
“Kenapa kamu menyebut dirimu papa?” Sorot mata Fella begitu menusuk. Dia tentu tidak suka ada orang yang dengan seenaknya mengakui anak dalam kandungannya sebagai anak orang lain. Padahal, jelas-jelas anak itu adalah miliknya dan Dylan.
Ya, Dylan. Entah apa yang sedang dilakukan laki-laki itu, sampai detik ini bahkan Fella masih mencintainya.
“Bukankah sudah aku bilang kalau dia anakku. Aku ingin mengadopsinya sebagai anakku,” putus Daffi dengan sepihak.
Laki-laki itu juga tidak mengerti kenapa dirinya begitu tertarik dengan anak dalam kandungan Fella. Seolah bayi itu memiliki magnet kuat yang membuat Daffi begitu tertarik dengannya.
Fella sudah melayangkan tatapan tajam. Amarahnya mulai naik karena pengakuan sepihak itu. “Dia anakku sendiri. Kamu nggak punya hak apa pun. Jadi, berhenti menggangguku, dan terima kasih untuk semuanya!”
Tanpa mengambil apa pun yang diberikan oleh Daffi, Fella segera berbalik badan dan berniat memasuki kamarnya. Sayangnya, suara langkah kaki yang mendekat membuatnya menghentikan langkah. Apalagi, suara seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
“Ada apa ini? Kenapa Daffi tidak boleh mengakui anaknya sendiri?”
Suara lantang yang tiba-tiba muncul itu tentu mengejutkan Daffi dan Fella. Daffi tidak tahu jika neneknya ada di sekitarnya, begitu pula dengan Fella. Yang lebih mengherankan lagi, entah mengapa nenek itu malah mengira bahwa bayi dalam kandungan Fella adalah anak cucunya.
“Nenek. Kok Nenek bisa di sini? Sejak kapan Nenek di sini?” tanya Daffi yang tidak mengira jika neneknya bisa muncul di saat yang tidak tepat.
Jika sang nenek sampai tahu Fella hamil dengan orang lain, semua kebohongannya akan terbongkar. Daffi sangat tidak rela jika harus berpisah dengan bayi yang bahkan belum lahir itu.
Nenek Daffi terus berjalan, mengabaikan tatapan protes sang cucu yang sudah mulai ketar-ketir karena neneknya telah mengetahui kehamilan Fella. “Katakan! Kenapa Daffi tidak berhak dengan anak itu? Apa dia sudah sangat mengecewakan sampai kamu menolak pertanggung jawabannya?”
“A-apa maksudnya ini?” Fella sama sekali tidak mengerti dan tidak paham apa yang dikatakan oleh nenek Daffi itu. Kenapa seolah-olah anak di kandungannya adalah anak Daffi?
__ADS_1
Daffi memutar otak untuk bisa memanfaatkan situasi dan keadaan dengan baik. Laki-laki itu tiba-tiba terpikirkan sebuah drama kebohongan untuk membuat sang nenek membantu memuluskan jalannya untuk memiliki anak Fella.
“Tadinya aku nggak percaya kalau Fella memang hamil karena kami cuma melakukan sekali. Jadi, aku pikir dia cuma berbohong, Nek. Apalagi bisnis aku juga belum maju-maju banget, aku belum siap!” ungkap Daffi penuh dusta.
Dengan penuh drama, laki-laki itu menundukkan kepala seolah menyesali perbuatan bodohnya yang telah menyia-nyiakan Fella. Padahal, jelas mereka baru saling kenal dalam beberapa waktu saja.
“Fella kecewa banget karena aku sempat mikir dia bohong demi nikah dan aku bilang untuk gugurin kandungannya aja!” imbuh lelaki itu kian menambah kebohongan untuk meyakinkan sang nenek.
Fella yang masih bingung dengan drama yang dibuat Daffi, kini harus menyaksikan nenek Daffi yang memberi pukulan pada cucunya itu. “Dasar anak bandel! Bikin malu kamu ya! Mama sama Papa kamu pasti menangis di Surga sana, Daffi! Anak mereka satu-satunya malah membuat malu nama keluarga!” pekik sang nenek sambil memukul kepala Daffi dengan kipasnya.
“Daffi lagi bohongin neneknya apa gimana sih? Kenapa dia bilang seperti itu?”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