
Fella pulang dengan bus kota terakhir. Selama di dalam kendaraan umum itu, Fella terus memikirkan kata-kata Daffi yang mengungkapkan rasa tertariknya pada bayi dalam kandungan Fella. Padahal, jelas-jelas Daffi sama sekali tidak memiliki ikatan dengan bayi itu.
Saat ini, Daffi mengikuti bus yang ditumpangi oleh Fella. Laki-laki itu tidak tega membiarkan Fella yang tengah hamil pulang sendirian tanpa pengawalan.
Wanita itu benar-benar keras kepala, padahal aku hanya ingin menjaga anaknya.
Daffi terus mengikuti bus yang membawa Fella sampai akhirnya berhenti di jalan masuk menuju tempat tinggal mereka. Karena sudah terlalu malam, suasana pun terasa sangat sepi. Sementara Daffi terus mengawasi wanita itu dari belakang.
Saat seorang laki-laki yang tengah mabuk berjalan mendekatinya, Daffi segera melajukan motor dan berhenti tepat di samping Fella.
“Cepat naik, laki-laki itu sepertinya sedang mabuk!” perintah Daffi dengan suara lantang yang mengejutkan.
Fella masih terkejut dengan kemunculan Daffi yang tidak dia duga. “Kamu ngikutin aku?” protes wanita itu. Dia masih belum sadar jika ada bahaya mengintainya yang tak lain dari laki-laki mabuk yang kini berjalan sempoyongan mendekatinya.
“Kamu nggak lihat itu ada cowok lagi mabuk?” sentak Daffi yang dengan cepat menarik lengan Fella agar mau mendekat padanya. Dia lalu menunjuk pada pemuda mabuk dengan dagunya.
Fella segera melirik pemuda yang dimaksud oleh Daffi. Benar saja, laki-laki sempoyongan itu sudah semakin dekat dan Fella tidak ada pilihan selain ikut bersama Daffi. Setidaknya, Daffi bisa melindungi Fella dari laki-laki yang mungkin saja akan bertindak jahat padanya.
Meski dengan terpaksa, Fella akhirnya naik ke motor Daffi dan menurut saja sebelum mendapat masalah. Lalu, Daffi segera melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Tak berapa lama, Fella dan Daffi akhirnya sampai di tempat mereka tinggal. Fella langsung masuk ke kamarnya usai mengucapkan terima kasih. Wanita itu tidak mau memperpanjang urusan dengan Daffi demi menghindar darinya.
Melihat sikap Fella yang berusaha melarikan diri darinya, Daffi pun hanya bisa menghela napas berat.
Mungkin, aku harus lebih berusaha menunjukkan keseriusanku supaya kamu mengerti Fella. Aku hanya ingin melindungi anak itu walaupun aku sendiri nggak tahu apa alasannya.
*
*
*
Jika Daffi masih ingin memperjuangkan haknya, maka dia harus meninggalkan usaha yang telah dia rintis dari nol, dan harus kembali ke ibu kota untuk bekerja sebagai karyawan biasa.
Daffi keluar dari kamar tempat tinggalnya, dia menatap ke kamar Fella dengan diam. Laki-laki itu merasa berat meninggalkan Fella, tapi keputusan neneknya sudah bulat. Dia sudah gagal menjadikan Fella istrinya untuk dilindungi, sekarang Daffi harus benar-benar mengikhlaskan wanita itu, selamanya.
“Tuan Muda, Nyonya sudah menunggu!” ucap sang ajudan mengingatkan.
Daffi masih terdiam lama sembari memandangi pintu kamar Fella dan berharap wanita itu keluar kamar. Namun, sayangnya usai menunggu cukup lama, wanita itu tak kunjung keluar. Sampai akhirnya, tiba-tiba Daffi berlari dan membuat para ajudannya kebingungan.
__ADS_1
Laki-laki itu berlari kencang menuju minimarket dan membeli cukup banyak makan serta susu hamil yang sepertinya akan diberikan untuk Fella.
Setelah membayar semua belanjaannya, Daffi kembali berlari menuju kamar Fella. Dia mengabaikan para pengawal yang sejak tadi mengejarnya.
Saat Daffi berhenti tepat di depan kamar Fella, wanita itu juga baru keluar dari kamarnya.
“Ini aku belikan susu hamil buat kamu. Aku perhatikan, kamu belum pernah minum susu hamil sama sekali. Aku khawatir sama anak itu. Jaga diri baik-baik. Setelah urusanku dan Nenek selesai, aku akan kembali. Jaga anak itu baik-baik,” ucap Daffi dengan sendu. Dia benar-benar merasa sedih harus berpisah dengan anak dalam kandungan Fella itu.
Melihat hal itu, terang saja hati Fella semakin merasa aneh. Sikap Daffi benar-benar tidak bisa dicerna oleh akal sehat Fella, terlalu aneh.
“Papa pergi ya, Papa janji akan cari kamu setelah semua urusan selesai. Kamu harus sehat dan lahir dengan selamat, tunggu Papa,” kata Daffi dengan sangat lirih.
Meski samar, Fella masih bisa mendengar apa yang Daffi katakan. Hal itu jelas membuat Fella semakin bertanya-tanya. Sebenarnya, apa tujuan Daffi?
Rupanya, drama perpisahan itu disaksikan langsung oleh nenek Daffi. Wanita tua itu bisa melihat jelas apa yang Daffi berikan untuk Fella. “Apa pacarnya Daffi sedang hamil?”
***
Kembang kopinya jangan lupa.. Vote juga ya gaess 💋💋💋 thank you yang masih nungguin, aku usahakan uppdate ya walaupun masih holiday 😂
__ADS_1