Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 7


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Ferdinan, semua penghuni tampak berkumpul di meja makan. Begitu juga dengan Fella yang sedang patah hati parah saat ini.


Gadis itu berjalan lesu menuju meja makan dengan wajah sendu sisa menangis semalam. Matanya terlihat memerah sedikit bengkak, dan Fella hanya mengikat rambut asal dengan cepolan sederhana.


Dylan menundukkan kepala saat melihat sang adik berjalan tanpa semangat. Terlihat sekali bahwa adiknya itu begitu terluka karena patah hati. Walau Dylan tahu apa yang sedang menimpa Fella, tapi laki-laki itu sengaja mengabaikannya.


“Fella kamu kenapa, Sayang?” tanya Mama Larissa yang khawatir melihat kondisi sang putri yang menyedihkan.


Fella hanya menyunggingkan senyum palsu. Dia semakin kesal karena sikap kakaknya yang seolah abai padanya. Dengan terpaksa, gadis itu akhirnya menjawab, “Nggak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja kok. Cuma lagi stres sama tugas di kampus saja.”


Fella benar-benar tidak memiliki semangat saat ini. Baginya, pernikahan Dylan yang dipercepat itu sama halnya dengan membuat kematiannya lebih cepat. Namun, dia tetap mengulas senyum untuk menunjukkan pada kedua orang tuanya bahwa tidak ada yang perlu mereka khawatirkan.


“Benar kamu nggak apa-apa? Soalnya wajah kamu kusam banget. Kayak orang yang lagi patah hati saja kamu, Fel.”


Gadis yang masih belum bisa mengusir sang kakak dari hatinya itu kini menarik kursi dengan pelan dan melirik Dylan yang sedang makan roti di depannya.


“Menurut Mama, wajah aku yang cantik dan selalu perawatan bareng Mama ini apa mungkin ditolak sama cowok terus bikin aku jadi patah hati?”


Fella sengaja memancing reaksi Dylan yang sejak tadi berpura-pura menikmati makanannya. Dia ingin menyadarkan kakaknya itu bahwa Dylan pasti akan menyesal karena menolaknya.

__ADS_1


“Ya, kalau menurut papa itu nggak mungkin. Kamu anak papa paling cantik mana mungkin ada laki-laki yang menolak kamu, Fel. Kalaupun ada, mungkin dia lagi sakit mata,” sahut Papa Ferdinan yang kian membuat Fella merasa di atas awan.


“Mama rasa juga begitu sih, Fel. Jadi ... beneran kamu nggak lagi patah hati, Sayang?” tanya Mama Larissa yang masih mengkhawatirkan sang putri.


Fella mendekati sang ibu dan mendaratkan kecupan manja di pipi Mama Larissa. Dia harus bisa membuat alibi supaya orang tuanya tidak akan murka juga sampai dia ketahuan mencintai kakaknya sendiri.


“Kalau aku patah hati gara-gara cowok lain, nggak mungkin Kak Dylan akan diam saja, Ma. Iya ‘kan, Kak?” Sorot mata Fella kini tertuju pada sang kakak yang sudah menghabiskan roti miliknya.


Dylan yang namanya disebut, terpaksa ikut masuk dalam obrolan adik dan kedua orang tuanya itu. “Em ... tentu, Fella. Kakak nggak akan biarkan kamu terluka karena cowok. Makanya kuliah yang benar, jangan mikir pacaran dulu!” Dylan sempat mengusap kepala Fella sebelum akhirnya berpamitan untuk berangkat ke kantor lebih awal.


**


**


Sampai di rumah, gadis itu tidak disambut oleh Mama Larissa seperti biasa. Sayup-sayup terdengar suara tawa sang ibu dan seseorang yang sepertinya berasal dari arah dapur. Karena penasaran, Fella mengintip ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.


Saat melihat sosok gadis cantik di samping mamanya, hati Fella kembali merasa dongkol. Bagaimana tidak, seseorang yang telah mencuri Dylan darinya itu sedang tertawa bahagia bersama Mama Larissa.


‘Mau apa sih dia di sini? Mau cari muka di depan mamaku?’ batin Fella yang hanya bisa melihat dari balik pintu.

__ADS_1


“Eh, Non Fella sudah pulang?” tanya seorang pelayan yang tiba-tiba muncul di belakang Fella.


Gadis itu menoleh dan langsung mengisyaratkan pelayannya untuk diam karena dia sedang mengintip saat ini. Sayangnya, Mama Larissa dan gadis bernama Deliska yang dibenci Fella itu mengetahui keberadaannya.


“Fella, kamu lagi apa di situ? Sini, Sayang!” Mama Larissa memanggil putrinya itu dengan tangan melambai supaya Fella segera mendekat.


Mau tidak mau Fella menghampiri ibunya yang sedang bersama Deliska itu. “Kenapa, Ma?”


Mama Larissa dan Deliska tampak kompak memakai apron dengan motif yang sama hanya warna saja yang berbeda. Sepertinya Deliska sedang gencar mendekati wanita yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya itu.


“Fel, mama sama Kak Deliska barusan bikin kue, coba kamu cicipi deh! Kak Deliska ini pinter dan rajin banget loh, kamu harus banyak belajar darinya ya!”


Mendengar pujian sang ibu pada gadis yang dibencinya itu, hati Fella jadi semakin dongkol dan membenci Deliska semakin dalam.


‘Ternyata, dia benar-benar ingin merebut perhatian keluargaku. Aku sangat benci dia!’ kata Fella dalam hati.


***


Kembang kopinya dong 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2