
Tidak ada cara dan jalan lain untuk Fella menolak Daffi. Wanita itu benar-benar terjerat dalam masalah Daffi yang mungkin saja bisa membantu mengatasi masalahnya sendiri. Demi anak dalam kandungannya, Fella akhirnya rela menikah dengan laki-laki asing yang baru dikenalnya.
Dalam waktu beberapa hari saja, Fella dan Daffi menikah. Namun, Daffi tentu sudah menjamin dan mempersiapkan semuanya supaya rahasianya dan Fella tetap terjaga, dengan syarat sampai kapan pun anak Fella tidak boleh tahu jika Daffi bukan ayah kandungnya.
“Akhirnya kalian menikah juga. Nenek harap bukan cuma sampai anak itu lahir saja, tapi sampai selamanya. Menikah itu sekali seumur hidup, bukan hanya demi anak!” nasihat nenek Daffi usai cucunya melangsungkan pernikahan yang digelar secara tertutup.
Ya, Daffi memang mengajukan beberapa syarat kepada sang nenek untuk pernikahannya ini. Syarat itu salah satunya Daffi tidak ingin mengadakan pesta yang meriah saat ini mengingat kehamilan Fella yang masih sangat muda, dan juga Daffi ingin melanjutkan kehidupannya di kota kecil yang jauh dari neneknya.
“Nenek berdoa saja semoga Fella masih mau bertahan menjadi menantu Nenek,” balas Daffi dengan pasrah. Setidaknya, sekarang anak dalam kandungan Fella itu akan menjadi anaknya, sampai kapan pun.
*
*
*
Setelah Daffi dan Fella resmi menikah, nenek Daffi akhirnya kembali ke ibu kota untuk mengurus semua bisnis yang ditinggalkan selama beberapa hari ini.
Saat ini, Fella dan Daffi ada di kamar yang selama ini ditempati oleh Fella. Keduanya sedang membahas rumah tangga mereka setelah menikah.
“Kalau kamu nggak bisa tinggal sama aku, kamu bisa tinggal di sini, atau mungkin kamu mau mengontrak di tempat lain, aku bisa carikan untuk kita tinggal nanti,” ucap Daffi yang sejak tadi membisu sembari menatap Fella.
Wanita hamil itu juga terus mengunci rapat mulutnya. Sejak memutuskan untuk menerima pinangan Daffi, Fella lebih banyak diam dan menurut saja. Dia hanya berharap anaknya lahir dengan selamat dan selama itu kebohongannya tidak akan terungkap.
“Fella!” panggil Daffi saat melihat wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu justru hanya melamun tanpa menanggapi pembicaraannya.
“Hem?” Fella mengalihkan pandangan dan kini menatap Daffi yang sedang bersandar di tembok kamarnya.
__ADS_1
Daffi merapatkan tubuh pada Fella yang duduk di atas kasurnya. “Kamu mau tetap tinggal di sini atau pindah ke rumah yang lebih layak. Kayaknya dilihat tetangga juga nggak enak kalau kita tinggal di kamar yang terpisah. Aku pikir-pikir lagi, gimana kalau kita sewa rumah yang lebih besar,” kata Daffi mencoba menjelaskan secara lebih rinci.
Mendengar usulan Daffi, Fella semakin sadar jika sekarang Daffilah yang bertanggung jawab untuk kehidupannya. Sepertinya, laki-laki itu memang tidak ada niat untuk memanfaatkannya semata. Buktinya, dia masih memperlakukan Fella dengan baik meski mereka sudah menjadi suami istri.
“Terserah kamu aja, baiknya gimana,” balas Fella dengan pasrah. Dia pikir, lebih baik mengikuti apa pun yang Daffi arahkan. Toh, pernikahan ini hanya sampai anaknya lahir dan mendapat pengakuan sebagai anak Daffi.
“Kalau gitu, besok aku carikan rumah yang ada dua kamar. Kamu pasti nggak mau kan tidur sama aku walaupun kamu udah jadi istriku,” goda Daffi sembari tersenyum lebar.
