
Genap enam bulan Fella dan Daffi tinggal di Jakarta. Tidak ada masalah apa pun yang terjadi di antara mereka. Rumah tangga tetap harmonis, dan pekerjaan juga lancar.
Awalnya, tidak ada yang tahu tentang pernikahan mereka, karena Daffi tidak menggelar pesta lagi di Jakarta. Namun, ia juga tidak menutup-nutupinya. Hingga akhirnya satu per satu orang mulai tahu tentang itu. Daffi tidak keberatan. Bahkan jika yang tahu keluarga Fella pun, Daffi sudah siap menghadapinya.
Seperti malam ini, Daffi mengajak Fella untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan yang digelar oleh relasinya. Dengan terang-terangan Daffi memperkenalkan Fella sebagai istri sahnya. Dia pun banyak mendapat ucapan selamat dari mereka.
"Kak, aku mau ke kamar mandi. Di mana ya?" bisik Fella ketika Daffi masih berbincang dengan rekan-rekannya.
Daffi tidak menjawab dengan kata, melainkan menanggapinya dengan usapan mesra dipunggung tangan yang saat itu masih digenggam erat. Lalu Daffi pamit undur diri, dan mengajak Fella menjauh dari sana.
"Ayo, Sayang, aku antar!" ucap Daffi dengan lembut, dan diiringi senyum menawan.
Wajah Fella menghangat. Perhatian Daffi memang tidak main-main. Suaminya itu rela menyudahi perbincangan hanya demi mengantarnya ke kamar mandi. Padahal, cukup diarahkan saja dia bisa melakukannya sendiri.
"Beruntung sekali aku dipertemukan dengan Kak Daffi, apalagi sampai menjadi istrinya," batin Fella. Hatinya sangat berbunga-bunga karena kebahagiaan datang tidak terkira.
Terlalu hanyut dengan kebahagiaan yang ia miliki sekarang, Fella sampai tak pernah lagi mengingat masa lalunya yang kelam. Dia juga tak mengira jika malam itu akan ada sosok masa lalu yang melihat kehadirannya. Sosok yang tak lain adalah Deliska.
"Fella, benarkah itu dia?" ucap Deliska sambil melangkah mundur.
__ADS_1
Saat itu dia akan ke kamar mandi, dan tak sengaja melihat Fella bergandengan tangan dengan seorang lelaki. Fella masuk, sedangkan lelaki itu menungguinya di luar. Deliska tidak mempermasalahkan siapa lelaki yang bersama Fella, yang dia khawatirkan hanya kehadiran Fella yang bisa saja mengusik rumah tangganya bersama Dylan.
"Jadi dia sudah pulang? Sial, mau apa lagi sih dia kembali?" Wajah Deliska berubah tegang. Belum selesai masalah kehamilan, sekarang malah ditambah Fella yang sudah kembali. Pernikahannya dengan Dylan benar-benar diuji.
Tak ingin Fella menyadari kehadirannya, Deliska bergegas pergi dari sana. Berulang kali dia menarik napas panjang agar rona mukanya tak lagi tegang ketika berhadapan dengan Dylan.
"Sayang, kok cepet?" tanya Dylan ketika Deliska sudah tiba di sana. Tak biasanya dia ke kamar mandi sesingkat itu.
Deliska kembali tegang. Dia juga gugup, dan kesulitan menjawab pertanyaan Dylan. Meski tadi sudah dirancang dengan matang, tetapi nyatanya bayang-bayang Fella terus menghantui. Hingga otaknya buntu, dan tak bisa berpikir lagi.
"Sayang!"
Dylan mengangguk tanpa curiga sedikit pun. Deliska lega sesaat, setidaknya malam ini Dylan tidak bertemu dengan Fella. Sedangkan di hari-hari berikutnya, akan ia pikirkan lagi nanti.
Namun, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan bayangan Deliska. Malam itu ketika pesta sudah berakhir, Dylan melihat Fella akan masuk ke dalam mobil yang berdekatan dengan mobil miliknya. Mata Dylan membelalak, dan dengan cepat ia menghampiri adiknya itu.
"Fella!"
Merasa dipanggil, Fella pun menoleh, dan dia sangat terkejut saat tahu bahwa itu adalah Dylan. Seseorang yang ingin dia lupakan selamanya.
__ADS_1
"Fella, tunggu, Fella!" teriak Dylan sambil menahan tangan Fella. Dia tidak membiarkan adiknya pergi tanpa berkata apa pun.
"Lepas!" Fella menepis kasar tangan Dylan, lalu melangkah mundur sambil menatap tajam.
"Kita harus bicara, Fel!" kata Dylan masih dengan nada tinggi.
"Nggak. Di antara kita udah nggak ada yang perlu dibicarakan. Kamu sendiri yang bilang kalau kita bukan siapa-siapa lagi!" tolak Fella dengan tegas.
Luka dari masa lalunya kembali menganga ketika bertemu dengan Dylan. Dia dipaksa pergi ke luar negeri, di saat keluarga yang lain bahagia merayakan pernikahan Dylan dan Deliska. Fella masih ingat betapa hancurnya dia saat itu.
"Waktu itu memang aku yang salah karena terlalu kasar sama kamu. Aku minta maaf, Fel. Tapi sekarang, berhentilah sebentar dan kita bicara."
"Nggak perlu. Aku udah terbiasa melewati semuanya sendirian. Dan lagi, sekarang aku udah bahagia dengan suamiku. Jadi kuharap kamu nggak ganggu-ganggu aku lagi!" jawab Fella. Kemudian pergi begitu saja bersama Daffi, tak peduli meski Dylan masih terpaku, dan mengharapnya tetap di sana.
"Bahkan dia nggak memanggilku kak," batin Dylan dengan raut muka yang masam.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋 vote nya ditunggu ya wkkk
__ADS_1