
Fella kini sudah berada di rumah dengan tubuh yang masih basah karena kehujanan. Mama Larissa baru keluar dari kamar disusul dengan Papa Ferdinand yang juga baru keluar kamar.
Tiba-tiba, Fella teringat ucapan dan pesan Devina untuk meminta maaf pada kedua orang tuanya, apa pun yang terjadi. Kesalahan Fella mungkin sangat melukai perasaan orang tuanya. Mungkin juga mereka tidak langsung memaafkan, tetapi setidaknya Fella harus meminta maaf karena kesalahan terbesarnya itu.
“Mama,” sapa Fella sambil berjalan ke arah sang ibu yang menyeka air mata.
Mama Larissa tentu sangat sedih atas kejadian yang menimpa keluarganya. Walau bagaimanapun juga, wanita itu begitu menyayangi Fella setulus hati. Sejak lahir, Fella adalah putrinya meski faktanya Fella bukanlah putri kandungnya.
“Papa sudah dengar, kamu dikeluarkan dari kampus hari ini, ‘kan?” sentak Papa Ferdinand saat Fella sudah berdiri di hadapannya.
Fella menunduk sambil memegangi tali tas yang dipakainya dengan kuat. Semakin dai merasa gugup, semakin kenang pegangannya pada tali tas itu.
“Ma-maaf, Pa.” Fella mengangkat sedikit wajahnya untuk melihat ekspresi ayah dan ibunya. Sayangnya, yang Fella lihat papanya begitu marah sampai enggan menatapnya. “Aku minta maaf, Ma, Pa.”
__ADS_1
“Sebelum melakukan itu pada kakakmu sendiri, apa kamu tidak berpikir, Fella?” Papa Ferdinan masih membuang muka. Dia lalu menarik istrinya untuk menjauh dari Fella.
Fella benar-benar terbuang. Dia merasa dirinya bagaikan pendosa yang pantas dibuang. Benar-benar seperti sampah yang tidak berguna karena kesalahan fatal itu.
Namun, Fella tidak ingin menyerah begitu saja. Dia berbalik badan dan menatap kedua orang tuanya yang duduk di sofa. Di saat yang bersamaan, Dylan turun dari lantai dua kamarnya dan menghampiri papa dan mamanya.
Fella segera berlari dan bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. Dia pikir ini adalah jalan terakhir untuk mendapatkan maaf dari papa dan mamanya.
“Pa, Ma. Aku memang sangat bersalah. Aku benar-benar menyesal sudah melakukan kesalahan itu, Pa, Ma.”
“Maafin aku. Aku mohon maafin aku!” Suara Fella sampai bergetar saat mengatakan permohonan maafnya pada orang tua yang selama ini telah merawat dan membesarkannya.
Dia memegangi kaki papa dan mamanya sambil terus mengucap kata maaf. Rupanya, dia benar-benar telah menyesali perbuatannya itu.
__ADS_1
Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh papa dan mamanya tak seperti yang Fella harapkan. Mereka mengabaikan Fella begitu saja.
“Om, Tante!” Suara Dylan yang tengah menyapa seseorang membuat suara Fella terhenti.
Papa dan mama Fella itu malah bangkit dari duduk saat melihat tamu yang datang. Rupanya, orang tua Deliska bertamu dengan raut pasrah dan putus asa.
“Selamat datang, Pak Prayoga!” sapa Papa Ferdinand pada ayah Deliska yang datang bersama istrinya.
Laki-laki yang merupakan ayah kandung Deliska itu akhirnya memutuskan untuk mendatangi lagi rumah calon besannya usai mengakhiri hubungan dengan keadaan emosi.
“Pak Ferdinand. Kita lanjutkan saja pernikahan Dylan dan Deliska. Undangan sudah disebar dan persiapan juga sudah rampung. Yang terjadi antara keluarga kalian tentu akan ditutupi dengan pernikahan ini. Tapi, kami minta gadis itu segera dinikahkan dengan orang lain!” tutur ayah Deliska sembari menunjuk Fella yang masih terduduk di lantai dengan raut muka menyedihkan.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