Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 56


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Papa Ferdinand pulang dari kantor dengan raut muka yang masam. Kerutan-kerutan di keningnya tampak jelas, dan embusan napasnya juga berulang kali terdengar berat. Seolah-olah dia sedang menanggung beban yang cukup banyak.


Melihat keadaan suaminya itu, Mama Larissa langsung menghampiri. Membantunya membawakan tas kerja, dan melepas jas ketika sudah tiba di kamar.


Meski ada hal penting yang ingin dibicarakan, tetapi Mama Larissa menunggu sampai suaminya itu terlihat baik, karena kabar yang dia bawa pasti akan mengejutkan. Seperti dirinya tadi siang, sangat terkejut saat tahu bahwa Fidela adalah anak Dylan. Fella pergi dari rumah membawa benih dari kejadian malam itu.


"Kacau, Sayang," ucap Papa Ferdinant sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. Keluhan singkatnya itu membuat sang istri mengernyitkan kening.


Wanita itu menatap bingung, bertanya-tanya ada apa dengan suaminya? Seberat itukah pekerjaan di kantor sampai dia lelah begitu? Atau jangan-jangan ada masalah lain yang tidak ia ketahui. Menyadari kemungkinan itu, Mama Larissa merasa cemas, dan langsung menanyakan pada sang suami apa yang sebenarnya terjadi.


"Kerja sama yang aku ceritakan waktu itu, ternyata hanya jebakan. Aku ditipu. Semua uang dibawa pergi, dan aku hanya ditinggali hutang yang cukup banyak. Ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari, makanya sangat matang dan tidak meninggalkan jejak apa pun, sehingga tidak bisa dilacak lokasinya. Dan pelan-pelan kita akan bangkrut."


Papa Ferdinand membalas tatapan sang istri dengan sendu. Berat baginya untuk menceritakan semua itu, tapi tidak mungkin juga disembunyikan selamanya. Karena dalam hitungan hari, bisnisnya akan semakin jatuh.


Mendengar pengakuan suaminya, Mama Larissa menutup mulut. Dia sangat kaget, tak percaya jika dalam satu hari akan mendapat dua kabar yang mengejutkan.


"Itu sebabnya tadi aku tidak datang ke rumah sakit saat Fidela dibawa ke sana. Aku pusing memikirkan semua ini," sambung Papa Ferdinand.


"Fidela sudah dibawa pulang, dokter juga memberinya obat dan salep." Mama Larissa menarik napas panjang, dan kemudian melanjutkan kalimatnya. "Apa mungkin ini karma untuk kita karena dulu pernah menyulitkan Fella? Kita menyimpan kebenaran demi menjaga nama baik perusahaan. Kita tidak peduli dengan perasaan Fella, dan malah menyuruhnya pergi ke luar negeri. Kita tidak berpikir jika kejadian itu bisa saja membuat Fella hamil," sambungnya.


Papa Ferdinand menggelengkan kepala. "Itu tidak mungkin. Mereka hanya melakukannya satu kali."


"Tapi, itu yang benar terjadi. Fidela adalah anak Dylan, bukan anak Daffi." Dengan berurai air mata, Mama Larissa menjelaskan asal-usul Fidela, yang baru dia ketahui hari ini.

__ADS_1


Papa Ferdinand tertegun lama, sama sekali tak menyangka jika ayah kandung Fidela adalah Dylan. Yang berarti, Fidela adalah cucu kandungnya.


Sekarang dia sadar, betapa egoisnya keputusan yang dia buat. Melarikan Fella ke luar negeri, dan menikahkan Dylan dengan Deliska, semua demi nama baik dan bisnis. Terlalu besar ambisinya, sampai tak ingat jika Fella dalam kesulitan. Padahal, usia Fella masih sangat muda. Butuh banyak dukungan dan bimbingan untuk menghadapi masalah. Namun, ia dan istrinya malah membiarkan Fella sendirian.


"Aku memang bodoh," gumam Papa Ferdinand dengan kepala yang tertunduk.


Malam itu, mereka berdua tidak bisa tidur tenang. Selain dibayang-bayangi kebangkrutan, keduanya juga dirundung penyesalan, dan rasa bersalah terhadap Fella.


Di lain tempat, Dylan tidak kalah hancurnya. Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat Deliska menangis sendiri di sudut ranjang. Tubuhnya yang kurus meringkuk sambil memeluk selimut, kondisinya terlihat memprihatinkan.


"Sayang!" Dylan mendekat, dan duduk di sampingnya. Lalu ia tarik pelan tubuh itu, dan dibawa dalam pelukannya.


Dylan merasa miris, masih terbayang betapa segar dan cantiknya Deliska dulu. Sedangkan sekarang kurus pucat, dan kecantikannya mulai memudar.


"Aku gagal jadi istri yang baik. Bukan hanya nggak bisa punya anak, tapi juga nggak bisa menjalani peranku. Aku nggak bisa merawat kamu, apalagi melayani kebutuhan biologismu." Ucapan Deliska membuat hati Dylan semakin tersayat.


"Kamu adalah istri terbaik, Sayang. Bagiku nggak ada yang lebih sempurna dari kamu. Jadi kamu nggak boleh berpikiran yang macam-macam. Aku nggak pernah mempermasalahkan semua itu," jawab Dylan.


"Andai dulu aku bisa mengendalikan egoku. Aku nggak menyebarkan video antara kamu dengan Fella, mungkin hubungan kita semua akan tetap baik. Dia nggak perlu mengalami kesulitan, dan mungkin kamu juga bisa menikahinya, karena kalian juga bukan saudara kandung."


Mendengar ucapan Deliska, Dylan hanya memejam. Beberapa waktu yang lalu Deliska sudah jujur jika dirinya tahu lebih awal tentang hubungan Fella dan Dylan.


Saat itu Dylan tidak bisa marah, mengingat kondisi Deliska yang lemah dan sakit. Apalagi Deliska tidak marah seperti dulu saat tahu Fidela kemungkinan besar adalah anaknya.

__ADS_1


"Terkadang aku merasa bersalah sama Fella," lanjut Deliska masih dengan suara lemah.


"Kita semua salah," sahut Dylan. Perasaannya semakin hancur. Dia teringat lagi dengan malam itu, lalu bayangan hari-hari yang dilalui Fella, hamil sendirian di luar sana. Sungguh menyakitkan.


Hening. Tidak ada percakapan lagi dalam beberapa saat. Hingga akhirnya, Dylan mengurai pelukan dan bicara serius.


"Sayang, bagaimana kalau nanti kita bicarakan ini dengan Fella. Kita bisa meminta maaf dan saling memaafkan, agar rasa bersalah itu nggak lagi menghantui, agar hubungan kita semua juga lebih baik ke depannya."


Deliska tersenyum di sela-sela tangisnya. "Aku setuju."


Dylan berpikir sejenak. Ada satu hal lagi yang ingin dia ucapkan, tetapi masih ragu. Karena selama ini, istrinya itu selalu menolak dan bahkan tersinggung.


"Kenapa?" tanya Deliska.


"Sayang, bagaimana kalau kita ikuti saja saran dokter? Operasi angkat rahim agar kamu bisa sembuh. Aku nggak tega jika kamu kayak gini terus, karena pengobatan alternatif juga nggak terlalu baik hasilnya?" Dylan mengucapkan itu dengan hati-hati.


Di luar dugaan, Deliska langsung mengangguk dan menyetujui saran Dylan.


"Baiklah, aku mau," ucapnya tanpa paksaan.


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2