Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 13


__ADS_3

Dylan dan Fella sudah memakai pakaian lengkap mereka. Akan tetapi, keributan keduanya yang didominasi oleh kemarahan Dylan, membuat orang tua mereka pun turun tangan.


Mama Larissa yang awalnya mendengar teriakan kedua anaknya, mengira keduanya bertengkar biasa. Namun, saat Dylan membanting bekas gelas minuman mereka kemarin, ibu kandung Dylan itu segera menemui kedua anaknya.


“Ada apa ini?” tanya Mama Larissa saat melihat kamar putrinya yang berantakan.


“Lihat Fella! Ada Mama. Kalau Mama tahu, pasti akan kecewa dan marah besar karena perbuatan kamu itu! Bagaimana kamu menjelaskannya sama Mama?” maki Dylan yang benar-benar sudah dikuasai amarah.


Dylan benar-benar kesal karena sudah melakukan hal yang sangat gila dengan adiknya sendiri. Jika saja dia melakukannya dengan Deliska, mungkin rasa kecewanya tidak akan separah ini. Bagaimana bisa seorang kakak bercinta dengan adiknya sendiri?


“Dylan apa yang sudah terjadi?” tanya wanita empat puluh lima tahunan itu pada sang putra. Sementara putrinya hanya menunduk sambil terus menangis.


“Aku minta maaf, Ma. Aku dijebak sama Fella!” ungkap Dylan merasa sangat bersalah pada sang ibu.


Pernyataan Dylan itu tentu saja menggoreskan luka di hati Mama Larissa. Wanita itu sama sekali tidak menyangka jika putra-putrinya melakukan hal yang begitu nista. Ibu itu sampai kehilangan kata-kata untuk memaki anak-anaknya sendiri.


“Kalian berdua ... bicara langsung sama Papa!” kata Mama Larissa yang seketika langsung berlari dengan air mata yang berlinang. Hatinya terasa remuk mana kala bayangan kehancuran keluarga ada di depan mata.


Sambil memegangi dadanya yang terasa sakit, Mama Larissa meninggalkan kamar Fella dan segera menemui sang suami untuk mencurahkan segala kesedihan yang saat ini dirasakan.


“Mama kenapa menangis?” tanya Papa Ferdinan yang kemudian memeluk istrinya.


Tidak lama, Dylan turun dari lantai dua kamarnya, disusul Fella yang berjalan sambil menunduk. Gadis itu rupanya baru menyadari bahwa yang dia lakukan adalah sebuah kebodohan. Melihat air mata yang mengalir di wajah sang ibu tanpa kata-kata, hati Fella jadi tidak karuan.


“Mereka sudah mengecewakan kita, Pa,” ungkap Mama Larissa sambil menunjuk ke arah Dylan.

__ADS_1


Pandangan Papa Ferdinan pun tertuju pada Dylan. Meski dia belum mengerti apa maksud sang istri, laki-laki itu tetap melayangkan tatapan tajam untuk putranya.


“Ma-maaf, Pa. Aku akan jelaskan semuanya!” Dylan menunduk dalam-dalam. Dia memejamkan mata dengan gusar.


Sementara Fella berjalan pelan menghampiri kakak dan orang tuanya dengan debaran keras di dada. Dia baru menyadari bahwa akibat keegoisannya itu, Dylan dan kedua orang tuanya pasti akan membencinya.


“Aku ... aku sama Fella.”


Dylan begitu sulit mengungkap apa yang terjadi antara dirinya dan Fella. Dia sudah melakukan kesalahan dan dosa terbesar seumur hidupnya. Entah bagaimana cara menjelaskan pada orang tuanya jika itu hanya sebuah kecelakaan, cinta dan komitmennya hanya untuk Deliska seorang.


“Ada apa Dylan?” gertak Papa Ferdinan yang kian tak sabar. Laki-laki itu juga melirik putrinya yang berjalan tanpa alas kaki dengan tubuh bergetar karena ketakutan.


