
Mama Larissa dan Papa Ferdinand tak pernah menyangka jika bantuan malah datang dari Daffi. Lelaki yang menyandang gelar suami Fella itu sedikit demi sedikit membantu keuangan di perusahaan, sampai akhirnya bisa melewati masa krisis.
Papa Ferdinand dan Mama Larissa sangat berterima kasih, Daffi seperi malaikat penolong yang datang di saat darurat. Hingga sekarang Papa Ferdinand punya waktu untuk menjenguk Deliska, yang sudah enam hari terbaring koma di rumah sakit.
Semakin hari kondisi Deliska semakin buruk. Menurut keterangan dokter, saat ini keadaannya sangat kritis. Kanker di tubuhnya sudah parah. Operasi angkat rahim pun tidak akan membantu karena sudah menyebar ke mana-mana. Deliska terlambat ditangani secara medis, jadi sekarang hanya bisa menunggu keajaiban.
"Andai saja aku bisa membujuknya lebih awal," gumam Dylan, meratapi nasib sang istri yang berjuang di antara hidup dan mati. Terlalu dalam kesedihan yang ia rasa, sampai air matanya jatuh begitu saja.
Tak jauh dari tempat Dylan duduk, Fella berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari kakaknya itu. Dia ikut miris dengan apa yang menimpa Deliska, juga ikut sedih melihat Dylan yang semakin kehilangan semangat hidupnya.
Dalam enam hari saja, tubuh Dylan tampak lebih kurus. Matanya pun terlihat cekung, dan juga terdapat kantung hitam. Menunggu Deliska siuman, Dylan sampai lupa mengurus diri. Bahkan, mandi dan makan tidak tentu sehari sekali. Sepanjang hari hanya duduk di depan ruangan tempat istrinya dirawat, menunggu dokter datang dan membawa kabar baik. Namun, entah kapan itu.
"Yang sabar ya, Kak. Kita doakan yang terbaik untuk Kak Deliska." Fella mendekati Dylan, dan duduk di sebelahnya.
Tidak ada jawaban dari mulut Dylan, sekedar anggukan dan embusan napas kasar. Fella pun tidak mempermasalahkan itu, keadaan yang menimpa Dylan kali ini memang sangat sulit.
Ketika Dylan dan Fella masih duduk bersama, Daffi datang sambil membawa kotak makanan. Namun, Fella langsung mual saat mencium aroma daging yang ada di kotak itu.
"Sayang, kamu kenapa, Sayang?" Daffi panik, dan menyusul istrinya ke kamar mandi.
Fella muntah cukup banyak, sampai tubuhnya lemas dan wajahnya memucat. Dia juga merasa pusing seperti beberapa hari lalu.
Kali ini, Daffi tidak mau tawar menawar lagi. Dia membawa Fella ke ruangan dokter, dan memeriksakan kondisinya, setelah kemarin Fella terus menolak dengan alasan sudah minum obat.
"Selamat ya, Pak Daffi, istri Anda hamil. Usia kandungannya baru memasuki minggu kelima, tapi kondisinya cukup sehat. Hindari makanan yang membuat mual, dan perbanyak istirahat serta minum vitamin. Jangan lupa periksakan kondisinya secara berkala."
__ADS_1
Keterangan dari dokter sangat mengejutkan. Daffi masih tak percaya jika Fella hamil lagi dan sekarang ia benar-benar menjadi seorang ayah. Hal yang sama juga dirasakan oleh Fella, bahagia sekali dia bisa mengandung anak Daffi.
Keduanya saling bertatapan, lalu saling memeluk. Daffi bahkan menciumi rambut Fella berkali-kali saat mereka masih di hadapan dokter.
Tak lama setelah keluar dari ruangan dokter, Fella dan Daffi membagi kabar itu kepada Mama Larissa dan Papa Ferdinand. Mereka turut bahagia di balik kesedihan atas kondisi Deliska. Memang Tuhan maha adil. Di dalam ujian yang berat, ada setitik cahaya yang menjadi penyemangat.
**
**
Wangi mawar dan aroma khas bunga kamboja, begitu tajam tercium di hidung. Menyadarkan mereka yang berdiri di dekat gundukan tanah, pada sebuah perpisahan yang tidak akan ada titik temunya.
Deliska, wanita yang masih menyandang gelar Nyonya Dylan, mengembuskan napas terakhirnya setelah dua minggu penuh koma di rumah sakit.
