
Fella terbangun dengan perasaan bahagia yang sangat besar. Dia juga merasa bangga karena bisa menjadikan kakaknya yang pertama kali menyatu dengannya.
Entah bagaimana pemikiran gadis itu, yang jelas dia sama sekali tidak menyesal sudah melakukan hal terlarang bersama sang kakak. Bagi Fella, Dylan adalah seorang laki-laki biasa yang patut diperjuangkan, bukan sebagai kakak yang tidak seharusnya dicintai. Dia tidak pernah menganggap Dylan sebagai kakaknya, tidak pernah.
Tangan Fella sibuk membelai dan mengusap dada bidang lelaki itu. Matanya tak berkedip memperhatikan ketampanan seorang Dylan yang saat ini tidur tanpa busana, di sampingnya.
“Kak Dylan, aku bahagia karena aku sudah menyerahkan sesuatu yang sangat berharga buat kamu. Setelah ini, apa kamu masih tetap menolakku? Bukankah tadi malam ... kamu begitu puas?”
Fella benar-benar seperti wanita yang tidak waras. Dia tersenyum karena kehilangan sesuatu yang seharusnya membuatnya sedih.
Dia gagal menjaga mahkota yang seharusnya dipersembahkan untuk suami masa depannya dan dia malah merasa bangga. Hal yang sama sekali tidak dibenarkan atas nama cinta sekali pun.
Fella terus memperhatikan wajah tampan Dylan yang tenang, seolah tidak pernah merasa puas karena pesona sang kakak. Sampai tiba-tiba sebuah panggilan masuk di ponsel Dylan membuat Fella menghentikan khayalannya yang terlalu tinggi.
__ADS_1
Gadis itu meraih ponsel sang kakak yang terus mengganggunya. Saat melihat nama Deliska, Fella membulatkan mata lebar-lebar.
Dia lagi, kenapa sih dia selalu mengganggu? Mau apa lagi dia?
Fella menjawab panggilan video dari tunangan sang kakak yang seharusnya besok menjadi kakak iparnya.
“Fella, kok kamu yang angkat telfonnya. Kakak kamu mana?” tanya Deliska yang muncul dengan wajah berbinar di layar ponsel milik Dylan.
“Kamu cari Kak Dylan?” Fella akhirnya buka suara. “Dia masih tidur!”
Gadis itu benar-benar ketus terhadap Deliska yang sama sekali tidak berbuat jahat dengannya. Fella sudah menganggap Deliska sebagai ancaman karena Deliska adalah wanita yang dicintai oleh kakaknya itu.
“Oh, dia masih di kamarnya ya? Aku boleh minta tolong panggilkan dia nggak? Aku tiba-tiba galau pengen dengar suaranya aja, Fel,” ungkap Deliska.
__ADS_1
Gadis cantik yang merupakan calon istri Dylan itu sebenarnya sudah merasakan firasat buruk yang tidak mengenakkan hati sejak kemarin. Namun, saat menelepon Dylan, laki-laki itu tidak mengatakan apa pun yang mencurigakan. Dylan hanya bilang sedang membujuk adiknya yang tengah merajuk.
Fella mengulas senyum kecut. Dia mengira Deliska terlalu naif dan menjijikkan di matanya. “Kak Dylan lagi tidur pulas di samping aku. Aku nggak tega mau banguninnya,” timpal Fella yang kemudian sengaja menunjukkan pada Deliska wajah tampan Dylan yang terlelap.
Mata Deliska memicing, memperhatikan lebih jelas wajah calon suaminya. Pikirannya pun mulai melayang. Kenapa Fella dan Dylan tidur di kamar yang sama?
“Kalian tidur sekamar?”
“Ya, tadi malam aku memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk Kak Dylan,” kata Fella sembari mengarahkan kamera ponsel itu agar bisa melihat lebih jauh bahwa dia dan Dylan sedang dalam keadaan yang tidak baik. Tidur di bawah selimut yang sama tanpa busana. Parahnya, Fella juga memamerkan tanda merah keunguan yang merupakan hasil karya Dylan di tubuhnya.
“Ka-kalian! Apa yang kalian lakukan?” pekik Deliska setelah menyadari ada yang salah pada dua kakak beradik itu. Dia begitu kecewa pada Dylan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Sementara Fella malah dengan bangga memamerkan perbuatan mereka yang menjijikkan.
***
__ADS_1