Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Bonus


__ADS_3

Semenjak dinyatakan hamil, perhatian dan cinta Daffi pada Fella semakin bertambah besar. Wanita itu juga semakin berani menunjukkan sikap manjanya pada sang suami yang akan selalu menuruti keinginannya.


Kandungan Fella saat ini sudah memasuki usia lima bulan dan perutnya sudah terlihat semakin buncit. Sore ini, ibu hamil itu tiba-tiba ingin makan gurami asam manis buatan sang ibu. Jadi, dia memutuskan untuk menginap di rumah ibu angkatnya itu dan menunggu Daffi di sana.


Dylan yang mendapat kabar jika Fella akan menginap, memutuskan untuk pulang cepat demi bisa bertemu dengan Fidela. Semenjak kematian Deliska, gadis kecil itulah yang menjadi penyemangat untuk Dylan bertahan hidup.


Dylan membawa mainan untuk Fidela dan gadis kecil itu mengenali suara Dylan yang memanggilnya. Fella membiarkan anaknya itu menghampiri ayah kandungnya.


“Ayah bawa mainan untuk Fidela? Fidela sudah punya mainan kayak gini belum?” tanya Dylan pada gadis kecil itu. Dia bersyukur Fella dan Daffi masih mengizinkan Fidela memanggilnya ayah walau dia tidak memiliki hak apa pun untuk masa depan dan kehidupan putrinya sendiri.


Fidela menggeleng. Tampaknya dia belum memiliki mainan boneka yang bisa bersuara itu dan dia sangat antusias mendapatkannya dari Dylan.


“Nggak apa-apa ‘kan Fel, Fidela main ginian?” tanya Dylan pada sang adik.


“Iya, nggak apa-apa. Tapi harus ekstra diawasi, soalnya dia masih suka masukin mainan ke mulut,” jawab Fella.


Dylan mengangguk. Dia mengerti dan akan mengawasi dengan baik Fidela dan mengajaknya bermain di ruang tengah.


Tak lama, Daffi datang membawa makanan. Fidela segera berlari dengan membawa boneka pemberian Dylan.

__ADS_1


“Papa!” seru Fidela yang terlihat sangat bahagia dengan kedatangan papanya.


“Anak Papa sini!” Daffi menyerahkan makanan yang dia bawa pada Fella dan segera menggendong gadis cantiknya itu. “Uh, Papa kangennya sama kamu! Kamu tadi apa aja? Fidela rewel nggak, Ma?” Daffi mencium kedua pipi Fidela, lalu melakukan hal yang sama pada Fella.


“No, Papa!” sahut Fidela.


Dylan hanya bisa memperhatikan anaknya dalam gendongan pria lain dan tampak bahagia. Dia jadi teringat pada Deliska. Apa yang dilihatnya saat ini adalah kebahagiaan yang dia impikan bersama Deliska, tapi takdir tak pernah berpihak pada bahagianya.


Empat tahun menjalin hubungan, dan hampir dua tahun menikah, Deliska jelas sangat melekat di hati Dylan. Namun, kematian telah merenggut wanita itu dari pelukannya, dan kini hidup Dylan sepenuhnya untuk Fidela yang juga tidak bisa dia miliki. Sementara perasaannya pada Fella sudah dia kubur dalam-dalam karena Dylan tidak mungkin merusak kebahagiaan wanita itu.


“Fidela turun dulu ya! Papa harus mandi dulu!” perintah Fella pada sang putri.


Akhirnya, Fidela pun ikut dengan Dylan. Sementara itu, Fella mengantar suaminya ke kamar untuk mandi dan siap-siap makan malam.


“Sayang, mandiin ya!” bisik Daffi yang kemudian merangkul pinggang Fella sambil menaiki anak tangga.


“Kok kamu yang manja sih, Kak. Kan aku yang hamil,” balas Fella sambil tersenyum malu-malu.


“Perut buncit kamu selalu bikin aku mau dimanja-manja. Mumpung Fidela ada yang jagain bagaimana kalau kita tengok adiknya dulu!” goda Daffi dengan kerlingan mata yang membuat mata Fella melotot.

__ADS_1


“Kak Daffi genit banget!”


“Genit-genit gini, tapi kamu cinta, ‘kan?”


Jika tidak ingat saat ini berada di rumah mertua, mungkin Daffi akan menggendong istrinya itu dan melewati sore yang sejuk ini dengan menghangatkan ranjang.


“Kak Daffi yang cinta duluan!” balas Fella sambil tertawa manja.


“Oke, kamu benar. Aku memang udah cinta sama kamu dari lama.”


“Dari kapan?”


“Dari pertama ketemu, waktu aku nggak sengaja nyerempet kamu. Dan aku nggak nyangka kalau kamu akan menjadi bahagia terindah buatku, Sayang. Aku mencintaimu, Fella.”


“Aku juga mencintaimu, suamiku!”


***


Good siang. Lagi kangen sama Daffi hehe jangan ngarep bonus lagi ya 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2