Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 17


__ADS_3

Fella menghabiskan waktu bersama Devina dengan menangis dan berbagi cerita. Bersama sahabatnya itu, Fella memiliki kekuatan dan tekad untuk meminta maaf. Devina juga menasihati Fella agar gadis itu mengikhlaskan kakaknya untuk menikahi Deliska, karena jodoh sudah diatur oleh Tuhan.


Sayangnya, Devina tidak bisa mengantar Fella pulang karena mamanya mendadak menyuruh gadis itu pulang ke rumahnya.


“Nggak usah merasa bersalah gitu. Aku bisa pulang naik taksi kok,” kata Fella setelah Devina mengatakan bahwa dia harus pergi.


“Kalau aja Fanny nggak keluar kota, kamu bisa pulang bareng dia tuh. Apalagi pikiran kamu lagi kacau gini,” tutur Devina sambil mengerutkan dahi.


Fella berusaha tersenyum. Setidaknya, meski seluruh dunia membencinya masih ada sahabat tempatnya berpegangan tangan. Devina memang yang terbaik.


Devina akhirnya terpaksa meninggalkan Fella yang masih mencari taksi. Cuaca mendung yang menyelimuti ibu kota membuat Fella kembali dirundung kegalauan.


“Aku pulang nggak ya? Tapi, kata Devina aku harus minta maaf.”

__ADS_1


Fella kembali menekuk mukanya. Dia sedang memupuk keberanian untuk kembali ke rumahnya, apa pun yang akan terjadi.


“Baiklah, aku akan meminta maaf. Kalau mama sama papa memang orang tuaku, mereka pasti akan memaafkanku, 'kan?” gumam Fella bersemangat.


Wanita itu akhirnya memesan ojek daring untuk bisa cepat sampai rumah sebelum hujan. Sayangnya, saat dalam perjalanan pulang, Fella justru tetap kehujanan saat hampir tiba di rumah.


Sementara itu, orang tua Fella dan Dylan saat ini tengah berada di kamar mereka yang terkunci. Mau tidak mau mereka harus membahas masalah ini lagi, karena Fella sudah melakukan sesuatu yang di luar batas.


“Bagaimana ini, Pa? Apa sebaiknya kita katakan sejujurnya pada Fella dan Dylan mengenai asal-usul Fella?” seru Mama Larissa tak ingin semakin merasa bersalah pada Fella dan Dylan.


“Tapi kasihan Fella, Pa!”


“Ma, ini juga demi Dylan, Fella dan nama baik perusahaan kita. Pernikahan yang batal itu juga akan mencoreng nama baik keluarga kita, Ma. Kalau kita kasih tahu mereka, lalu mereka menikah, belum tentu orang-orang akan percaya. Pasti mereka akan mengira kalau kita ini hanya mengada-ada.”

__ADS_1


Papa Ferdinand tetap pada pendiriannya, menjaga rahasia sampai kapan pun.


Fella sudah sampai di rumah. Dengan keadaan tubuhnya yang basah, wanita itu coba mengeringkan tubuh di teras rumah. Kebetulan juga, Dylan baru pulang dari rumah Deliska. Laki-laki itu turun dari mobil tanpa melirik adiknya sama sekali.


Fella sadar, ini adalah konsekuensi yang harus diterimanya. Meski dalam kasus ini, dia bukan satu-satunya pendosa yang pantas dihukum.


Wanita itu lalu memasuki rumah dengan langkah pelan. Orang tuanya mungkin sedang tidak bekerja saat ini karena masalah yang sedang terjadi dalam keluarga mereka.


“Kak Dylan, aku mau bicara!” Fella mencoba menarik tangan Dylan yang langsung ditepis dengan kasar.


“Apa? Mau bicara apa? Kamu udah puas lihat aku hancur? Lihat Mama sama Papa hancur gara-gara keegoisan kamu?” maki Dylan dengan emosi yang tak bisa ditahan. “Kamu bukan adikku lagi Fella! Aku benci sama kamu, bahkan sampai kapan pun aku akan membencimu!”


Dylan berjalan cepat meninggalkan Fella yang masih mematung. Dia masih sangat emosi karena bingung dengan nasib hubungannya dengan Deliska ke depannya.

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋 Mon maap slow up, lagi kurang enak badan gaess, kalian jaga kesehatan ya biar bisa baca nupelku terus 💋💋


__ADS_2