Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 48


__ADS_3

Keesokan harinya, Fella memutuskan untuk menjenguk Mama Larissa. Tak tega dia jika pura-pura tidak tahu atas kabar sakitnya wanita itu.


Selain melihat keadaan Mama Larissa, Fella juga ingin berterus terang tentang statusnya sekarang. Dia akan mengakui Daffi dan Fidela sebagai suami dan anaknya. Daffi pun tidak keberatan, malah dengan senang hati dia menemani Fella ke sana.


"Kamu pasti bisa, Sayang," kata Daffi sambil mengusap lembut punggung tangan Fella.


Fella mengangguk, dan setelah itu menarik napas panjang. Meski sudah semalaman Daffi meyakinkannya, tetapi rasa khawatir masih juga ada. Kejadian lalu memang sangat kelam, membuatnya trauma hingga saat ini.


"Ayo!" ajak Daffi. Ia menarik ujung bibirnya, dan membentuk lengkung senyum yang menawan, Fella pun merasa tenang dan berani melangkah turun dari mobil.


Kemudian, keduanya berjalan bersama menuju ruangan tempat Mama Larissa dirawat, dan Fella merasa lega karena tidak ada siapa pun di sana. Hanya perawat yang saat itu menjaga ibunya.


Fella masuk hanya bersama Fidela, sedangkan Daffi masih menunggu di luar. Hati Fella tersentuh ketika melihat ibunya terbaring lemah di sana.


"Fella. Ini benar kamu, Nak?"


Mata Mama Larissa berbinar ketika menyambut kedatangan Fella. Seorang anak yang sejak lama ia rindukan, sekarang benar-benar berdiri di hadapannya. Semangat untuk sembuh pun kembali bangkit saat itu juga. Demi apa dia masih bisa melihat Fella dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Gimana keadaan Mama? Maafin Fella ya, baru sekarang bisa jenguk Mama," ucap Fella ketika sudah duduk di samping Mama Larissa.


Bukannya menjawab lagi, Mama Larissa malah menangis haru. Cukup lama, hingga akhirnya Fella pun ikut menangis.


"Fella, siapa dia?" tanya Mama Larissa setelah berhenti menangis. Ia tersadar jika Fella tidak datang sendirian, tetapi bersama makhluk kecil yang masih dalam gendongan.


Fella menunduk dan menatap Fidela sesaat, lalu kembali menatap ibunya sambil tersenyum.


"Dia anakku, Ma, namanya Fidela. Selama kita tinggal berjauhan, aku bertemu dengan lelaki, namanya Daffi. Kami saling mencintai, dan akhirnya menikah. Ini adalah anak pertama kami. Maaf ya, hal sebesar ini aku simpan sendiri, dan baru ngomong sekarang."


Mama Larissa semakin terharu. Tak disangka Fella sudah memberikan cucu pertama untuknya. Dengan senyum dan air mata yang saling beriringan, Mama Larissa membelai lembut pipi Fidela, juga mengajaknya berbicara. Fella bahagia melihatnya, ternyata kehadiran Fidela diterima dengan baik oleh ibunya, walaupun harus berbohong tentang identitas ayah biologisnya.


Mendengar ucapan maaf dari ibunya, Fella merasa miris. Secara tidak langsung, ia dipaksa lagi mengingat kebodohannya di waktu lalu.


"Sudah, Ma, jangan diungkit lagi. Fella juga minta maaf, hanya mengedepankan ego sampai membuat kesalahan sebesar itu," jawab Fella setelah berhasil menenangkan diri.


Ucapan Fella hanya mendapat anggukan dari Mama Larissa. Selanjutnya keduanya hanya diam, dan yang terdengar sekedar embusan napas berat. Hingga tak lama kemudian, Mama Larissa mengucapkan kalimat serius, yang langsung membuat Fella membelalakkan mata.

__ADS_1


"Sebenarnya ada hal yang ingin Mama sampaikan ke kamu. Sebuah rahasia yang dulu Mama simpan dengan rapat. Sekarang Mama sadar kalau kamu juga berhak tahu soal itu."


"Rahasia apa, Ma?" Dengan sedikit ragu Fella memberanikan diri untuk bertanya.


Dulu dia selalu berharap ada rahasia antara dirinya dengan Dylan. Namun sekarang, ia tak lagi menginginkan itu. Dia sudah bahagia dengan Daffi. Akan tetapi, ucapan ibunya barusan membuat Fella berpikir kembali soal itu.


"Sebenarnya, kamu bukan anak kandung Mama atau Papa, juga bukan adik kandung Dylan. Kamu dengan kami sama sekali tidak ada hubungan darah."


Ibarat halilintar yang menyambar, perkataan Mama Larissa sangat mengejutkan Fella. Sampai dia terpaku dengan lidah yang kelu, dan akhirnya hanya bisa diam sambil menerawang ke masa lalu.


Pada saat itu, Fella sangat mengejar kenyataan ini demi bisa bersama Dylan, tetapi ibunya selalu menegaskan bahwa mereka saudara kandung, bahkan sampai dirinya melakukan kesalahan yang paling fatal, kenyataan itu tidak berubah.


Sekarang saat hidup Fella sudah bahagia bersama Daffi, dan bisa melupakan perasaannya terhadap Dylan, Mama Larissa justru membeberkan kenyataan yang berbeda.


"Kamu adalah anak pembantu di rumah kami, Fella. Orang tuamu kecelakaan ketika Mama akan melahirkan adiknya Dylan. Celakanya, orang tuamu meninggal di tempat, dan anak Mama juga meninggal beberapa menit setelah lahir. Akhirnya, Mama mengasuh kamu dan menganggap kamu sebagai anak kandung Mama. Usiamu saat itu belum genap satu bulan, jadi Dylan pun menganggap kamu adalah adik kandungnya. Karena ketika pulang dari rumah sakit, Mama sudah membawa kamu. Maafkan Mama, Fella, menyembunyikan rahasia ini sampai begitu lama," ucap Mama Larissa, mengungkap rahasia keluarga dengan gamblang.


Fella tak bisa berkata-kata, hanya tangannya yang semakin erat mendekap Fidela dalam gendongannya. Satu per satu kalimat yang diucapkan ibunya, berhasil membuat batin dan pikirannya kacau. Hingga dia tak tahu apa yang akan dilakukan setelah itu.

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋 jempolnya ditinggal ya gaess 🤗🤗


__ADS_2