika dia adalah pengasuh ke 100 untuk sang Tuan Muda.
Sean tersenyum miring, ketika melihat pengasuhnya yang baru tiba di rumah ini.
Bab 2 langsung cuss ya 💋💋
__ADS_1
Oke gaess sampekan salam sayang dari aku ya.. Maaf telat infonya 🤗🤗🤗