
Fella sangat kesal saat Dylan mengusirnya dari kamar laki-laki itu. Apalagi, karena kejadian itu, Dylan enggan bicara lagi dengannya.
Bak musuh yang memendam dendam membara, Dylan bahkan langsung berpamitan saat Fella baru bergabung dengannya dan kedua orang tua mereka di depan televisi.
Kak Dylan beneran marah banget? Segitu marahnya dia sampai-sampai nggak mau duduk sebelahan sama aku?
Fella terus berperang dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya membuat sang ibu angkat bicara.
“Kamu sama Kak Dylan lagi marahan?” tanya Mama Larissa usai memilih duduk tepat di samping putri tercintanya.
Fella terkejut karena pertanyaan ibunya itu. Dia mengambil minuman kaleng dan segera menenggaknya hingga habis demi menghilangkan rasa gugup yang kini menyerbu perasaannya.
Apa Kak Dylan cerita sama Mama ya? Kenapa Mama sampai tanya begitu?
Fella berusaha mengatur napas dan ekspresinya supaya tidak terlihat gugup. “Nggak kok, Ma. Aku sama Kak Dylan baik-baik aja kok. Emang kenapa sih, Ma?”
Mama Larissa menarik tangan sang putri dan mengulas senyum. “Mama pikir kalian berantem, kakakmu kok kayak menghindari kamu begitu,” balas Mama Larissa.
Sebagai orang tua, Mama Larissa tentu tidak ingin melihat anak-anaknya bertengkar yang mungkin akan merusak persaudaraan mereka nantinya.
“Ah, itu perasaan Mama aja kali. Kita baik-baik aja kok. Papa lihatnya gimana?” Fella kini beralih pada sang ayah yang sibuk menatap layar tabletnya.
Papa Ferdinand sepertinya tidak mendengarkan apa yang Fella tanyakan. Laki-laki itu tengah pusing dengan jadwal kerja yang dikirim oleh sekretarisnya.
“Pa! Papa!” panggil Fella sambil melambai-lambaikan tangan pada sang ayah.
Namun, sepertinya papa Fella itu terlalu berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya, Fella memutuskan untuk mendekati sang ayah dan duduk di samping laki-laki itu.
“Fella! Kamu bikin kaget papa!”
Papa Ferdinand terpaksa menatap putrinya yang kini sudah merangkul lengannya dengan manja. Fella adalah putri kesayangan yang cukup dekat dengan papanya.
“Papa tumben banget sih kerja di jam segini. Bukannya papa selalu bilang, kalau lagi kumpul keluarga, nggak boleh mainan HP!” seru Fella yang mulai mengomeli papanya.
__ADS_1
Laki-laki paruh baya itu hanya itu hanya menyunggingkan senyuman dan menarik putrinya ke dalam pelukan. “Papa lagi pusing cari jadwal yang tepat buat ketemu sama keluarganya Deliska, calon istri kakakmu,” jelas Papa Ferdinand sambil menunjukkan layar tablet yang berisi jadwal kegiatannya yang padat.
Mendengar apa yang papanya katakan, mendadak hati Fella terasa berdenyut. Wajahnya menjadi murung karena sang ayah menyebut nama gadis lain yang kini dicintai kakaknya.
“Kalau dua minggu lagi, nggak ada yang kosong, Pa?” tanya Mama Larissa. Wanita itu jelas tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya saat ini.
Sementara kedua orang tuanya masih bermain rahasia, Fella jadi tidak sabar. “Papa sama Mama mau ada acara apa kok sampai ketemu keluarga pacarnya Kak Dylan?” tanya Fella dengan nada bicara yang terdengar lemah.
“Gini, Sayang. Kakak kamu tadi bilang ke Mama sama Papa kalau mau mempercepat pernikahannya dengan Deliska. Ya, kami kan harus membicarakannya dulu dengan keluarga mereka,” jawab Papa Ferdinand.
Mempercepat pernikahan!? Kenapa Kak Dylan harus mempercepatnya? Bukankah mereka baru saja bertunangan? Kak Dylan juga belum diberi kepercayaan Papa untuk memimpin perusahaan, lalu kenapa mereka buru-buru menikah? Apa ini karena aku?
Fella terus bertanya-tanya dalam hati. Namun, sayangnya dia tidak mungkin melayangkan pertanyaan itu pada kedua orang tuanya. Bisa-bisa mereka curiga dan menghancurkan semuanya.
“Oh, Kak Dylan mau buru-buru nikah? Tapi, nggak terjadi sesuatu yang di luar rencana kan, Ma, Pa?” tanya Fella yang menampilkan senyum palsu di hadapan kedua orang tuanya.
Mama dan papa Fella kompak saling berpandangan karena pertanyaan Fella itu.
