Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 37


__ADS_3

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Daffi merasakan sebuah tendangan sayang dari makhluk hidup yang bahkan belum dia lihat. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anak kandung istrinya itu membuat getaran bahagia di hati Daffi.


“Anak Papa di dalam lagi ngapain sih? Sempit ya di dalam?” tanya Daffi sambil menempelkan telinganya tepat di perut buncit Fella.


Mendengar omongan Daffi pada anaknya, Fella pun tertawa dan tanpa sadar membelai rambut suaminya. Keduanya saling berpandangan dan membuat debaran tidak wajar di hati Fella dan Daffi.


Daffi segera memosisikan diri untuk menjauh dari Fella. Dia tak ingin menciptakan kesan seolah sedang mencuri kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya.


“Maaf ya!” ujar Daffi yang merasa tak enak hati.


Fella hanya menanggapi ucapan suaminya itu dengan tersenyum kaku. “I-iya, nggak apa-apa, Kak!”


Keduanya terlihat canggung sekarang dan mereka hanya diam sambil membuang muka satu sama lain. Daffi merutuki dirinya sendiri di dalam hati. “Aduh, kenapa aku jadi baper begini, sih! Pasti Fella mikir macem-macem, deh.”


Untuk menghilangkan rasa malu di hatinya, Daffi akhirnya pamit ke kamar. Begitu pun dengan Fella yang segera membereskan meja makan.


*

__ADS_1


*


Pagi ini, Daffi menerima kabar yang kurang mengenakkan. Neneknya tiba-tiba jatuh di kamar mandi dan sekarang harus mendapat perawatan di rumah sakit. Mau tidak mau, Daffi harus meninggalkan Fella yang sedang hamil itu sendirian.


“Kamu yakin, kamu nggak mau ikut aku aja?” tanya Daffi saat Fella membantunya bersiap-siap.


Fella menggeleng yakin. “Aku di sini aja. Aku bisa ketemu mereka tanpa terduga kalau aku ikut. Apalagi kehamilan aku juga nggak mendukung. Salam aja buat Nenek ya.”


Daffi tidak bisa berbuat apa pun untuk memaksa Fella. Dia hanya bisa berjanji untuk segera pulang dan menemani Fella lagi hingga melahirkan.


Setelah semuanya siap, hati Daffi terasa berat untuk meninggalkan Fella sendiri. Rasa khawatir pada ibu hamil itu membuat Daffi di ambang kegalauan. Namun, kesehatan dan keselamatan sang nenek juga lebih penting.


Dengan sedikit keberanian, wanita itu meraih tangan Daffi dan menciumnya dengan penuh keikhlasan.


Daffi memandang istrinya dengan bingung saat Fella mencium tangannya layaknya sikap seorang istri yang akan ditinggal pergi suaminya.


“I-iya.”

__ADS_1


Laki-laki itu merasa gugup. Dia menurunkan posisi tubuhnya untuk menunduk, lalu Daffi pun berpamitan pada anak dalam kandungan Fella.


“Papa pergi dulu ya. Jangan bikin Mama susah!” Daffi mendongak untuk melihat Fella yang saat ini tersenyum ke arahnya. Dia pun memberanikan diri untuk mencium perut Fella seperti kemarin.


Melihat respons Fella yang sama sekali tidak keberatan dengan perlakuannya, Daffi pun semakin berani dan mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.


Fella mematung karena ciuman itu. Namun, perasaannya terasa hangat karena ciuman itu ternyata sampai ke dalam hatinya.


“Aku pergi dulu!” pamit Daffi kemudian.


Fella mengangguk, masih dengan perasaan hangat yangbdia rasakan. Wanita itu akhirnya melihat sang suami masuk ke mobil dan perlahan mobil pun meninggalkan rumah mereka.


Fella baru sadar dengan senyum di wajahnya saat mobil Daffi sudah melaaju meninggalkannya.


“Kenapa aku senyum-senyum begini? Apa sejak tadi aku begini? Jangan-jangan Kak Daffi udah mikir yang enggak-enggak soal aku,” gumam Fella sembari masuk ke rumahnya


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2