Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 41


__ADS_3

Malam sudah tiba, Daffi baru sampai di rumah sakit tempat Fella berada. Keringatnya bercucuran hingga tampak basah di keningnya. Sepanjang perjalanan dia memang mengkhawatirkan kondisi Fella.


Tidak peduli dengan rasa lelahnya, Daffi langung mencari dokter jaga dan menanyakan keberadaan sang istri. Dokter pun dengan sigap mengantar Daffi ke sana, karena ruangan sudah ditutup, dan tidak boleh sembarangan orang masuk. Jadi, dokter sendiri yang turun tangan membantu Daffi.


Sesampainya di ruang bersalin, hati Daffi seakan tertampar ketika melihat kondisi Fella. Sang istri yang biasa ceria itu kini menangis kesakitan. Air matanya mengucur deras, dan bercampur dengan keringat.


"Sakit, Kak!" rintih Fella sambil mengigit bibir.


"Sabar sebentar ya, Fel, kamu pasti bisa. Aku ada di sini, akan menemani kamu sampai anak kita lahir," jawab Daffi sembari menggenggam erat tangan Fella.


Tidak sampai di situ saja, Daffi juga memeluk Fella, dan membisikkan kata-kata penyemangat. Hingga akhirnya keadaan Fella membaik, dan tak lama kemudian diizinkan mengejan. Setelah tadi hanya kontraksi, dan tidak juga membuka. Sepertinya anak yang dikandung Fella memang menunggu kedatangan Daffi.


"Ahh!"


Fella semakin merintih ketika mulai mengejan. Sekarang bukan hanya punggung dan perut yang sakit, tetapi seluruh tubuh. Fella sampai tidak bisa merasakan di mana pusat sakitnya.


"Ayo, Fel! Sedikit lagi, Fel!" kata Daffi, mengikuti dokter yang memberikan instruksi kepada istrinya.


Yang ada dalam pikiran Daffi hanyalah keselamatan Fella dan bayinya. Ia bahkan tidak peduli meski lengannya memerah karena berulang kali dicengkeram oleh Fella.


"Sakitnya cengkeraman masih nggak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang Fella rasakan," batin Daffi.

__ADS_1


Setelah hampir setengah jam berjuang di antara hidup dan mati, akhirnya Fella berhasil melahirkan bayinya. Makhluk mungil itu langsung menangis saat pertama kali melihat dunia. Fella tersenyum mendengarnya, tidak sia-sia ia mempertaruhkan seluruh tenaga. Kini telah sukses menjadi seorang ibu.


"Fella, kamu berhasil. Anak kita udah lahir," ucap Daffi sambil mengusap keringat yang membasahi kening dan rambut Fella.


"Iya, Kak," jawab Fella dengan suara yang sangat pelan.


Tubuh Fella sangat lemah saat itu, tangan dan kaki sulit digerakkan karena persendian seakan terlepas dari tempatnya. Namun beruntung, dia tidak sampai pingsan, sehingga bisa mendengar tangisan pertama anaknya. Suara yang pasti akan dirindukan di hari-hari nanti.


**


**


Pagi ini, dengan rona wajah yang semringah Daffi masuk ke ruangan sambil membawa kotak makan. Lalu bibirnya terangkat hingga membentuk senyum menawan, ketika melihat sang buah hati berada dalam pangkuan Fella.


"Apa dia bangun?" tanya Daffi sambil mendekati Fella, dan ikut memandangi wajah mungil di hadapannya.


"Iya, tapi setelah aku kasih minum dia tidur lagi," jawab Fella tanpa menatap Daffi, karena wajah anaknya terlalu sayang untuk dilewatkan.


"Dia cantik, Fel, kayak kamu."


Mendengar pujian itu, Fella menunduk. Tiba-tiba wajahnya menghangat dan semerah tomat. Namun, Daffi tidak menyadari itu, dia terlalu fokus dengan si mungil. Wajah yang menggemaskan itu seakan-akan mengandung magnet hingga Daffi tak bisa berpaling.

__ADS_1


"Aku bersyukur dia nggak mirip ayahnya," celetuk Fella beberapa saat kemudian.


Daffi menarik napas panjang. "Iya. Beruntung dia lebih mirip kamu."


Dalam hatinya, Daffi merasa lega karena anak itu tidak mirip Dylan, sehingga dia tidak perlu khawatir orang lain akan curiga. Fella pula memikirkan hal yang sama. Sejauh ini dia masih trauma dengan kejadian waktu itu, dan ingin melupakannya. Semua akan lebih mudah jika anaknya tidak mirip Dylan. Jadi, cukup dia dan Daffi yang tahu bahwa malam itu menyisakan benih di rahimnya.


"Sekarang makan dulu ya, Fel, ini tadi aku bawakan sarapan."


Fella mengangguk. "Iya, Kak."


Layaknya suami istri pada umumnya, Daffi membantu Fella menggendong bayinya dan meletakkan di box. Kemudian mengambilkan sarapan, dan menyuapinya.


Awalnya Fella menolak karena merasa malu, tetapi Daffi bersikeras melakukannya.


"Kamu belum sehat, Fel, anggap saja ini bentuk tanggung jawabku sebagai suami."


Jawaban Daffi membuat Fella merasa gugup. Debar-debar aneh yang pernah ada, kini kembali terasa dalam hatinya. Hingga Fella berpikir bagaimana nanti jika mereka berpisah, sedangkan selama ini sudah terbiasa dengan perhatiannya.


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2