
Setelah dua hari menunggui neneknya, siang ini Daffi kembali ke rumah, dan bertemu lagi dengan sang istri. Kedatangannya disambut dengan senyum dan rona wajah yang semringah.
"Baik-baik aja kan selama aku nggak ada?" tanya Daffi. Matanya tak henti menatap wajah Fella yang terlihat lebih cantik dari hari lalu.
"Baik, Kak. Dia juga nggak rewel," jawab Fella sambil mengusap perutnya yang membuncit.
Melihat sikap Fella yang seperti itu, Daffi tidak ragu lagi untuk menyentuh perut istrinya. Daffi pun membungkuk dan memosisikan tubuhnya sejajar dengan perut Fella. Lalu meletakkan tangannya di sana, dan mengusapnya dengan lembut. Tanpa diduga, ternyata ia mendapat respon dari makhluk kecil yang ada di dalam sana.
"Dia nendang, Fel!" teriak Daffi ketika merasakan tendangan dari bayi Fella. Hingga bibirnya mengulas senyum lebar, dan perasaannya ikut menghangat karena tendangan itu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Fella. Dia merasa bahagia karena mendapat perhatian lebih dari Daffi. Setelah cukup lama hidup sendiri, dan dicampakkan oleh orang-orang sekitar, akhirnya sekarang ada yang peduli dengannya. Walaupun nanti ada perpisahan di antara mereka, tetapi setidaknya kini Daffi menjadi suami yang bertanggung jawab dan penuh perhatian.
"Kok malah bengong?"
__ADS_1
Fella tersentak dengan teguran Daffi. Terlalu senang memikirkan perhatian suaminya, Fella sampai tak sadar jika sudah berulang kali Daffi mengajaknya bicara.
"Mmm, nggak kok. Aku cuma ngerasain tendangan dia aja," ucap Fella sambil membentuk lengkung senyum, agar Daffi tak sadar dengan kegugupannya.
Akan tetapi, suara yang sedikit terbata-bata membuat Daffi langsung paham dengan apa yang dirasakan Fella saat itu. Sebuah kegugupan yang pada akhirnya menghadirkan getaran-getaran aneh dalam dirinya sendiri.
Tak ingin terhanyut dalam perasaan anehnya, Daffi mengalihkan topik pembicaraan. Dia menanyakan masakan Fella hari ini, yang katanya sudah disediakan sejak tadi. Fella sengaja memasak karena tahu dirinya akan pulang.
"Semua udah aku siapkan di meja, cuma tinggal minumnya yang belum. Kak Daffi tunggu aja di sana, aku buatkan sebentar," kata Fella ketika mereka berjalan menuju meja makan.
"Masakanmu selalu enak, Fel. Nggak pernah hambar, nggak pernah terlalu asin atau pedas. Pas pokoknya," puji Daffi saat sesuap makanan sudah masuk ke mulutnya.
"Kak Daffi berlebihan deh," sahut Fella dengan pipi yang bersemu merah.
__ADS_1
Usai memberikan pujian yang dilanjut dengan obrolan ringan, Daffi mengembuskan napas panjang dan mulai bicara serius.
"Fel, maaf ya setelah ini aku nggak bisa setiap hari menemani kamu. Nenek masih sakit, jadi nggak bisa ngurus kerjaan. Harus aku yang turun tangan, dan menghandle semuanya. Meski agak berat, tapi aku harus melakukan ini. Karena jika tidak, nanti malah sepupu-sepupu Papa memanfaatkan kesempatan. Aku nggak rela kalau perusahaan sampai diambil alih sama mereka. Itu adalah aset Nenek yang diwariskan untuk Mama, sama sekali nggak ada hubungannya dengan saudara-saudara Papa. Itu adalah murni hakku, dan aku harus mempertahankan itu," ucap Daffi sambil menatap Fella dengan lekat.
Fella tersenyum manis. "Iya, Kak, aku paham kok. Aku sangat mendukung niat kamu ini. Kamu nggak usah khawatirin aku yang sendirian, semua fasilitas dan kebutuhan sudah tersedia dengan lengkap. Aku pasti baik-baik aja di sini."
"Makasih ya kamu mau ngertiin aku. Nanti secara berkala aku juga akan pulang, entah seminggu sekali atau gimana. Kalau pas aku nggak ada, selalu kasih kabar jika ada apa-apa. Meskipun di sana mengurus banyak kerjaan, tapi nanti ponselku akan selalu nyala. Jadi, kapan pun kamu bisa, hubungi aku ya." Daffi menggenggam tangan Fella sekilas, serta memberikan usapan lembut untuk menenangkannya.
Sejak hari itu, jadwal keseharian Daffi selalu padat. Dia sering bolak-balik dari Jakarta ke rumah. Di samping tuntutan pekerjaan di perusahaan, dia ada istri yang harus dijaga. Selain itu, dia juga punya restoran yang kadang kala harus dikunjungi. Jadi, dia tidak bisa menetap di ibu kota.
Namun, Daffi tidak mengeluh apalagi merasa keberatan. Pulang dan bertemu Fella adalah semangat tersendiri baginya. Saat-saat ketika dia menikmati masakan Fella, juga merasakan tendangan di perutnya, terkadang menjadi sesuatu yang ia rindukan.
Di sisi lain, Fella juga tidak banyak menuntut. Meski dia lebih senang jika ada Daffi, tetapi tidak mau egois. Apalagi jika mengingat tentang hubungan mereka, pernikahan tanpa cinta yang mungkin akan bercerai ketika habis waktunya. Fella harus tahu diri dan tidak mengharap yang macam-macam.
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