Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 40


__ADS_3

Beberapa waktu sudah berlalu dan kini kandungan Fella genap sembilan bulan. Menurut perkiraan dokter, sang buah hati akan lahir minggu depan.


Daffi juga mengetahui perkiraan itu, karena selama ini rajin mengantarkan Fella ketika periksa kandungan. Itu sebabnya, Daffi sudah merancang kepulangannya dengan matang. Dia menyelesaikan semua pekerjaan agar tidak terbengkalai ketika ia tinggal. Minggu depan dia akan pulang lebih lama dari biasanya. Daffi ingin menemani Fella saat lahiran, dan menjaganya selagi kesehatan belum pulih total.


Namun, pagi ini ketika terbangun dari tidurnya, Fella merasa mulas. Awalnya dia pikir hanya efek buang hajat yang tertahan, tetapi sampai tengah hari rasa mulas itu tidak juga hilang, malah semakin lama semakin sering.


"Aduh, kenapa mulas terus sih?" keluh Fella sambil memegangi perutnya yang benar-benar tidak nyaman. Bahkan, dia sampai tidak enak makan, dan hanya menenggak segelas air putih. Sarapan yang dia beli sejak pagi pun masih utuh di dalam piring, sama sekali tidak ia makan.


Di tengah rasa mulasnya, Fella sempat berniat untuk menghubungi Daffi. Namun, ia urungkan karena tahu saat ini Daffi sedang sibuk-sibuknya. Fella tidak ingin mengacaukan jadwal Daffi, apalagi yang dia keluhkan hanya mulas saja. Terlalu sepele jika sampai meminta Daffi untuk pulang.


"Coba tidur dulu aja deh, mana tahu nanti bisa reda."


Fella bangkit dari kursi dan menyimpan kembali makanan yang tidak tersentuh, lalu berjalan menuju kamar sambil memegangi punggungnya yang terasa nyeri.


Tiba di kamar, Fella langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan pelan ia usap perutnya untuk mengurasi rasa mulas yang mengganggu.

__ADS_1


"Ahh," desah Fella setelah cukup lama rebahan, tetapi rasa mulas dan nyeri semakin parah. Malah kini juga disertai rasa sakit di perut bagian bawah.


Fella pun tidak tahan lagi, dan akhirnya pergi ke rumah sakit. Ia juga mengirim pesan untuk Daffi, dan memberitahukan tentang keadaannya saat ini.


Sesampainya di rumah sakit, Fella tercengang ketika mendengar penjelasan dokter. Katanya, mulas dan nyeri yang dia rasakan adalah kontraksi sebelum persalinan.


"Saya akan melahirkan sekarang, Dokter?" tanya Fella.


"Iya, Bu. Tanggal perkiraan memang terkadang sedikit meleset, bisa maju atau mundur."


"Aku harus ngomong sama Kak Daffi," batin Fella dengan perasaan yang tak tenang, hingga tangannya gemetaran ketika mengambil ponsel.


Sementara itu, di ibu kota sana Daffi sedang sibuk memimpin rapat. Dia belum sempat melihat ponsel meski tadi mendengar notifikasi pesan. Pikirnya, sebentar lagi rapat sudah selesai, jadi sekalian nanti saja.


Namun, Daffi tak bisa abai lagi ketika yang masuk bukan sekedar pesan, melainkan panggilan. Daffi bergegas menerimanya, dan langsung disambut dengan suara Fella yang tertahan.

__ADS_1


"Kak, aku akan lahiran."


Mendengar ucapan Fella, mata Daffi membeliak seketika. Saat ini dirinya masih ada di ibu kota, dan sedang memimpin rapat, butuh waktu yang cukup lama untuk tiba di samping Fella.


"Kamu tunggu ya, Fel. Aku akan pulang secepatnya," sahut Daffi sambil menatap peserta rapat yang saat itu juga melihat ke arahnya. Mungkin, mereka keheranan dengan raut wajahnya yang berubah tegang.


Setelah itu, dengan terpaksa Daffi melanjutkan rapat. Namun, dia percepat karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada Fella. Dia sangat khawatir akan kondisi istrinya itu.


"Aku akan segera datang, Fella. Kamu dan anak kita harus baik-baik di sana," batin Daffi ketika rapat sudah berakhir.


Kemudian, Daffi bergegas keluar dari ruangan itu dan bersiap pulang. Di dalam perjalanan, Daffi tidak bisa tenang. Bermacam-macam pikiran buruk menghantuinya, hingga dia terus menggerutu karena tanggal perkiraan yang tidak tepat. Andai saja Fella lahiran minggu depan, tidak perlu merasakan sendirian karena dirinya sudah siaga di rumah. Jika seperti ini, Daffi merasa tak becus sebagai suami.


"Aku akan merasa bersalah kalau terjadi sesuatu denganmu, Fella," gumam Daffi di tengah rasa paniknya.


**

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2