Fella memperhatikan raut wajah Daffi dan menatap lekat-lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu. “Kenapa kamu maksa banget buat nikah sama aku, apalagi sampai rela mengakui anak yang bukan darah daging kamu. Bahkan, kamu juga mengerti walaupun kita menikah, belum tentu kita saling memiliki. Coba sekarang kamu jujur sama aku!”
Tawa Daffi seketika lenyap karena omongan Fella itu. Sekarang, meski harus mengatakan kejujuran, Fella sudah menjadi istrinya dan apa pun yang akan dia katakan, tidak akan mengubah apa pun.
Daffi menarik napas dalam-dalam sembari mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semuanya dengan jujur.
“Aku kehilangan orang tuaku saat aku berusia dua belas tahun. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Nenek. Dan perusahaan itu, semua aset itu menyimpan banyak kenangan buatku. Aku nggak rela kalau Nenek memberikan semua itu pada orang lain,” ungkap Daffi dengan jujur.
“Kenapa aku memilihmu? Mungkin karena dari kecil aku sudah kehilangan orang tua, dan aku sangat mengerti gimana rasanya itu. Jadi, aku nggak mau anak yang nggak berdosa itu merasakan apa yang aku rasakan, apalagi kamu dan kakakmu nggak akan mungkin menikah, 'kan?”
Pertanyaan Daffi itu membuat Fella kembali teringat kisahnya bersama Dylan yang sampai detik ini belum terungkap kebebarannya. Bagi Fella, Dylan adalah luka menganga yang membuatnya terhukum seumur hidup. Dylan sudah bahagia dengan istrinya dan Fella juga berhak melanjutkan hidupnya lagi.
“Tapi kamu bisa memilih wanita yang benar-benar kamu cintai, dan aku yakin itu bukan aku!” sanggah Fella.
Daffi ingin sekali memeluk istrinya itu. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan hal itu saat ini.
“Aku udah nggak percaya sama cinta lagi. Udahlah, kamu jangan mikir aneh-aneh. Fokus sama kehamilan kamu dan selalu ingat bahwa aku adalah ayah kandung anak ini, apa pun yang terjadi kamu tidak boleh memberitahu siapa pun fakta yang sebenarnya.”
Daffi tiba-tiba berdiri dan bersiap meninggalkan kamar Fella. “Jangan lupa kunci pintu, Fel!” ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar sang istri.
__ADS_1
*
*
*
Tidak seperti pasangan pengantin pada umumnya, Fella dan Daffi tidak menghabiskan malam pernikahan dengan melewati momen yang indah. Keduanya justru tidur terpisah di kamar mereka masing-masing.
Namun, pagi ini ada yang berbeda. Fella mengetuk pintu kamar Daffi dan menyiapkan secangkir kopi panas untuk laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
“Fella!” Daffi cukup terkejut dengan perhatian kecil yang ditunjukkan oleh Fella. Wanita itu tiba-tiba muncul di depan kamarnya dan membuatnya tersenyum tipis.
“Aku ... aku tadi beli sarapan sama kopi panas juga buat kamu. Walaupun aku nggak bisa masak, tapi setidaknya pagi ini ada sarapan buat kamu di kamarku!” ungkap Fella yang sudah memberanikan diri untuk memperlakukan Daffi dengan baik layaknya seorang suami yang seharusnya.
Setelah mengatakan itu pada Daffi, Fella langsung melarikan diri ke kamarnya. Hal itu membuat Daffi yang baru bangun tidur jadi senyum-senyum sendiri karena perhatian kecil Fella.
“Kalau diperhatikan, ibunya anak itu kenapa menggemaskan sekali ya,” gumam Daffi senyum-senyum sendiri.
Dia bergegas menuju kamar Fella untuk menikmati sarapan yang disiapkan oleh istrinya itu.
“Aku lihat kemarin kamu suka sekali kulit ayam crispy, jadi aku beli itu aja!” kata Fella sembari mengulurkan piring yang di atasnya sudah ada sebungkus nasi untuk Daffi.
Daffi mengucapkan terima kasih dan segera menyantap sarapannya. Dia membatin dalam hati. “Ternyata begini rasanya punya istri!”
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1