Namun, belum sempat Dylan menjawab lagi, tiba-tiba orang tua Deliska datang dengan suara ribut-ribut yang semakin mengacaukan rumah mereka.


“Dasar laki-laki menjijikkan!”


Sebuah tonjokan keras seketika mendarat di pipi Dylan, hadiah dari calon mertua yang telah dia kecewakan.


“Ada apa ini?” Papa Ferdinan berdiri dengan geram, merasa tidak terima karena putranya dihajar oleh calon besannya sendiri.


Dylan memegangi pipinya yang terasa panas, perih, dan sakit. Darah segar juga keluar dari sudut bibir yang membuat laki-laki tampan itu meringis kesakitan.


“Saya tidak mengerti dengan keluarga ini. Bisa-bisanya kalian membiarkan adik dan kakak yang menjalin hubungan menjijikkan!” bentak ayah Deliska itu dengan suara tinggi. Emosinya sudah di ubun-ubun dan kini akhirnya meledak.


Papa Ferdinan mengernyit, masih tidak mengerti apa yang calon besannya itu tuduhkan. “Maksud Anda apa? Jangan sembarangan bicara, ya!”

__ADS_1


Tubuh Fella kian bergetar melihat apa yang ada di depan matanya. Masalah besar sedang menimpa keluarganya saat ini. Gadis yang tidak layak disebut gadis lagi itu, baru menyadari dan mulai menyesali keegoisannya yang telah menghancurkan harkat dan martabat orang tuanya.


“Deliska sudah merekam apa yang kedua anak Anda lakukan. Coba Anda tanya sendiri pada mereka berdua! Yang jelas, saya tidak mau punya hubungan dengan keluarga yang anggotanya menjalin hubungan darah seperti Dylan dan adiknya!” jelas ayah Deliska.


Tentu saja pernyataan ayah Deliska itu membuat Papa Ferdinand tercengang. Tuduhan macam apa yang telah calon besannya itu ungkapkan? Mana mungkin anak-anaknya melakukan hubungan terlarang seperti yang mereka katakan.


“Dylan, apa itu benar?” tanya Papa Ferdinan sembari mengepalkan tangan dengan tubuh yang terasa mendidih.


“Maaf, Pa. Aku ....”


Belum selesai Dylan melanjutkan kata-katanya, Papa Ferdinan langsung menampar putranya itu. Dia benar-benar kecewa dengan apa yang diperbuat oleh Dylan dan Fella.


“Kita batalkan saja pernikahannya!” Ayah Deliska langsung pergi tanpa mau tahu lagi drama yang terjadi dalam keluarga Dylan.


Dylan mencegah calon mertuanya pergi. Dia berusaha menjelaskan tapi percuma. Sang calon ayah mertua berhasil meninggalkan rumah itu dengan emosi yang meluap.


Dylan lalu kembali ke dalam dan meminta maaf pada ayah dan ibunya. “Pa, aku cuma mau menikah dengan Deliska. Aku nggak mau hidup dengan wanita lain. Cuma Deliska yang aku cintai, Pa. Tolong ampuni aku!”


Papa Ferdinan sudah kehilangan kata-kata. Berita itu sangat mengejutkan hingga membuat kepalanya pening juga dadanya yang terasa sesak. Dia tidak mengerti harus bersikap bagaimana saat ini. Jika pernikahan Dylan dibatalkan, maka itu akan membuat malu dan menjatuhkan harga dirinya. Sementara dia juga tidak bisa mengusir Fella ataupun Dylan karena itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah.


“Semua ini gara-gara dia!” Dylan menunjuk Fella dengan dengusan napas yang terdengar kuat. Kedua rahangnya saling beradu hingga menimbulkan suara gertakan yang khas.


“Fella! Jelaskan semuanya dengan jujur! Apa yang terjadi tadi malam!”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa.. Bacanya pelan-pelan jangan lupa tarik napas dalam dalam🤣🤣


__ADS_2