
Fella menangis sendirian di kamarnya. Gadis itu sama sekali tidak keluar dari kamar. Yang dia lakukan hanya menangis dan memikirkan cara supaya bisa membatalkan pernikahan Dylan yang sudah di depan mata.
Dengan pikiran yang sangat kacau itu, tiba-tiba terbesit dalam pikiran Fella untuk melakukan cara yang terbilang kotor. Fella benar-benar nekat sekarang karena tidak tahu lagi harus dengan cara apa untuk mencegah pernikahan sang kakak.
“Meski ini cara yang buruk, tapi demi cintaku pada Kak Dylan, aku harus berusaha melakukannya.”
Pikiran Fella terlalu sempit. Dia hanya remaja labil yang tidak pernah berpikir panjang atas apa yang diperbuatnya. Fella terlalu mementingkan ambisinya hingga dia lupa bahwa perbuatannya itu mungkin akan melukai semua orang.
Fella keluar rumah dan membeli sesuatu dari kenalannya. Dia rela membayar mahal benda itu sekaligus untuk menutup mulut supaya rencananya bisa berjalan dengan lancar.
Saat kembali ke rumah, dia bertemu dengan sang ibu yang kebetulan sedang menerima tamu.
“Sayang, sini deh! Seragamnya udah datang, punya kamu kemarin katanya kurang bagus, yang ini pasti bagus coba deh!” Mama Larissa menenteng sepotong baju yang akan digunakan untuk pernikahan Dylan nanti, dan menunjukkannya pada Fella.
Melihat gaun itu, hati Fella semakin remuk. Pernikahan Dylan sudah di depan mata dan dia belum melakukan apa pun untuk memperjuangkan cintanya itu.
“Aku-aku nggak enak badan, Ma. Nanti aja ya,” balas Fella yang kemudian berjalan cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
Fella sama sekali tidak bersemangat menyambut hari bahagia Dylan yang akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya itu. Gadis itu kembali mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya.
Gadis remaja yang malang. Jika dia meyakini Dylan bukan saudaranya, bukankah seharusnya dia mengumpulkan semua orang dan membuktikan kecurigaannya itu dengan sebuah tes medis?
Namun, Fella tidak melakukan hal itu dan justru sibuk memikirkan caranya sendiri. Karena yang Fella butuhkan hanyalah pengakuan Dylan tentang cinta mereka.
Saat ini, gadis itu duduk bersandar di tepian ranjang sambil memandangi obat haram yang telah dibelinya diam-diam. Jiwanya yang sangat labil membuat Fella ragu-ragu dengan rencananya kali ini.
“Apa ini akan berhasil? Bagaimana kalau Kak Dylan malah membenciku?” gumam Fella dengan sorot mata yang tertuju pada cairan bening dalam botol yang kini ada dalam genggamannya.
“Ini Mama, Sayang. Tolong buka pintunya, Fella. Kamu belum makan dari siang, 'kan?”
Suara ibu Fella itu membuatnya enggan membuka pintu. Dia mengabaikan panggilan itu dan tetap mengurung diri di kamar.
Mama Larissa yang diabaikan itu terus memanggil nama Fella, tapi sayangnya sang pemilik nama justru menutup telinga dengan headphone dan kembali larut dalam kegalauannya. Dia masih harus memikirkan cara bagaimana bisa memasukkan cairan itu ke dalam makanan Dylan agar kakaknya bisa masuk dalam jebakan yang dia buat.
Sampai malam hari, Fella masih tidak mau keluar dari kamar. Dia mengabaikan ibu dan ayahnya yang berusaha membujuk dengan cara baik-baik. Tentu saja, kedua orang tua itu sama sekali tidak tahu apa yang sedang menimpa putri mereka hingga membuatnya mengurung diri seperti ini.
__ADS_1
Kebetulan, Dylan baru sampai di rumah dan akan ke kamarnya. Saat itulah, Dylan melihat kedua orang tuanya berdiri di depan pintu kamar sang adik dengan raut muka khawatir. “Ada apa, Ma, Pa?”
Melihat kehadiran Dylan, Mama Larissa menghela napas berat. Mungkin, anak lelakinya itu bisa membantu membujuk Fella supaya mau keluar dari kamar.
“Fella nggak mau makan, nggak mau keluar kamar, bahkan nggak menyahut waktu Mama panggil-panggil!” ungkap sang ibu yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Fella.
Dylan jadi teringat pertengkarannya dengan Fella saat itu. Sejak kejadian itu, sikap Fella memang jadi aneh, tetapi Dylan sama sekali tidak menduga adiknya akan bertindak sejauh ini.
Dua hari lagi dia akan menikah dengan Deliska. Mungkin, ini adalah saat yang tepat untuk bicara dengan Fella dari hati ke hati. Tidak seharusnya mereka terlibat dalam percintaan terlarang karena biar bagaimanapun, Fella tetaplah adiknya, dan Dylan sangat mengerti perasaan Fella saat ini.
“Mungkin dia ngambek karena aku mau nikah, Ma. Coba biar aku yang ngomong sama Fella ya,” kata Dylan sembari menepuk pundak ibunya agar wanita itu merasa tenang.
Semoga saja Fella mau buka pintu dan bisa diajak ngobrol baik-baik. Aku dan Deliska akan menikah dua hari lagi, mungkin dia sedih karena masalah itu.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1