
"Ma, aku dan Deliska mau ke rumah sakit. Dia sudah setuju untuk operasi angkat rahim."
Pagi-pagi sekali Mama Larissa mendapat telepon dari Dylan, ada kabar buruk yang menyangkut menantunya itu. Kondisinya semakin lemah, hingga akhirnya setuju untuk operasi.
Mama Larissa panik dan pusing memikirkan itu. Bukan hanya mengkhawatirkan kondisi Deliska, tetapi juga kondisi keuangan keluarga. Dalam keadaan yang seperti itu, tidak mungkin ia dan suami meminta bantuan Dylan. Anaknya saja masih diuji dengan keadaan sang istri. Lalu, harus ke mana mereka mencari pertolongan?
"Ada apa, Sayang?" tegur Papa Ferdinand dengan wajah yang tak kalah masamnya.
Mama Larissa menatap suaminya sesaat, lalu membuang napas berat. "Baru saja Dylan telfon. Kondisi Deliska semakin buruk, dan sekarang mau ke rumah sakit. Dia sudah setuju operasi angkat rahim."
"Ahh." Hanya ******* kasar yang keluar dari mulut Papa Ferdinand.
"Kita tidak bisa membebani Dylan dalam masalah ini, dia punya kesulitan sendiri."
"Aku tahu. Nanti aku akan berusaha mencari bantuan, mana tahu masih ada jalan untuk bangkit. Kamu pergilah ke rumah sakit, katakan pada Dylan kalau aku masih ada pekerjaan," kata Papa Ferdinand, pelan dan berat.
"Iya."
Sementara itu, di rumahnya sendiri Dylan dan Deliska bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Orang tua masing-masing sudah ditelepon, dan mereka akan ikut datang nanti.
"Kita jadi mampir ke rumah Fella, kan?" Masih dengan suara lemah seperti semalam, Deliska menatap Dylan dan mengungkit rencana itu.
Dylan tersenyum. "Iya."
Deliska menarik napas lega. Dia ingin masalahnya segera selesai, sehingga tidak ada kebencian ataupun dendam lagi. Merasakan tubuh yang semakin digerogoti penyakit saja dia sudah lelah, apalagi sampai memikirkan dendam dan kebencian. Rasanya sudah tidak ada waktu untuk itu.
Di sampingnya, Dylan juga merasa lega. Setelah ini tidak ada lagi salah paham seperti yang sudah-sudah. Hidup akan lebih damai dan harmonis, kehangatan kekeluargaan akan ia dapatkan kembali.
"Meski kamu nggak bisa memberiku keturunan, dan aku juga nggak ada hak untuk menjadi ayah Fidela, tapi aku nggak menyesal. Masih ada banyak anak terlantar di luar sana jika kamu memang menginginkannya. Kita bisa mengadopsi salah satu di antaranya, Sayang," batin Dylan sambil menatap teduh istrinya itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, mereka pun berangkat. Sengaja lebih awal karena memang akan mampir ke tempat Fella. Harapannya Daffi belum berangkat kerja, dan bisa ikut berbincang, agar tidak menjadi salah paham.
**
**
Tiba di rumah Fella, Dylan dan Deliska disambut langsung oleh Daffi. Kebetulan, lelaki itu tidak bekerja karena Fella sedang tidak enak badan. Semalaman mengeluh pusing dan mual-mual.
Awalnya Daffi salah paham, dan hampir menolak kedatangan Dylan. Namun, setelah dijelaskan pelan-pelan akhirnya ia mengerti, dan mempersilakan masuk, sekaligus mempertemukan mereka dengan Fella.
Usai basa-basi sebentar, Dylan dan Deliska mengutarakan niat awal mereka datang ke sana, yaitu meminta maaf. Suasana pun berubah haru. Terlepas dari apa yang telah mereka lakukan selama ini, setidaknya sekarang berbesar hati untuk meminta maaf.
