Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 16


__ADS_3

Fella keluar dari ruangan dosen sambil membawa surat yang menyatakan bahwa dirinya bukan lagi mahasiswa di universitas tempatnya kuliah. Sekarang, hidupnya benar-benar telah berantakan.


Devina menghampiri sahabatnya dan mengerti apa yang terjadi pada Fella. Melihat surat yang dibawa Fella, bukankah sudah jelas bahwa gadis itu sudah di drop out dari kampus.


“Fella, apa yang terjadi?” Devina dengan sedih memeluk sahabatnya itu.


Dia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang menimpa Fella. Devina pikir, itu hanya salah paham atau entah apa yang sebenarnya bukan salah Fella.


“Ini semua salahku, Dev,” ungkap Fella dengan sangat sedih.


Devina memperhatikan sekitar dan masih menangkap tatapan aneh beberapa mahasiswa pada Fella. Sebagian dari mereka bahkan berbisik-bisik sambil menatap sinis.


Sadar jika ini bukan tempat yang baik untuk saling bercerita, Devina pun menyeret tangan sahabatnya itu menuju minimarket yang tidak jauh dari kampus mereka.


“Sekarang ceritakan apa yang terjadi, Fel!” perintah Devina sembari mengulurkan sebotol minuman dingin yang dibelinya dari minimarket itu.


Fella mengamati tiga orang mahasiswa yang baru keluar dari minimarket dan kini menatap jijik padanya. Dia tahu, ini adalah bagian dari hukuman atas kebodohannya itu.


“Apa lo liat-liat! Pergi sana!” usir Devina, paham bahwa sahabatnya tidak nyaman dengan kemunculan tiga mahasiswa yang tidak mereka kenal itu.


Ketiga mahasiswa itu lalu pergi dengan ekspresi menghina yang terlihat jelas.


“Sudah, nggak usah dengarkan mereka. Kamu sebenarnya ada apa, Fel? Yang di video itu benar kamu, atau editan saja?”


Fella menundukkan kepala. Dia tahu, Devina bisa dipercaya dan tidak akan menghakiminya karena kesalahan itu. Namun, yang dia lakukan adalah kesalahan terfatal dan mungkin akan sulit diterima sekali pun oleh Devina.

__ADS_1


“Kalau aku bilang, itu benar. Apa kamu akan benci juga sama aku, Dev?” Fella meraih tangan sahabatnya itu untuk digenggam sembari menatapnya dengan sayu. Jika kali ini Devina ikut membenci dirinya, setidaknya Fella sudah jujur dengan sahabatnya itu.


Devina sudah bisa menebak sejak awal, dia hanya butuh kejujuran Fella saja dalam hal ini. “Fela! Nggak ada orang yang nggak punya salah di dunia ini. Tapi, semua orang yang bersalah harus menyadari kesalahannya dan meminta maaf.”


“Apa aku berhak dimaafkan? Aku sudah sangat hina. Aku ... Kak Dylan. Aku sayang banget sama Kak Dylan, aku nggak mau kalau Kak Dylan dimiliki orang lain. Aku beneran cinta sama Kak Dylan, Dev.”


Air mata Fella kembali meluncur dengan deras. Dia sampai melipat tangan di atas meja dan menundukkan kepala. Fella terisak dalam rasa bersalah dan rasa cinta yang membelenggunya dalam kesalahan fatal.


“Minta maaf sama Kak Dylan dan mama papa, Fel. Tuhan saja mau memaafkan manusia, mereka pasti juga akan memaafkan kamu!”


Devina menggeser kursi dan mengusap punggung sahabatnya itu. Dia tidak tahu harus berkomentar apa. Semua orang memiliki rasa cinta yang tidak bisa ditentukan akan berpihak pada siapa. Namun, Fella sudah terlanjur terperosok dalam jurang kebodohannya sendiri dan kini dia harus menanggung konsekuensinya.


*


*


*


Dylan pantang menyerah. Dia tetap berdiri memegangi gerbang rumah Deliska yang seharusnya besok menjadi istrinya.


Sampai akhirnya, ayah Deliska yang baru datang, membuat laki-laki itu memiliki kesempatan untuk masuk ke rumah calon mertuanya.


“Om, aku mau ketemu Deliska. Aku mau minta maaf langsung sama Deliska, Om.” Dylan mengekor di belakang ayah Deliska yang sepertinya sedang mendapat masalah lain.


Ayah Deliska mengabaikan Dylan, membuat calon menantunya itu leluasa mengejarnya sampai ke dalam rumah.

__ADS_1


Deliska sedang mengambil air minum dan terkejut saat melihat Dylan yang terus mengucap maaf pada papanya.


Mekihat Deliska, Dylan pun berlari untuk menahan gadis itu sebelum menghindarinya. Akhirnya, Deliska pun mengalah dan membiarkan Dylan menjelaskan semuanya.


“Aku minta maaf banget, Del. Aku nggak tau kalau minuman aku dicampur sesuatu sama Fella. Bahkan, tadi malam aku pikir kalau itu kamu yang ada di hadapan aku. Aku cintanya cuma sama kamu, Deliska!” terang Dylan.


Laki-laki itu berusaha menjelaskan dengan pelan, supaya Deliska tahu bahwa dia tidak bersalah.


Orang tua Deliska hanya diam, karena masalah besar juga sedang dipikirkan oleh sang ayah. Jadi, untuk masalah ini, mereka memasrahkan semua keputusan pada Deliska.


“Maafkan aku, Del. Aku sungguh minta maaf. Bahkan sekarang aku sangat membenci Fella,” ungkap Dylan sambil mengepalkan tangan.


“Kamu pulang aja, Dylan. Aku perlu berpikir karena aku masih sangat sakit hati,” balas Deliska dengan datar.


Dylan mengembuskan napas dengan kasar. “Tapi, besok kita akan menikah, Del. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku benar-benar mencintai kamu, Deliska.”


Deliska membuang muka, tak mau menatap Dylan. “Kalau aku tidak datang, berarti pernikahan kita batal! Aku butuh waktu, tolong hargai aku!”


Deliska beranjak bangun dan meninggalkan Dylan sambil menyeka air mata yang sejak tadi berusaha ditahan. Dia tidak ingin menangis di hadapan Dylan saat ini.


Dylan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia tidak bisa memaksa Deliska untuk memaafkannya saat ini, mungkin gadis itu memang butuh waktu untuk berpikir. Akhirnya, Dylan terpaksa pulang ke rumahnya dengan rasa kecewa karena gagal mengantongi maaf dari calon istrinya itu.


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋

__ADS_1


__ADS_2