
Karena tidak tahan melihat Dylan terdiam sambil memandangi kepergian Fella, akhirnya Deliska mendekati Dylan dengan raut muka yang masam.
"Kamu gitu banget sih ngelihat dia? Nggak bisa biasa aja apa?" tegur Deliska ketika sudah tiba di samping Dylan. Suaranya terdengar ketus, dan tatapannya pun terlihat sinis. Tampak jelas jika dia sangat membenci Fella.
Menanggapi sikap Deliska yang seperti itu, emosi Dylan mulai terpancing. Sudah beberapa hari dirinya mencari Fella, dan Deliska juga tahu itu. Namun ketika barusan bertemu Fella, tanggapan Deliska malah buruk. Bukannya memberikan semangat dan dukungan, dia malah melontarkan kalimat pedas.
"Dia bicara sesinis itu, tapi sama sekali nggak kaget melihat Fella di sini. Jangan-jangan sebelumnya udah tahu lagi kalau Fella kembali ke kota ini," ucap Dylan dalam hatinya, mulai curiga dengan kejujuran Deliska.
"Kok kamu malah diam aja sih? Apa yang kamu pikirkan? Oh, jangan-jangan kamu berharap anak itu tadi adalah anak kamu sama Fella, hasil hubungan kalian waktu itu. Iya?" Mata Deliska melotot, semakin berani dia mengomeli Dylan. Mentang-mentang suaminya itu diam dan tidak melawan.
"Ternyata ini ya yang bikin kamu nggak serius ikut program hamil, karena kamu lebih berharap anak dari Fella! Sadar nggak sih, dia itu adik kamu!"
Suara Deliska naik satu oktaf. Dia lepas kendali karena bayang-bayang ketakutannya sendiri. Bagaimana jika anak Fella memang darah daging Dylan? Bagaimana jika nanti Dylan tahu kalau Fella bukan adik kandungnya? Apalagi sampai sekarang dirinya belum juga hamil, Deliska kalang kabut memikirkan itu.
__ADS_1
"Kalau kamu terus bicara kayak gitu, lama-lama kesabaranku akan habis. Aku menatap dia cukup lama, itu karena terkejut ketemu dia di sini. Kamu juga tahu sejak kemarin-kemarin aku mencari dia. Kamu jangan mudah berpikiran negatif, nggak ada yang benar dari semua tuduhanmu itu. Aku bukan nggak serius mengikuti program kehamilan, tapi masih panik karena Mama sakit." Dylan menarik napas panjang, mengontrol emosi yang siap meledak.
Karena tidak ada jawaban dari Deliska, Dylan kembali menyambung kalimatnya.
"Tapi, kok aneh ya. Kamu sama sekali nggak kaget melihat Fella. Apa sebelumnya kamu tahu kalau dia udah kembali ke sini, dan sengaja menyembunyikannya dariku?"
Mendengar pertanyaan Dylan, Deliska langsung gelagapan. Dia bingung harus bagaimana menutupinya, jangan sampai Dylan tahu kalau dirinya memang pernah melihat Fella.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku bukan nggak kaget, cuma kesal aja melihat kamu kayak gitu. Tahu sendiri kan kalau aku sangat cemburu sama dia, dan aku begini juga gara-gara siapa. Coba dulu kamu dan adikmu itu bisa menjaga diri, pasti aku juga nggak negatif thinking," jawab Deliska, sengaja mengungkit masa lalu agar Dylan merasa bersalah, dan tidak marah lagi padanya.
**
**
__ADS_1
Malam pun tiba, Fella merenung sendiri di kamarnya. Dia memikirkan kabar yang dibawa Dylan tadi siang. Mama Larissa sakit, dan Fella merasa khawatir dengan itu. Dia ingin menjenguk dan melihat keadaannya secara langsung, tetapi merasa takut karena nanti pasti bertemu Papa Ferdinand, Dylan, dan juga Deliska. Fella belum siap bertemu mereka.
"Ke sana nggak ya?" gumam Fella.
Dia kembali memandangi alamat rumah sakit tempat Mama Larissa dirawat. Namun, belum tahu harus memilih apa, datang atau membiarkan.
Fella ingat, sebelum dia melakukan kesalahan fatal itu, Mama Larissa sangat menyayanginya. Sikapnya lembut, dan penuh kasih sayang. Rasanya Fella tidak tega jika sekarang mengabaikannya. Namun, serangkaian kejadian setelah hari kelam itu membuatnya bimbang untuk datang.
Sementara itu, di depan ruangan tempat Mama Larissa berada, Dylan diam seorang diri. Dia duduk sambil memikirkan omongan Deliska, yang mengungkit masa lalu dan menuduhnya berharap atas anak Fella.
"Perasaan itu. Ah, benarkah dia anakku?" batin Dylan.
Kembali teringat lagi perasaan aneh yang datang tiba-tiba saat dia beradu pandang dengan anaknya Fella. Kemudian juga teringat dengan malam itu, tidak ada pengaman yang ia gunakan ketika berhubungan dengan Fella. Sangat mungkin benihnya tertinggal, dan tumbuh menjadi janin. Karena sejak saat itu, dia juga tak tahu bagaimana kehidupan Fella selanjutnya.
__ADS_1
***
Jangan lupa rate bintang 5 ❤️❤️❤️