
Fella membuang muka menghindari tatapan mata Daffi yang terkesan sedang menginterogasinya. Dia tak ingin menceritakan kisah yang hanya menjadi luka.
“Sebenarnya, kalau memang kamu hamil dengan kakakmu, aku mau membantu kamu lepas dari masalah ini,” ungkap Daffi bersungguh-sungguh.
Manik mata Fella seketika membulat sempurna mendengar pernyataan Daffi yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa laki-laki itu ingin membantunya lepas dari masalah. Memangnya dia siapa?
“Maksud kamu apa? Kita baru kenal ya Kak Daffi,” sanggah Fella yang mulai naik pitam. “Jangan ikut campur dengan urusanku!”
Daffi memang jauh lebih tua dari Fella. Dia juga berasal dari kota yang sama dengannya, tetai bukan berarti Daffi bisa seenaknya ikut campur dalam urusannya.
“Aku tahu kamu pasti salah paham. Aku cuma mau melindungi anak kamu aja. Dia pasti butuh sosok ayah, dan nggak mungkin kakakmu mau menjadi ayahnya, 'kan?”
Fella tersenyum sinis karena pernyataan konyol yang Daffi lontarkan.
“Sebenarnya, aku juga butuh kamu buat bantu masalah aku. Mungkin saja kita bisa saling membantu, apalagi anak kamu juga butuh sosok seorang ayah, 'kan?”
__ADS_1
Kening Fella kian berkerut. Ucapan Daffi jelas sekali menyiratkan bahwa laki-laki itu ingin menjadi ayah untuk janin yang bukan darah dagingnya. Namun, bukankah mereka baru saling mengenal, sehingga sangat tidak masuk akal jika Daffi mau berbuat baik demi bayi orang lain.
“Nggak usah bercanda. Ini bukan lelucon!” Sorot mata Fella jelas sekali memperlihatkan bahwa dia tidak menyukai perilaku Daffi padanya. Dia pikir Daffi sedang mencemooh kondisinya yang hamil tanpa suami, apalagi anak dari kakaknya sendiri.
“Lihat mata aku, apa aku kelihatan bercanda?” tanya Daffi dengan mimik muka yang sangat serius. “Nenek aku minta aku buat nikah secepatnya. Tapi, bulan lalu pacar aku ketahuan selingkuh dan aku nggak bisa kasih tahu nenekku!”
Fella kembali tertawa dengan sinis. Apa yang Daffi ceritakan itu sangat tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat.
“Ini bukan jaman Siti Nurbaya Kak Daffi. Apalagi kalau nenek kamu sudah tahu tentang pacar kamu, mana mungkin dia menerima aku sebagai istrimu. Bukankah kita akan membohongi nenekmu?” tanya Fella sebelum kembali menikmati minumannya. “Sudahlah jangan mengarang cerita! Aku rasa kamu sangat tidak cocok menjadi seorang pengarang. Ceritamu sangat buruk tapi anggap saja aku terhibur!”
Ucapan Daffi begitu terngiang di telinga Fella, memaksa wanita itu untuk berpikir tentang kemungkinan buruknya. bisa saja yang dikatakan oleh laki-laki di hadapannya itu akan menjadi kenyataan.
Sepertinya, Daffi memang bukan orang sembarangan. Dari mana dia tahu tentang keluargaku yang berada di ibukota? Lalu sebenarnya apa tujuan dari laki-laki ini?
“Itu biar menjadi urusanku sendiri!”
__ADS_1
Fella merasa Daffi terlalu ikut campur dengan masalahnya. Padahal, sebenarnya Daffi memang memiliki masalah yang mungkin bisa menjadi solusi untuk masalah Fella juga.
Fella berjalan cepat untuk kembali ke tempat tinggalnya. wanita itu meninggalkan Daffi yang terus mengekor di belakangnya.
Sepertinya Fella memang sulit mempercayaiku. Padahal aku bisa membantunya dan dia juga bisa membantu masalahku.
Kedua insan itu menyusuri jalan yang sama, juga berjalan ke arah yang sama. Namun, tidak seperti saat berangkat yang jalan berdampingan, Fella dan Daffi justru berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Keduanya sedang tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.
Sampai akhirnya, mereka sampai di tempat kost mereka di mana beberapa orang sudah menunggu di depan pintu kamar Daffi.
Fella memperhatikan mereka dengan penasaran. Seorang wanita tua dengan rambut penuh uban, tengah duduk di teras kamar kost Daffi sambil mengibaskan kipasnya.
“Nenek! Kok ke sini!”
***
__ADS_1
kembang Kopinya jangan lupa guys 💋💋💋