Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 24


__ADS_3

Dylan pulang ke apartemen dengan wajah lemas. Dia sangat lelah akhir-akhir ini karena sang ayah memberikan banyak tugas tambahan, terutama untuk mencari Fella.


Deliska menyambut kepulangannya dengan wajah semringah. Dia membantu suaminya melepaskan jas dan dasi hingga laki-laki itu merasa diperhatikan dengan baik oleh istrinya.


“Baru pulang, hari-hari ini selalu pulang terlambat, kamu lembur ya?” tanya Deliska coba memahami Dylan, meski sebenarnya dalam hati mulai kesepian karena suaminya selalu pulang terlambat.


Dylan mengecup bibir Deliska dengan lembut sebelum akhirnya menjawab, “Iya, Sayang. Papa kasih tugas tambahan buat cari keberadaan Fella.”


Mendengar nama adik iparnya itu disebut, Deliska mulai merasa kesal. Dia sama sekali tidak suka dengan Fella, apalagi wanita itu sudah pernah tidur dengan suaminya.


“Mungkin dia pergi memang sengaja biar kalian cari dia!” timpal istri Dylan sambil berbalik badan.


Suasana hatinya berubah jadi buruk saat mengingat bahwa Fella sudah menorehkan luka di hatinya.


Dylan pun tahu bahwa istrinya itu sangat tidak suka jika mereka membahas Fella. Dia juga masih merasa bersalah karena walau bagaimanapun antara dia dan Fella sudah terjadi sesuatu yang mengecewakan.


Rumah tangga Dylan dan Deliska masih baik-baik saja karena pada akhirnya Deliska telah mengakui bahwa dia adalah orang yang menyebarkan rekaman percakapan yang membuat Fella dikeluarkan dari kampus. Meski awalnya kecewa tetapi laki-laki itu akhirnya minta Maafkan istrinya karena wanita itu juga mau menerima kesalahannya dengan Fella.


*


*

__ADS_1


*


Pagi hari, Dylan tiba-tiba mengalami mual dan muntah. Dia bolak-balik keluar masuk kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang terus bergejolak.


“Kamu ada salah makan kali, Sayang?” tanya Deliska sambil membantu mengoleskan minyak angin ke area perut dan dada Dylan.


Dylan menggeleng lemah. Dia tidak makan apa pun yang aneh kemarin, selain masakan Deliska.


“Aku kan bawa bekal dari kamu juga, Selain itu aku nggak ada makan apa pun kok.”


Deliska menyarankan suaminya itu untuk ke dokter. Mungkin saja sakitnya itu karena kecapean kerja.


*


*


“Fella!”


“Hem, kenapa?”


Daffi menatap wajah Fella dengan intens. Sebenarnya, dia sudah tahu tentang Fella, karena kebetulan sepupunya di ibu kota cerita tentang keluarga Ferdinand. Daffi juga sudah tahu tentang asal-usul Fella dari tanda pengenal saat mereka di puskesmas.

__ADS_1


“Aku ingin tanya sesuatu tapi mungkin kamu akan tersinggung!” ucap Daffi sambil terus memandangi Fella.


Fella mengangkat sedikit kepala dan jangan serius menatap wajah laki-laki yang ada di depannya itu. “Soal apa?”


Ada sedikit rasa takut yang timbul di hati Fella. Takut jika Daffi tahu tentang kisahnya yang ingin dia kubur dalam-dalam. Takut jika nantinya dia harus diusir lagi dari tempat ini, sedangkan dia sudah membuat sebuah sandiwara mengenai pernikahan dan kehamilannya.


“Sebelumnya aku minta maaf, tapi tolong jangan salah paham!”


Degup jantung Fella kian berdebar keras. Sepertinya, kisahnya akan terbongkar dengan cepat oleh Daffi yang sekarang sudah menjadi temannya.


“Apa?”


Daffi menghembuskan nafas dengan kasar. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur, tetapi sepertinya dia harus mendengar langsung dari Fella, supaya jika terjadi sesuatu dia bisa melindungi wanita itu.


“Sebenarnya, suami kamu tidak meninggal, kan? Kamu belum menikah, kan, Fella?”


Dua pertanyaan yang keluar dari mulut Daffi itu tentu membuat Fella merasakan sesak di dada. Bagaimana jika Daffi memang tahu semuanya dan jadi membencinya.


***


kembang Kopinya jangan lupa guys 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2