
Daffi sangat terkejut melihat kemunculan sang nenek tepat di depan kamar kost yang disewanya. Dia tahu neneknya sedang tidak main-main dengan ancamannya beberapa waktu lalu, tetapi Daffi juga sama sekali tidak mengira sang nenek akan menyusulnya sejauh ini.
Fella melihat Daffi berlari menghampiri neneknya. Dia hanya berani melihat dari jauh dan memperhatikan pertemuan cucu dan neneknya itu.
“Daffi kamu pagi-pagi dari mana? Ngeluyur ke mana kamu, ha?” omel nenek Daffi saat sang cucu mencium tangannya.
Fella sedikit menyunggingkan senyum saat melihat interaksi Daffi dan neneknya. Wanita itu lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar kos yang berada persis di sebelah kamar kos Daffi.
Awalnya Fella hanya ingin berjalan begitu saja sambil pura-pura tidak mengenal Daffi. Namun, rupanya laki-laki itu malah ingin membuatnya terjebak dalam obrolan bersama sang nenek.
“Aku baru pulang sarapan, Nek. Iya 'kan, Fel?”
Mau tidak mau, Fella akhirnya menoleh pada Daffi dan neneknya. Wanita itu hanya menampilkan senyum tipis untuk mengapa nenek Daffi.
“Dia siapa?” tanya nenek Daffi sambil mengibaskan kipasnya.
Nyali Fella mendadak menciut karena tatapan nenek Daffi. Dia pikir nenek itu tidak menyukainya.
Daffi segera menjawab sebelum neneknya semakin membuat Fella takut. “Ini namanya Fella, Nek!”
“Oh jadi ini pacar kamu, Daffi?” tanya nenek Daffi.
__ADS_1
Mantan pacar Daffi memang bernama Bella dan belum pernah bertemu dengan neneknya itu. Namun, sepertinya nenek Daffi sudah salah paham dan mengira Fella adalah Bella yang sebenarnya sudah putus dengan cucunya.
Fella mengerutkan kening dan meminta penjelasan pada Daffi lewat surat matanya. Daffi sendiri bingung kenapa neneknya langsung menebak jika Fella adalah kekasihnya.
“Kenapa kalian tidak mau menikah secepatnya? Kalian sudah tinggal di tempat yang sama tapi tidak mau menikah. Kalian nunggu kecelakaan dulu baru mau menikah?”
Nenek Daffi yang sudah salah paham, terus mau ngomel tanpa mau mendengar penjelasan dari kedua manusia itu terlebih dahulu.
“Sa-saya bukan ....”
“Fella masih mau kuliah, Nek. Kami juga sedang banyak masalah, jadi nenek jangan terus memaksa kami untuk menikah,” sahut Daffi seolah membenarkan pemikiran neneknya.
Fella pikir, Daffi sudah membohongi neneknya tanpa persetujuannya lebih dulu. Dia menatap Daffi dengan kesal karena sudah bertindak tanpa izinnya.
“Nenek jangan gitu dong!” Daffi berusaha menahan tangan neneknya yang berniat pergi bersama sopir dan ajudannya.
“Nenek ada di Happy Hotel. Kalau kamu sudah siap menikah, beritahu nenek dalam waktu tiga hari. Kalau tidak, jangan harap kamu bisa hidup enak walaupun di kota kecil ini!”
Keputusan nenek Daffi benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Wanita itu berhasil meninggalkan tempat tinggal cucunya berkat bantuan ajudan setianya.
Daffi hanya bisa memandangi mobil yang disewa oleh neneknya itu dengan kepala yang hampir meledak.
__ADS_1
Sementara itu, ada orang lain yang juga merasa kesal karena masalah yang dihadapi Daffi. Siapa lagi kalau bukan Fella.
Wanita itu dipaksa terlibat dalam urusan Daffi yang tengah terancam tidak mendapatkan warisan.
“Kak Daffi!” panggil Fella yang membuat laki-laki tampan itu berbalik badan ke arahnya.
Daffi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Sekarang, dia harus menghadapi Fella terlebih dahulu sebelum membujuk neneknya. Siapa tahu saja, Fella bersedia membantunya.
“Iya. Fel!” balas Daffi dengan suara lirih.
“Maksud Kak Daffi apa sih? Aku kan nggak setuju sama ide kamu tadi, kenapa sekarang aku jadi terlibat begini?” tanya Fella dengan kesal.
Daffi memutar bola matanya dan mencari alasan yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Fella itu, sekaligus membujuknya agar mau mengikuti rencana untuk menikah.
Usai diam cukup lama, laki-laki tampan itu akhirnya menarik tangan Fella agar mau duduk bersamanya di depan teras.
“Sebenarnya, aku juga nggak tahu kalau nenek bisa berpikir kalau kamu pacar aku. Mungkin karena nama kalian mirip. Atau mungkin juga karena ini rencana Tuhan supaya masalah kita sama-sama terselesaikan!” ungkap Daffi setelah berpikir cukup matang.
Namun, rupanya Fella sama sekali tidak terpengaruh. Dia tetap pada pendiriannya, menolak Daffi karena dia tidak mau dicap sebagai wanita gampangan.
“Maaf Kak Daffi. Aku nggak bisa!”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