Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 46


__ADS_3

Keesokan harinya, Dylan dan Deliska datang ke rumah sakit untuk mengikuti program hamil. Meski dengan terpaksa Dylan tetap menemani istrinya, dari pada nanti marah-marah jika dibiarkan pergi sendiri.


Namun, karena pikirannya masih kacau memikirkan ibunya yang sakit, juga Fella yang belum ditemukan keberadaannya, Dylan tidak banyak bicara apalagi tersenyum. Raut mukanya datar, dan bicaranya hanya satu dua kata saja.


"Sayang, kamu kok diam aja sih?" protes Deliska ketika mereka sudah keluar dari ruangan dokter.


"Diam gimana sih? Dari tadi aku bicara loh," jawab Dylan, sedikit meninggikan suaranya. Merasa kesal karena masih saja salah di mata Deliska.


"Bicara tapi cuek. Tadi di dalam nggak nyahut apa-apa pas dokter jelasin ini itu, sekarang juga nggak mau bahas hasilnya. Kamu menganggap program ini penting nggak sih?" Bukannya diam, Deliska malah membuat suasana hati Dylan semakin keruh.


Mendengar itu, Dylan mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia sudah mencoba bersabar sejak kemarin, tetapi Deliska selalu menguji. Hingga akhirnya Dylan berhenti sambil menatap tajam ke arah istrinya itu.


"Mama lagi sakit. Bolak-balik dia nanyain Fella, dan aku belum bisa nemuin adikku itu. Kamu harusnya ngerti sepanik apa aku saat ini. Kamu bersikeras mengikuti program kehamilan sekarang, aku oke. Di sela-sela kesibukan aku masih menyempatkan diri ngantar kamu. Dan begini masih kamu anggap salah?"


"Tapi, program ini memang sangat penting. Harusnya kamu tahu itu, jadi tidak usah menghubung-hubungkan lagi dengan pekerjaan," jawab Deliska, tak mau kalah.


Dylan tidak menjawab lagi, hanya kedua tangannya yang mengusap wajah dengan kasar, menunjukkan betapa kesalnya dia saat itu. Namun, Deliska masih tidak mau mengerti. Bibir merah itu terus menggerutu, dan menyalahkan Dylan yang kurang antusias dengan program kehamilannya.

__ADS_1


"Terserah kamu aja!" kata Dylan beberapa saat kemudian.


Semakin pusing dia mendengar ocehan Deliska yang tak ada habisnya, jadi lebih memilih pergi sebelum menjadi tontonan orang-orang yang ada di sana.


Tak lama setelah menjauh dari Deliska, mata Dylan menangkap satu sosok familiar yang dalam beberapa hari terakhir ia cari. Siapa lagi kalau bukan Fella. Wanita itu sedang sedang berjalan sambil menggendong anaknya. Dia baru saja keluar dari ruang imunisasi.


"Fella. Benarkah itu dia?" gumam Dylan. Kemudian, dia mempercepat langkah dan bergegas menghampiri adiknya itu.


"Fella, tunggu!" teriak Dylan ketika tiba di belakang Fella.


Tanpa menjawab satu kata pun, Fella berbalik dan siap pergi meninggalkan tempat itu. Namun, tak beda jauh dengan malam itu. Hari ini Dylan juga berhasil menahan tangannya, hingga ia tak bisa pergi begitu saja.


"Lepas!" Fella berusaha meronta karena Dylan menahannya dengan kuat. Dylan sengaja agar Fella tidak pergi seperti malam itu. Dia butuh sedikit waktu untuk bicara dengannya.


"Fel, sekali ini aja kamu diam dulu. Aku mau ngomong penting!" kata Dylan dengan sungguh-sungguh. Namun, Fella tak acuh. Hanya bola matanya yang memutar dengan jengah.


"Mama sakit, dia nyariin kamu terus," sambung Dylan.

__ADS_1


Fella tak menjawab meski sudah berhenti memberontak. Kabar buruk yang dibawa Dylan membuatnya berpikir keras. Di satu sisi dia merindukan Mama Larissa, dan juga khawatir dengan keadaannya. Namun, di sisi lain ia belum siap kembali, terlebih jika berkumpul lagi seperti dulu.


Di saat Fella masih terdiam memikirkan ibunya, tatapan Dylan jatuh pada sosok mungil yang ada dalam gendongan Fella. Bayi kecil itu tidak tidur. Sepasang mata beningnya membuka sempurna, dan membalas tatapan Dylan.


Bersamaan dengan itu, Dylan merasakan debar-debar aneh dalam dirinya. Sudah berulang kali dia melihat bayi, tetapi baru kali ini mendapati perasaannya seaneh itu.


"Ada apa denganku?" batin Dylan, tak mengerti dengan perubahan yang tiba-tiba terjadi.


Belum sempat Dylan bertanya lebih lanjut, Fella sudah pergi dan meninggalkan Dylan yang masih terjebak dalam rasa aneh itu.


Sementara tak jauh dari sana, sepasang mata menatap keduanya dengan nyalang. Kebencian tercetak jelas dalam raut mukanya.


"Kenapa mereka harus ketemu sih? Sial!" umpat seseorang yang tak lain adalah Deliska.


***


Jangan lupa rate bintang 5 nya gaess 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2