Segala usaha sudah dikerahkan oleh tim medis, tetapi takdir berkata lain. Penyakit kanker yang sudah parah mengantar Deliska pada kematiannya.
Tangannya dengan erat menggenggam batu nisan yang bertuliskan nama sang istri, sedangkan yang sebelah lagi mencengkeram kelopak mawar yang baru saja ditaburkan.
Dylan masih tak percaya jika Deliska pergi secepat itu. Rasanya baru kemarin keduanya melangkah ke pelaminan, dan kini sudah dipisahkan dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
"Maafkan aku, Sayang, belum sempat membahagiakan kamu, belum sempat menjadi suami yang baik untuk kamu. Andai saja waktu bisa diulang, akan kuperbaiki semua sikapku yang menyakitimu," batin Dylan.
Air matanya terus berjatuhan, menyesali setiap perbuatan yang pernah ia lakukan, yang beberapa di antaranya menyakiti hati Deliska.
Dylan tidak peduli meski satu per satu orang sudah meninggalkan tempat itu. Ia masih betah berlama-lama di sana, menunggu keajaiban, andai nanti Deliska bangun dan hidup lagi. Walaupun itu sangat mustahil.
__ADS_1
"Sayang, aku udah nggak ada kesempatan untuk membahagiakan kamu. Aku di sini hanya bisa menebus kesalahan yang pernah aku lakukan. Sayang, pegang teguh janjiku kali ini. Aku janji nggak akan menduakan cintaku ke kamu. Nggak akan kubiarkan wanita lain menodai pernikahan kita. Selamanya, hanya kamu satu-satunya istriku, satu-satunya wanita yang kucintai sampai aku mati."
Dylan mengucapkan janji yang tegas dalam hatinya. Bukan hanya terbawa suasana sesaat, tetapi memang itu yang pasti ia rasakan. Cinta untuk Deliska begitu besar, begitu pun dengan rasa bersalah dan juga kehilangan. Jadi, sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Deliska.
Fella yang saat itu berada tepat di samping Dylan, beringsut mendekat dan memeluknya sambil menangis.
"Ikhlaskan dia, Kak," bisik Fella.
Lalu dia eratkan pelukan untuk menenangkan sang kakak. Kali ini kasih sayang yang dia punya adalah kasih sayang antara kakak dan adik, bukan rasa suka antar lawan jenis seperti dulu.
Tidak hanya Fella, Daffi pun ikut menenangkan Dylan. Dia yang saat itu masih berdiri di sana, perlahan duduk dan menepuk bahu Dylan.
"Raganya sudah nggak kuat lagi, akan lebih menyiksa jika kita memaksanya bertahan. Menangislah jika itu bisa meringankan bebanmu saat ini, tapi berjanjilah untuk selalu tersenyum setelahnya. Di sana, dia juga nggak mau melihat kamu sedih. Jangan buat dia menyesal karena gagal melawan penyakitnya," ujar Daffi sambil menggenggam erat bahu Dylan.
Daffi sangat paham bagaimana perasaan Dylan, karena dulu dia juga pernah mengalami hal yang sama. Ditinggalkan oleh wanita yang dicintai dalam rasa bersalah yang besar. Butuh tekad kuat, dan waktu yang banyak untuk melupakan semua itu.
Meski tidak menjawab, tetapi Dylan mendengarkan ucapan Daffi. Dalam beberapa menit ia tumpahkan semua tangis dan kesedihan yang menyesakkan. Hingga akhirnya, dia ada kekuatan untuk bangkit, dan meninggalkan tempat itu.
Sambil dibimbing oleh Daffi dan Fella, Dylan melangkah pergi. Semakin lama semakin jauh dari tempat terakhir Deliska.
"Selamat tinggal, Sayang, semoga kamu tenang di sana. Aku di sini juga berusaha tenang, dan menjalani hari sebagaimana mestinya. Kamu jangan khawatirkan aku, cinta dan pernikahan kita akan tetap kujaga sampai aku menyusulmu," batin Dylan sambil menoleh, menatap kembali gundukan tanah yang menimbun tubuh Deliska.
TAMAT
***
__ADS_1
Terima kasih gaess udah setia baca sampai akhir, semoga ada hikmah yang bisa diambil buat jadi pelajaran ya 💋💋💋