"Aku juga minta maaf sebanyak-banyaknya, Kak. Gara-gara tindakan bodohku, hubungan Kak Deliska dan Kak Dylan sampai renggang, malahan juga hampir batal nikah. Aku egois, hanya memikirkan diriku sendiri. Aku nggak mikir jika itu akan menyakiti kalian, juga mengecewakan Mama dan Papa," ucap Fella dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia kini sadar semua itu terjadi juga karena perannya, meski ada masing-masing pihak yang ikut memperkeruh keadaan.
Setelah semuanya clear, Dylan dan Deliska pamit pergi. Sebelumnya dia sudah mengatakan bahwa saat ini akan ke rumah sakit, dan menyetujui operasi yang disarankan dokter.
"Semoga operasinya berjalan lancar, Kak. Maaf, aku nggak bisa ikut ke sana. Aku lagi nggak enak badan, dan Fidela juga belum sembuh total. Masih ada sedikit gatal di tubuhnya," ucap Fella ketika kedua kakaknya sudah beranjak.
"Nggak apa-apa, Fel, nanti udah ada Mama dan Papa juga kok." Deliska kembali tersenyum, sama sekali tidak terlihat kecewa.
Kemudian, Dylan dan Deliska benar-benar pergi. Kini tinggal Daffi dan Fella saja yang ada di sana.
"Sayang, kamu apa-apa nggak, kalau misalkan aku tinggal ke rumah sakit sebentar?" Daffi menatap Fella dengan lekat.
Fella mengernyitkan kening. "Kak Daffi mau ikut Kak Dylan tadi?"
"Iya." Daffi mengangguk. "Bagaimanapun juga dia keluarga kita, dan sekarang hubungan ini juga udah membaik. Aku ingin datang, dan memberikan support untuk mereka," lanjutnya.
__ADS_1
Fella tersenyum, sangat manis. "Kalau Kak Daffi memang ingin pergi, pergilah! Aku nggak apa-apa di rumah, kan ada Bibi, ada Nenek juga."
"Baiklah kalau begitu, Sayang. Kamu hati-hati ya di rumah, kabari aku jika ada apa-apa."
Fella mengangguk pelan. Lalu, mengantar suaminya sampai ke teras rumah. Tak lupa ia mencium tangan Daffi terlebih dahulu, dan dibalas dengan ciuman mesra di kening. Fella baru melangkah masuk setelah mobil suaminya meninggalkan pintu gerbang.
**
**
Sesampainya di rumah sakit, Daffi dikejutkan dengan kejadian yang tak terduga. Deliska pingsan sebelum tiba di ruangan dokter. Dylan dan Mama Larissa panik seketika, begitu pun dengan orang tua Deliska. Dengan harap-harap cemas, mereka menunggu dokter memeriksa kondisi Deliska.
"Semoga dia baik-baik saja," batin Daffi, ikut terkejut ketika melihat kejadian itu. Dia tahu kondisi Deliska cukup buruk, dan hanya bisa berdoa untuk keselamatannya.
Pada saat semuanya sedang menunggu, Daffi sempat terlibat perbincangan dengan Mama Larissa. Hingga akhirnya dia menanyakan keberadaan Papa Ferdinand yang tidak ikut hadir di sana.
"Dia terpaksa pergi kerja, kondisi kantor sedang tidak baik."
Daffi keheranan. "Tidak baik bagaimana, Ma?"
Mama Larissa tersenyum miris. Ada keraguan untuk bercerita, tetapi pada akhirnya dilakukan juga. Setidaknya dia merasa lega setelah berbagi. Sebenarnya dia tak mengharap apa pun dari Daffi, mengingat sikapnya selama ini kepada Fella cukup buruk. Dan lagi, identitas asli Fella pun sudah terungkap. Jadi tak pantas rasanya jika sekarang berharap banyak.
"Kira-kira Papa butuh berapa?"
Pertanyaan Daffi membuat Mama Larissa tersentak, hingga dia menoleh cepat dan menatap menantunya dengan setengah bingung.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1