“Mama yakin mereka nggak akan seperti itu kok, ya kan, Pa?”Mama Larissa kini melirik suaminya.
“Nggak mungkinlah. Kita harus percaya sama Dylan. Walau bagaimanapun, mereka memang saling mencintai dan mungkin takut melakukan dosa makanya mereka mempercepat pernikahan,” balas Papa Ferdinand mencoba menghilangkan pikiran buruk tentang Dylan itu dari kepala istri dan putrinya.
Fella tentu tidak bisa menerima semua itu. Sambil mengulas senyum palsu, Fella berpamitan ke kamarnya.
Gadis itu menapaki satu per satu anak tangga menuju lantai dua dengan perasaan hancur. Mendengar kabar pernikahan sang kakak yang dipercepat membuat hati Fella berdenyut nyeri.
Sekarang, bagaimana caranya Fella bisa menarik perhatian dan cinta Dylan jika laki-laki itu akan segera meninggalkannya demi bahagia dengan wanita lain?
Fella masih berjalan lesu, saat tiba-tiba Dylan keluar dari kamarnya dan berpapasan dengannya.
“Kak Dylan!” panggil Fella sembari mengusap air matanya. “Kakak tunggu! Aku mau bicara! Apa benar Kak Dylan mau mempercepat pernikahan Kakak?” tanyanya sembari menarik tangan sang kakak.
Dengan wajah yang memelas, Fella menatap mata kakaknya itu, tetapi Dylan malah membuang muka. Hal itu membuat Fella semakin sedih.
__ADS_1
“Kakak jawab aku dong! Apa Kak Dylan sudah yakin akan membangun rumah tangga sama dia?” tanya Fella. Hidungnya kembang kempis menahan tangis yang sewaktu-waktu bisa meledak.
“Ya, aku dan Deliska akan segera menikah. Kami saling mencintai dan kami ingin segera mengikat hubungan kami dengan pernikahan. Apa itu salah?”
Sorot mata yang Dylan tunjukkan seolah mengisyaratkan kebenciannya yang dalam. Padahal, sebenarnya dia melakukan semua ini karena ingin membuat Fella sadar dan kembali ke jalan yang benar, bahwa mereka adalah kakak adik.
Tanpa menunggu respons Fella yang masih sangat syok, Dylan meninggalkan gadis itu dan kembali ke kamar, lalu menutup pintu dengan keras.
Menyadari Dylan telah peegi, Fella menggedor pintu kamar sang kakak dan mulai mengeliarkan air mata yang sejak tadi ditahan.
“Kak Dylan! Harusnya Kakak kasih aku kesempatan. Belum tentu kita saudaraan, Kak!”
Fella benar-benar tidak mau menyerah. Dia masih berharap pada Dylan seakan tidak ada laki-laki lain yang lebih darinya. Ya, Fella hanya anak remaja yang memiliki ambisi besar untuk memiliki Dylan, meski kenyataannya mereka adalah saudara.
**
**
Fella telah lelah berdiri di depan kamar sang kakak, menunggu dengan gelisah dan berharap laki-laki itu akan segera keluar. Sayangnya, Dylan juga berkeras hati mengurung diri di kamarnya.
Saat malam tiba, Fella masih menangisi cintanya yang buta. Harapannya bersama Dylan akan segera pupus saat laki-laki itu menikahi Deliska nantinya.
Suara tangisan Fella itu terdengar jelas di telinga Dylan yang diam-diam memperhatikan sang adik. Dia sendiri tidak bisa berbuat banyak karena Fella sudah salah jalan. Semua ini juga demi kebaikannya sendiri. Meski suara tangis itu terdengar pilu, Dylan tetap berusaha menahan hatinya supaya Fella bisa menyadari kesalahannya dan membuang jauh perasaannya itu.
Setelah menangis di kamarnya, Fella akhirnya tertidur. Dylan yang tidak lagi mendengar suara sang adik, diam-diam mengintip ke kamar Fella. Dia ingin memastikan adiknya itu tidak bertindak nekat yang merugikan nantinya.
Saat memasuki kamar Fella, ternyata gadis itu sedang tertidur pulas sambil mendekap erat gulingnya. Terlihat sekali wajah sendu yang menunjukkan kesedihannya yang mendalam.
Dylan memandangi tubuh Fella yang terlelap, lalu diam-diam menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimutnya.
Fella, kamu cantik, baik dan manja. Kalau saja kita bukan adik kakak, pasti kita akan menjadi pasangan bahagia yang saling mencintai. Tapi, Fel. Kita harus membuang jauh-jauh perasaan itu dan jangan sampai mengecewakan Mama dan Papa, karena sekuat apa pun cinta ini, hubungan kita akan tetap menjadi hubungan terlarang, karena sejak lama Papa dan Mama sudah mengatakan pada Kakak bahwa kita saudara kandung, Fella.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