Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 23


__ADS_3

“Suamimu di mana, Mbak? Biar saya telepon!” ucap pemuda tampan itu usai kandungan Fella diperiksa dan hasilnya baik-baik saja.


“Su-suami?” Fella mengerutkan kening lalu membuang muka sambil memegangi perutnya. Dylan memang ayah kandung dari anaknya, tetapi dia bukanlah suaminya, melainkan suami Deliska.


“Iya, suami. Di kartu pengenal Mbak tadi statusnya belum menikah. Dan, Mbak Fella bukan orang sini ya.”


Pemuda itu mencoba menggali informasi tentang Fella. Semua tentu sebagai wujud pertanggungjawabannya terhadap korban. Hal yang membuatnya tertarik adalah, kota kelahiran Fella yang sama dengan kota kelahirannya.


“Mas nggak perlu tahu siapa suami saya, karena dia nggak ada di sini. Terima kasih sudah bawa saya ke sini, Mas bisa pergi karena saya dan bayi saya nggak apa-apa, saya bisa jalan sendiri.”


Fella tidak ingin membebani orang asing, apalagi dia tidak memiliki tujuan sama sekali. Sekarang yang dia fokuskan adalah mencari pekerjaan untuk bertahan hidup demi anaknya.


Pemuda tampan itu rupanya tak mau ambil pusing tentang status pernikahan Fella. Dia sendiri memiliki masalah lain yang jauh lebih pelik. Namun, melihat Fella yang sendirian sambil membawa koper dalam keadaan hamil, tetap saja hati laki-laki itu merasa tidak tega.


“Saya bukan orang jahat kok, Mbak. Saya asalnya juga dari kota yang sama dengan alamat Mbak Fella di tanda pengenal. Kalau butuh bantuan jangan sungkan, Mbak. Nama saya Daffi!” Pemuda tampan itu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Fella secara resmi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Fella kembali menoleh pada pemuda bernama Daffi yang sedang berdiri di samping ranjang tidurnya itu. Pemuda itu tersenyum, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang jahat yang mungkin akan mencelakainya.


“Nama saya Fella. Saya baru datang di kota ini. Kalau mungkin Anda bisa membantu, bisakah Anda membantu saya mencari tempat tinggal?”


Pada akhirnya Fella mau meminta bantuan, setelah memikirkan anak dalam kandungannya yang harus segera memiliki tempat tinggal. Dia tidak ingin menjadi ibu yang egois.


“Kebetulan tempat tinggal di sebelah saya kosong, Kalau mau ntar saya bisa tinggal di sana. Biaya sewanya juga terjangkau kok.”


Fella mengangguk setuju setelah Daffi memberitahu harga sewa perbulan. Keduanya juga mulai saling mengakrabkan diri karena mereka akan menjadi tetangga.


Meski Fella tidak mau bercerita tetapi Daffi bisa menebak bahwa mungkin Fella kabur karena kehamilannya itu.


“Fella, aku senang bisa kenal kamu. Apalagi Kita satu daerah dan sama-sama merantau sendiri di kota ini,” ungkap Daffi dengan jujur.


Fella hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dia pikir tapi pasti bisa menjadi teman yang baik selama tinggal di kota ini.

__ADS_1


*


*


Papa Ferdinand saat ini sedang duduk termenung di meja kerjanya. Sudah satu bulan semenjak putranya menikah laki-laki itu terlihat murung. Satu bulan sudah dia kehilangan putri yang juga sangat dicintai.


“Kamu ke mana, Fella?” gumam laki-laki itu sambil menatap potret cantik sang putri. Dia merasakan kesedihan yang luar biasa setelah kepergian Fella. Pun demikian juga yang dirasakan oleh istrinya di rumah.


Suara ketukan membuyarkan lamunan laki-laki baru bayar itu. Kemudian, Dylan muncul setelah diizinkan masuk.


“Gimana? Sudah ada perkembangan soal kabar adik kamu?” tanya papa Ferdinand pada putranya.


Dylan menggeleng lemah. Lagi-lagi dia harus memberikan laporan tentang kegagalannya menemukan Fella.


“Kamu harus cari dia Dylan, walau bagaimanapun dia tetap saja adik mau!”

__ADS_1


***


kembang Kopinya jangan lupa💋


__ADS_2